ISI SURAKARTAISI SURAKARTA

OrnamenOrnamen

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kesenjangan antara tren visual generasi Z yang cenderung dinamis, personal, dan berbasis budaya populer dengan desain batik konvensional yang sarat aturan simbolik dan pakem tradisi. Ketidaksinkronan ini berpengaruh pada minat remaja dalam mengenali dan mempraktikkan batik sebagai bagian dari identitas budaya. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi karakter visual Gen Z serta mengadaptasikannya ke dalam perancangan motif batik cap handmade di lingkungan pendidikan menengah. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif melalui wawancara, observasi proses workshop, dan dokumentasi karya siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa remaja lebih tertarik pada motif sederhana, repetitif, dan berbasis bentuk simbolik yang dekat dengan keseharian, dengan penggunaan warna cerah atau pastel yang mencerminkan ekspresi diri. Adaptasi karakter visual Gen Z dalam batik terbukti mampu meningkatkan partisipasi, kreativitas, dan pemaknaan budaya pada siswa. Temuan ini memberikan implikasi terhadap pengembangan model pembelajaran batik yang lebih eksploratif, kontekstual, dan inovatif dalam mendukung pelestarian batik di kalangan generasi muda.

Penelitian ini menunjukkan bahwa karya batik yang dihasilkan oleh remaja menampilkan perpaduan antara nilai budaya tradisional dengan ekspresi visual modern yang mencerminkan identitas generasi muda.Motif yang dipilih bersifat lebih personal dan ekspresif, didukung oleh pemilihan warna dengan tren estetis Gen Z, seperti penggunaan palet cerah.Hal ini menunjukkan bahwa batik bagi remaja bukan sekedar produk budaya warisan, tetapi media ekspresi diri yang mampu mengartikulasikan pengalaman visual dan gaya hidup kontemporer.Eksplorasi batik di kalangan peserta didik berpotensi menjadi strategi pelestarian budaya yang adaptif, relevan, dan berorientasi pada perkembangan zaman.Pembelajaran batik di lingkungan pendidikan menengah disarankan menerapkan model pembelajaran eksploratif yang memberi ruang bagi peserta didik untuk merancang motif berdasarkan pengalaman visual.Pengembangan bahan ajar hendaknya mempertimbangkan tren visual generasi muda, seperti estetika media sosial, grafis digital, dan budaya populer, agar pembelajaran lebih kontekstual, dan bermakna.

Berdasarkan hasil penelitian, disarankan untuk mengembangkan model pembelajaran batik yang lebih eksploratif dan kontekstual, dengan mempertimbangkan tren visual generasi muda. Hal ini dapat dilakukan melalui integrasi antara warisan visual tradisi dan inovasi desain yang berorientasi pada generasi muda. Selain itu, penelitian ini juga menunjukkan bahwa batik dapat menjadi media ekspresi diri yang modern dan personal, sehingga penting untuk mengembangkan bahan ajar yang mempertimbangkan estetika media sosial, grafis digital, dan budaya populer. Dengan demikian, pembelajaran batik dapat menjadi lebih relevan dan bermakna bagi generasi muda, serta mendukung pelestarian budaya secara adaptif dan inovatif.

Read online
File size778.58 KB
Pages17
DMCAReport

Related /

ads-block-test