UMRAHUMRAH

Jurnal Intek AkuakulturJurnal Intek Akuakultur

Individu jantan Betta splendens memiliki warna dan bentuk yang digemari di pasar ikan hias dibandingkan betina. Karena itu budidaya cupang dapat dilakukan melalui produksi jantan menggunakan teknologi seks reversal dalam mengarahkan perkembangan kelamin ikan menjadi jantan (maskulinisasi). Bahan alami yang telah digunakan untuk maskulinisasi ikan adalah madu. Karena itu tujuan penelitian adalah mengkaji penggunaan madu melalui perendaman embrio untuk maskulinisasi ikan cupang. Keberhasilan maskulinisasi dianalisis melalui karakteristik madu, persentase ikan jantan, tingkat penetasan telur, mortalitas tiap 15 hari, dan sintasan pada akhir pemeliharaan. Embrio yang digunakan berumur 20 jam setelah pembuahan. Perlakuan penelitian adalah perendaman embrio cupang di dalam larutan madu (mL L-1) 5, 10, 15, 20, dan 25. Perendaman dilakukan selama 7 jam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa madu yang digunakan memiliki kalium 0,31% dan pH 4. Pada penelitian ini pemberian madu tidak berpengaruh terhadap jumlah cupang jantan. Pemberian madu 25 mL L-1 air menghasilkan 56,98±4,58% jantan, tingkat penetasan telur 99,17±1,67%, dan sintasan umur 90 hari setelah menetas 79,89±4,50%. Mortalitas terjadi pada awal pemeliharaan larva. Setelah umur 60 hari setelah menetas tidak terjadi kematian pada cupang. Nilai tingkat penetasan telur dan sintasan yang tinggi menunjukkan bahwa madu adalah bahan alami yang aman digunakan untuk maskulinisasi ikan dalam budidaya monoseks.

Pemberian madu yang mengandung 0,31% kalium melalui perendaman embrio fase bintik mata selama 7 jam belum dapat meningkatkan jumlah jantan secara signifikan.Pada dosis madu 25 mL L-1 air menghasilkan 56,98±4,58% jantan, tingkat penetasan telur 99,17±1,67%, dan sintasan umur 90 hari setelah menetas 79,89±4,50%.Dengan demikian, madu merupakan bahan alami yang aman digunakan untuk maskulinisasi ikan.

Penelitian lebih lanjut perlu dilakukan untuk mengoptimalkan penggunaan madu sebagai agen maskulinisasi pada ikan cupang. Salah satu arah penelitian yang menarik adalah menguji berbagai lama waktu perendaman embrio, misalnya dengan variasi 12, 24, dan 48 jam, untuk melihat apakah waktu paparan yang lebih lama dapat meningkatkan persentase ikan jantan yang dihasilkan. Selain itu, penelitian dapat difokuskan pada identifikasi senyawa aktif spesifik dalam madu yang berperan dalam proses maskulinisasi, sehingga dapat dikembangkan formulasi yang lebih efektif dan efisien. Terakhir, studi komparatif perlu dilakukan untuk membandingkan efektivitas madu dengan bahan alami lain yang berpotensi sebagai agen maskulinisasi, seperti ekstrak tumbuhan tertentu, untuk menemukan alternatif yang lebih unggul dan berkelanjutan dalam budidaya ikan cupang monoseks.

  1. aalas. aalas need enable javascript run app aalas.kglmeridian.com/view/journals/72010023/72/3/article-p169.xmlaalas aalas need enable javascript run app aalas kglmeridian view journals 72010023 72 3 article p169 xml
  2. Pengaruh Perendaman Larva Ikan Pterapogon kauderni dengan Hormon 17α-Methyltestosteron Menggunakan... doi.org/10.36084/jpt..v9i2.330Pengaruh Perendaman Larva Ikan Pterapogon kauderni dengan Hormon 17 Methyltestosteron Menggunakan doi 10 36084 jpt v9i2 330
  3. Efficacy of Honey on Sex Reversal of Guppy (Poecilia reticulata Peters) | Jurnal Akuakultur Indonesia.... journal.ipb.ac.id/index.php/jai/article/view/4022Efficacy of Honey on Sex Reversal of Guppy Poecilia reticulata Peters Jurnal Akuakultur Indonesia journal ipb ac index php jai article view 4022
  4. ScieceAsia - Journal of The Science Society of Thailand. scienceasia journal science society thailand... scienceasia.org/content/viewabstract.php?ms=2148ScieceAsia Journal of The Science Society of Thailand scienceasia journal science society thailand scienceasia content viewabstract php ms 2148
Read online
File size693.31 KB
Pages11
DMCAReport

Related /

ads-block-test