ISI DPSISI DPS

Lekesan: Interdisciplinary Journal of Asia Pacific ArtsLekesan: Interdisciplinary Journal of Asia Pacific Arts

Pertunjukan Wayang Parwa dalam tiga dekade terakhir semakin langka di masyarakat. Pertunjukan ini berasal dari epos Mahabharata dan diiringi gamelan Gender Wayang, yang merupakan salah satu yang tertua di Bali. Wayang Parwa biasanya digunakan sebagai dasar pembelajaran menjadi dalang dalam pendidikan formal maupun non-formal. Di Bali, terdapat empat gaya Wayang Parwa: Gaya Bebadungan, Gaya Sukawati, Gaya Tunjung, dan Gaya Buleleng (Bali Utara). Salah satu gaya yang paling digemari adalah gaya Bebadungan, yang tersebar di enam kabupaten/kota di Bali, seperti Tabanan, Negara, Klungkung, Bangli, Karangasem, dan Kota Denpasar. Di tengah gempuran teknologi dan berbagai bentuk hiburan lainnya di masyarakat serta media sosial, keberadaan Wayang Parwa gaya Bebadungan, yang terkenal lemah dalam Tetikesan (gerakan wayang), kian memudar. Untuk menjaga keberadaan pertunjukan Wayang Parwa gaya Bebadungan di era globalisasi, diperlukan upaya konservatif, yaitu melalui pelatihan. Mengingat banyak dalang muda saat ini yang lemah dalam teknik Tetikesan dalam pertunjukan Wayang Parwa gaya Bebadungan, perlu adanya pendalaman terhadap teknik tersebut. Pelatihan akan difokuskan di Sanggar Majalangu dengan metode pembelajaran yang instruksional, terstruktur, bertahap, dan inovatif, serta membandingkan teknik Tetikesan dengan gaya-gaya Wayang Parwa lainnya yang dapat dilihat melalui media sosial. Pelatihan ini diharapkan dapat menjawab opini publik bahwa kelemahan pertunjukan Wayang Parwa gaya Bebadungan terletak pada aspek Tetikesan.

Tetikesan memiliki peran penting dalam meningkatkan estetika pertunjukan Wayang Parwa gaya Bebadungan.Tetikesan mencakup seluruh ranah gerakan dalam pertunjukan tersebut, yang berasal dari gerakan murni maupun simbolik.Pelatihan Tetikesan perlu ditingkatkan di masa depan untuk mengatasi stigma masyarakat bahwa Tetikesan merupakan kelemahan utama dalam pertunjukan Wayang Parwa gaya Bebadungan.

Pertama, perlu dilakukan penelitian tentang efektivitas metode pembelajaran Tetikesan berbasis rekaman media sosial dibandingkan dengan metode tradisional secara langsung dari dalang ahli, untuk mengetahui pendekatan mana yang lebih meningkatkan keterampilan gerak dalang pemula. Kedua, sebaiknya dikembangkan kurikulum pelatihan standar untuk Tetikesan Wayang Parwa gaya Bebadungan yang dapat digunakan secara luas di sanggar-sanggar lain, agar konsistensi teknik dan estetika tetap terjaga meskipun diajarkan oleh pelatih berbeda. Ketiga, perlu dilakukan studi mendalam mengenai bagaimana integrasi elemen musik Gender Wayang dengan ritme gerakan Tetikesan memengaruhi persepsi penonton terhadap karakter tokoh, guna memperkuat hubungan antara musik, gerak, dan narasi dalam pertunjukan tradisional ini. Ketiga saran ini dapat membantu melestarikan dan mengembangkan seni Wayang Parwa gaya Bebadungan secara sistematis, menjamin keberlangsungan nilai budaya dan relevansi di tengah perkembangan zaman. Penelitian lanjutan ini akan memperdalam aspek teknis, pedagogis, dan estetika yang saling terkait dalam seni pedalangan, sehingga tidak hanya menjawab kelemahan saat ini namun juga membuka peluang inovasi yang tetap menjaga identitas budaya. Dengan pendekatan ilmiah dan praktis, upaya ini dapat menjadi fondasi bagi revitalisasi seni tradisional yang berkelanjutan.

  1. TETIKESAN PRACTICAL TRAINING OF WAYANG PARWA BEBADUNGAN STYLE PERFORMANCE IN SANGGAR MAJALANGU | Lekesan:... jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/lekesan/article/view/2805TETIKESAN PRACTICAL TRAINING OF WAYANG PARWA BEBADUNGAN STYLE PERFORMANCE IN SANGGAR MAJALANGU Lekesan jurnal isi dps ac index php lekesan article view 2805
Read online
File size246.69 KB
Pages11
DMCAReport

Related /

ads-block-test