UNIVMEDUNIVMED

Universa MedicinaUniversa Medicina

Protein sangat penting bagi integritas kulit, sementara olahraga memengaruhi proses seluler dan molekuler yang mengatur autofagi, biogenesis mitokondria, dan sintesis kolagen. Penelitian ini mengevaluasi efek kombinasi pembatasan protein dalam makanan dan variasi intensitas olahraga terhadap ketebalan epidermis, penanda autofagi (LC3, p62), biogenesis mitokondria (PGC1α), dan sintesis kolagen (Col1a1, Col3a1) pada tikus jantan Wistar. Studi eksperimental laboratorium dilakukan terhadap 32 ekor tikus yang dibagi menjadi delapan kelompok: kontrol, protein rendah, intensitas rendah, kelompok IV, intensitas sedang, intensitas sedang dengan protein rendah, intensitas tinggi, dan intensitas tinggi dengan protein rendah. Diet protein rendah (5%) dibandingkan dengan kontrol (24%) diberikan selama 60 hari, sedangkan regimen olahraga berupa latihan treadmill (rendah/10 m per menit, sedang/20 m per menit, tinggi/30 m per menit) selama 30 menit per hari, lima hari per minggu, selama delapan minggu. Ketebalan epidermis dan ekspresi mRNA LC3, p62, PGC1α, Col1a1, dan Col3a1 diukur pada akhir penelitian. Data dianalisis menggunakan uji one-way ANOVA/Kruskal-Wallis dilanjutkan dengan uji Tukey HSD/Mann-Whitney. Diet protein rendah secara signifikan mengurangi ketebalan epidermis (p=0,048), meningkatkan LC3 (p=0,043) dan p62 (p=0,011), menunjukkan gangguan regenerasi kulit dan autofagi. Namun, olahraga, terutama pada intensitas tinggi dengan protein rendah, mengurangi efek tersebut dengan meningkatkan LC3 (p=0,011) dan PGC1α (p=0,011). Temuan ini menunjukkan peran kompensasi olahraga dalam mempertahankan integritas jaringan di bawah kondisi kekurangan protein pada tikus jantan. Olahraga intensitas tinggi berpotensi meningkatkan autofagi dan biogenesis mitokondria.

Penelitian ini memberikan bukti kuat bahwa olahraga intensitas tinggi dapat mengurangi dampak negatif diet rendah protein terhadap struktur kulit dan jalur molekuler terkait autofagi serta sintesis kolagen.Dengan meningkatkan autofagi dan menaikkan ekspresi PGC1α dan Col1a1, olahraga muncul sebagai intervensi yang efektif untuk mendukung kesehatan jaringan di bawah kondisi kekurangan nutrisi.Temuan ini menunjukkan potensi strategi kombinasi antara pendekatan diet dan fisik untuk mengoptimalkan regenerasi kulit dan peremajaan jaringan.

Pertama, perlu diteliti apakah efek kombinasi antara olahraga intensitas tinggi dan asupan protein rendah terhadap kesehatan kulit juga berlaku pada manusia, terutama kelompok rentan seperti lansia atau pasien malnutrisi, melalui studi klinis jangka panjang dengan pemantauan biomarker serupa. Kedua, penting untuk mengeksplorasi durasi dan frekuensi optimal latihan treadmill atau bentuk olahraga lainnya yang dapat memberikan manfaat maksimal bagi regenerasi kulit tanpa memperburuk stres oksidatif pada kondisi kekurangan protein. Ketiga, perlu dikembangkan penelitian yang membandingkan respons kulit terhadap berbagai jenis serat otot (aerobik vs. anaerobik) selama latihan intensitas tinggi, untuk memahami mekanisme spesifik sinyal otot-ke-kulit (misalnya melalui miokin) yang mungkin berperan dalam perbaikan jaringan. Penelitian-penelitian ini dapat membuka jalan bagi terapi nonfarmakologis yang terstruktur untuk memperbaiki integritas kulit pada individu dengan keterbatasan asupan nutrisi.

  1. Exercise builds the scaffold of life: muscle extracellular matrix biomarker responses to physical activity,... doi.org/10.1111/brv.12916Exercise builds the scaffold of life muscle extracellular matrix biomarker responses to physical activity doi 10 1111 brv 12916
  2. Physiological adaptations to interval training and the role of exercise intensity - MacInnis - 2017 -... doi.org/10.1113/JP273196Physiological adaptations to interval training and the role of exercise intensity MacInnis 2017 doi 10 1113 JP273196
Read online
File size454.81 KB
Pages10
DMCAReport

Related /

ads-block-test