USN LAMPUNGUSN LAMPUNG

Journal Of Agrotech And Natural FarmingJournal Of Agrotech And Natural Farming

Kebutuhan selada terus meningkat harus diimbangi dengan luas lahan. Hidroponik rakit apung merupakan teknik budidaya tanaman secara alternatif untuk mengatasi penurunan lahan dengan memanfaatkan air sebagai media tanamnya. AB Mix merupakan nutrisi yang harganya relatif mahal sehingga dapat meningkatkan biaya produksi. Penambahan nutrisi POC kulit pisang kepok diharapkan dapat mengurangi pemberian AB Mix. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi POC kulit pisang kepok terhadap pertumbuhan tanaman selada (Lactuca sativa L.) pada sistem hidroponik rakit apung. Penelitian dilaksanakan pada bulan September–Januari 2025 menggunakan metode eksperimen dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK), 4 ulangan, 6 taraf perlakuan, yaitu: P0 = 100% AB Mix, P1 = 50% AB Mix 10 ml/L POC, P2 = 50% AB Mix 20 ml/L POC, P3 = 50% AB Mix 30 ml/L POC, P4 = 50% AB Mix 40 ml/L POC, dan P5 = 50% AB Mix 50 ml/L POC. Analisis data menggunakan uji homogenitas ragam dan uji aditivitas; bila ragam homogen dan data aditif, maka data diolah dengan sidik ragam dan dilanjutkan dengan uji ortogonal serta ortogonal polinomial pada taraf nyata 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian POC kulit pisang kepok dengan konsentrasi tinggi dapat menekan pertumbuhan. Perlakuan terbaik adalah P1, yaitu 50% AB Mix dan 10 ml/L POC kulit pisang kepok.

Pertumbuhan tanaman selada keriting pada sistem hidroponik rakit apung dengan larutan AB Mix lebih baik dibandingkan dengan penambahan POC kulit pisang kepok.Pemberian POC kulit pisang kepok tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah daun dan panjang akar tanaman selada.Perlakuan terbaik diperoleh pada konsentrasi 50% AB Mix dan 10 ml/L POC kulit pisang kepok dengan pertumbuhan tinggi tanaman 32,06 cm, berat basah 19,50 gram, dan diameter batang 5,54 mm.

Pertama, perlu dilakukan penelitian tentang pengaruh formulasi POC kulit pisang kepok dengan konsentrasi lebih rendah dari 10 ml/L untuk mengetahui apakah dosis sangat rendah justru dapat memberikan stimulasi pertumbuhan tanpa menekan kinerja tanaman. Kedua, penting untuk mengkaji kombinasi POC kulit pisang kepok dengan jenis nutrisi organik lain seperti EM4 atau molase dalam sistem hidroponik, guna memahami sinergi antar bahan organik dalam mendukung pertumbuhan selada secara optimal. Ketiga, sebaiknya diteliti perubahan kualitas larutan nutrisi sepanjang masa tanam, termasuk kandungan hara, pH, dan kadar oksigen terlarut saat penambahan POC kulit pisang kepok, agar dapat diketahui mekanisme fisiologis yang menyebabkan penekanan pertumbuhan pada konsentrasi tinggi. Studi-studi ini akan membantu merancang sistem nutrisi hidroponik berbasis organik yang lebih efisien, murah, dan ramah lingkungan. Penelitian lebih lanjut juga perlu mengevaluasi aspek ekonomis dari penggunaan POC kulit pisang kepok dalam skala besar. Dengan pendekatan ilmiah yang komprehensif, pemanfaatan limbah organik dapat diwujudkan secara nyata dalam pertanian perkotaan berkelanjutan. Temuan dari penelitian lanjutan bisa menjadi dasar pengembangan panduan budidaya hidroponik bagi petani pemula. Selain itu, perlu pertimbangan terhadap variasi genetik tanaman selada yang mungkin memiliki respons berbeda terhadap nutrisi organik. Akhirnya, integrasi sistem hidroponik dengan pengolahan limbah rumah tangga bisa menjadi arah pengembangan urban farming. Dengan demikian, limbah bukan lagi menjadi masalah, melainkan sumber daya bernilai tinggi.

Read online
File size141.42 KB
Pages5
DMCAReport

Related /

ads-block-test