ISI DPSISI DPS

Lekesan: Interdisciplinary Journal of Asia Pacific ArtsLekesan: Interdisciplinary Journal of Asia Pacific Arts

Media fotografi visual diprioritaskan untuk menyajikan informasi aktual dan faktual sebagai media berita dan seni, dan Visual Poetry adalah karya seni yang menggabungkan dua media visual dan verbal sebagai satu karya. Tujuan penelitian ini adalah membuat karya fotografi still life dan makna karya foto sebagai media Visual Poetry. Objek foto adalah tentang kondisi Lumpur Lapindo di Porong Sidoarjo Indonesia, yang telah diabaikan selama bertahun-tahun tanpa penanganan serius. Metode pembuatan menggunakan metode fotografi dengan memotret objek alami. Metode pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi secara offline dan online. Pembahasan makna menggunakan teori semiotika Roland Barthes. Hasil dari penciptaan ini adalah menangkap fenomena visual yang kemudian dikonversi menjadi kata-kata dan akhirnya dirangkai menjadi puisi. Makna karya foto akhir berasal dari media visual dan verbal yang disajikan bersama, dan tentu saja tetap terbuka untuk makna yang bebas dari penonton. Karya Visual Poetry digunakan sebagai kritik sosial terhadap kondisi Lumpur Lapindo yang diabaikan secara fisik dan sosial. Kesimpulan dari penciptaan ini adalah bahwa media visual dan verbal memiliki kelebihan dan keterbatasan masing-masing, tetapi dapat digabungkan menjadi karya dan makna baru.

Visual Poetry dengan media Fotografi Still Life adalah wujud ide, imajinasi, kreativitas diri, dan ekspresi emosional yang dicapai melalui proses panjang penciptaan seni.Menerjemahkan ide yang telah dikembangkan ke dalam bentuk lain juga memerlukan proses yang tidak mudah.Menciptakan karya seni harus dilakukan dengan observasi, pengembangan ide, dan mewujudkannya, membutuhkan konsistensi dan disiplin tinggi untuk dilaksanakan dengan baik dan lancar.Desain karya yang dihasilkan dipilih dan disesuaikan dengan konsep dasar yang telah ditetapkan.Proses pemilihan diarahkan sebagai bentuk kritik sosial tentang tempat/objek terlantar di kota Surabaya dan sekitarnya.Disadari bahwa puisi yang dibuat dapat menyempitkan makna visual yang ada, tetapi visual juga memiliki keterbatasan dalam menyampaikan pesan.Sehingga makna ke pembuatan puisi sebenarnya adalah upaya menafsirkan penampilan visual dengan satu perspektif.Perspektif ini bersifat subyektif dan dapat menjadi perspektif baru bagi orang lain yang melihat karyanya.

Untuk penelitian lanjutan, dapat dipertimbangkan beberapa saran berikut: Pertama, melakukan studi lebih mendalam tentang dampak sosial dan lingkungan dari Lumpur Lapindo, serta mengidentifikasi solusi potensial untuk mengatasi masalah ini. Kedua, mengeksplorasi penggunaan fotografi still life sebagai media untuk menyampaikan pesan sosial dan politik yang lebih luas, bukan hanya terbatas pada kritik sosial. Ketiga, meneliti lebih lanjut tentang interaksi antara fotografi dan puisi dalam konteks Visual Poetry, termasuk bagaimana keduanya dapat saling memperkuat dan menciptakan makna baru. Dengan menggabungkan studi tentang dampak sosial, penggunaan fotografi sebagai media pesan, dan interaksi antara fotografi dan puisi, penelitian lanjutan dapat memberikan kontribusi yang lebih komprehensif terhadap pemahaman kita tentang peran seni dalam kritik sosial dan komunikasi visual.

  1. Still-life Photography as Visual Poetry Media for Social Criticism of Lumpur Lapindo | Lekesan: Interdisciplinary... jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/lekesan/article/view/2083Still life Photography as Visual Poetry Media for Social Criticism of Lumpur Lapindo Lekesan Interdisciplinary jurnal isi dps ac index php lekesan article view 2083
Read online
File size958.14 KB
Pages19
DMCAReport

Related /

ads-block-test