UIN SGDUIN SGD

Hijai - Journal on Arabic Language and LiteratureHijai - Journal on Arabic Language and Literature

Penelitian ini bertujuan mengembangkan teori sarjana Arab klasik, salah satunya teori Semantik al Amidiyy dalam karya monumentalnya al-Ihkām fi Ushūl al-Ahkām. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif. Hasil analisis pada karya al Amidiy ditemukan teori asal-usul bahasa yaitu teori wadhi – tauqifi (bahasa diciptakan oleh manusia/Allah). Menurut al Amidiy Perbedaan struktur bunyi akan menghasilkan makna (dilālah) bagi tuturan. Tanda bahasa menurutnya terbagi dua: bunyi dan isyarat tubuh. Menurut Al-Amidiy bahasa bersifat “arbitrer (wadhu ikhtiyāriy). Menurut al Amidiy makna suatu kata tidak otomatis menunjukan benda-benda tertentu, melainkan tergantung pada maksud penutur. Teori referensial, menurutnya terdiri dari tiga aspek: makna (madlul), kata (dāl/lafazh) dan interpretrant (mutakallim/wādhi) yang menentukan dāl dan madlūl-nya. Hubungan antar makna menurutnya terbagi tiga: musytarak (polisemi), mutaradif (sinonim) dan mutabayin (kata biasa). Adapun jenis makna menurut al Amidiy adalah sebagai berikut: Muthlaq & Muqayyad, Mujmal & Bayan, Hakikat (pokok) & Majāz (Cabang), Dilalāh Manzhūm; Dilalāh ghair manzhūm.

Penelitian ini menyimpulkan bahwa teori semantik Al-Amidiy dalam Al-Ihkām fi Ushūl al-Ahkām mencakup asal-usul bahasa sebagai wadi-tauqifi, di mana perbedaan struktur bunyi menghasilkan makna dan tanda bahasa dibagi menjadi bunyi serta isyarat tubuh.Ia menekankan sifat arbitrer bahasa, bahwa makna kata bergantung pada maksud penutur, serta mengidentifikasi teori referensial dengan tiga aspek utama.Lebih lanjut, Al-Amidiy mengklasifikasikan hubungan antar makna menjadi polisemi, sinonim, dan mutabayin, serta membagi jenis makna menjadi muthlaq-muqayyad, mujmal-bayan, hakikat-majaz, dilalah manzhum, dan dilalah ghair manzhum, menunjukkan kekayaan pemikiran semantiknya dalam Ushul Fiqih.

Mengingat kekayaan dan kedalaman teori semantik Al-Amidiy yang telah diuraikan, terdapat beberapa arah penelitian lanjutan yang sangat menjanjikan untuk memperkaya khazanah ilmu pengetahuan. Pertama, akan sangat bermanfaat untuk melakukan perbandingan komprehensif antara kerangka semantik Al-Amidiy dengan teori-teori semantik modern dari linguistik Barat. Studi ini dapat mengidentifikasi titik temu dan perbedaan fundamental, serta mengeksplorasi bagaimana konsep-konsep klasik seperti wadhi-tauqifi, arbitreritas bahasa, atau dilalah manzhum dapat memberikan perspektif baru bagi pemahaman linguistik kontemporer, atau sebaliknya, bagaimana teori modern dapat memperjelas nuansa pemikiran Al-Amidiy. Penelitian semacam ini akan menunjukkan relevansi abadi dari pemikiran ulama klasik dan potensi pengembangannya.. . Kedua, ada peluang besar untuk melakukan studi kasus yang spesifik mengenai aplikasi teori semantik Al-Amidiy dalam analisis teks-teks hukum Islam atau ayat-ayat Al-Quran yang memiliki ambiguitas makna. Misalnya, bagaimana konsep musytarak (polisemi) atau mujmal (global) yang dijelaskan Al-Amidiy dapat digunakan untuk menyelesaikan perbedaan penafsiran dalam fiqih. Pendekatan ini akan menguji kekuatan analitis teori Al-Amidiy secara praktis, menunjukkan kontribusinya dalam istinbat hukum, dan menghasilkan pemahaman yang lebih nuansa tentang metode para fuqaha klasik.. . Ketiga, sangat relevan untuk menyelidiki potensi integrasi teori-teori semantik Arab klasik, termasuk dari Al-Amidiy, ke dalam kurikulum pendidikan bahasa Arab modern, terutama untuk pengajaran bahasa Arab sebagai bahasa asing atau studi keislaman. Penelitian dapat merancang model pedagogis yang menggabungkan warisan intelektual ini untuk meningkatkan pemahaman kontekstual dan mendalam terhadap teks-teks keagamaan. Ini akan memastikan bahwa kekayaan pemikiran klasik tidak hanya menjadi objek kajian sejarah, tetapi juga alat yang hidup dan relevan dalam pendidikan kontemporer, melatih mahasiswa untuk berpikir kritis tentang makna bahasa dalam konteks Islam.

Read online
File size1.13 MB
Pages20
DMCAReport

Related /

ads-block-test