DARUNNAJAHDARUNNAJAH

Cendekia: Jurnal Penelitian Mahasiswa Sosial dan PendidikanCendekia: Jurnal Penelitian Mahasiswa Sosial dan Pendidikan

Kompetensi sosial adalah kemampuan pendidik sebagai bagian dari masyarakat untuk berkomunikasi dengan keterampilan untuk berinteraksi secara efektif dan efisien dengan siswa, sehingga peran sosial seorang guru sangat penting. Jika seorang guru tidak memiliki kompetensi sosial, hubungan antara kepala sekolah dan masyarakat sekitar tidak akan harmonis. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif. Sampel yang diambil adalah 20 guru. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan angket kuesioner. Teknik analisis data yang digunakan adalah regresi sederhana dan korelasi dalam bentuk analisis deskriptif, analisis inferensial, dan analisis syarat uji. Diketahui bahwa hasil perhitungan statistik menggunakan SPSS 16 menunjukkan bahwa ada hubungan antara gaya kepemimpinan kepala sekolah dan lingkungan kerja guru terhadap kompetensi sosial guru di SMK Darunnajah Cipining, yang dibuktikan dengan nilai (R yx) = 0,729 yang berarti memiliki hubungan yang kuat. Dengan rentang nilai (0,60-0,799), nilai signifikan 0,000 < 0,05 maka H0 ditolak dan H1 diterima yang berarti signifikan, serta koefisien determinasi sebesar 54,0% sementara sisanya 46,0% dipengaruhi oleh faktor lain.

Terdapat hubungan Gaya Kepemimpinan terhadap Kompetensi Sosial Guru di SMK Darunnajah Cipining.Terdapat hubungan Lingkungan Kerja terhadap Kompetensi Sosial Guru di SMK Darunnajah Cipining.Terdapat hubungan Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah dan Lingkungan Kerja secara simultan terhadap Kompetensi Sosial Guru di SMK Darunnajah Cipining, dengan pengaruh sebesar 54,0%.

Penelitian ini memberikan dasar penting mengenai hubungan antara gaya kepemimpinan kepala sekolah dan lingkungan kerja terhadap kompetensi sosial guru. Namun, untuk memperkaya pemahaman dan aplikasi praktisnya, ada beberapa arah penelitian lanjutan yang dapat dipertimbangkan. Pertama, mengingat penelitian ini terbatas pada satu SMK dengan sampel 20 guru, studi selanjutnya dapat memperluas jangkauan geografis dan jumlah sampel secara signifikan, mencakup beragam jenis sekolah atau wilayah, guna menguji generalisasi temuan. Pendekatan ini akan memperkuat validitas eksternal dan memungkinkan rekomendasi yang lebih luas bagi kebijakan pendidikan. Kedua, hasil penelitian menunjukkan bahwa 46% variasi kompetensi sosial guru masih dipengaruhi oleh faktor lain di luar gaya kepemimpinan dan lingkungan kerja. Oleh karena itu, investigasi mendalam terhadap variabel-variabel eksternal atau internal guru yang belum teridentifikasi—seperti program pengembangan profesional berkelanjutan, tingkat dukungan kolega, kesejahteraan guru, atau budaya inovasi sekolah—akan sangat berharga untuk membangun model yang lebih komprehensif. Penelitian ini dapat mengadopsi metode kualitatif untuk mengidentifikasi faktor-faktor tersembunyi tersebut atau mengembangkan instrumen kuantitatif baru. Ketiga, untuk beralih dari korelasi ke pemahaman kausalitas dan implikasi praktis, disarankan untuk melakukan studi intervensi atau eksperimen. Ini bisa berupa penerapan program pengembangan kepemimpinan khusus bagi kepala sekolah atau implementasi strategi peningkatan lingkungan kerja, diikuti dengan evaluasi dampak langsungnya terhadap kompetensi sosial guru. Pendekatan ini akan memberikan wawasan tentang bagaimana intervensi spesifik dapat secara efektif memajukan kualitas sosial pendidik, memastikan guru memiliki kemampuan interaksi yang optimal dalam ekosistem pendidikan mereka.

Read online
File size206.82 KB
Pages7
DMCAReport

Related /

ads-block-test