STEIPRESSSTEIPRESS

Jurnal STEI EkonomiJurnal STEI Ekonomi

Penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi interaksi antara Brand Love dan Brand Ambassador dalam memengaruhi Niat Beli konsumen Generasi Z terhadap produk fashion global di Indonesia. Menggunakan desain survei kuantitatif, data dikumpulkan dari konsumen Generasi Z di Jakarta yang pernah membeli produk dari merek fashion global utama. Analisis data dilakukan menggunakan metode Partial Least Squares Structural (PLS-SEM). Temuan menunjukkan bahwa Brand Ambassador berpengaruh positif dan signifikan terhadap Niat Beli, menegaskan peran langsung endorser sebagai stimulus pemasaran. Sebaliknya, Brand Love tidak menunjukkan pengaruh langsung yang signifikan terhadap Niat Beli dalam model ini. Temuan utamanya adalah Brand Love bertindak sebagai moderator signifikan dalam hubungan antara Brand Ambassador dan Niat Beli. Efek moderasi mengonfirmasi bahwa Brand Love memperlemah hubungan positif ini, yang menyiratkan bahwa bagi konsumen yang memiliki keterikatan emosional tinggi pada merek, pengaruh dari Brand Ambassador menjadi kurang intens. Penelitian ini berkontribusi pada teori SOR dengan menunjukkan bahwa kondisi emosional internal (Brand Love) berfungsi sebagai variabel kontingensi yang memengaruhi efektivitas stimulus eksternal terhadap perilaku konsumen.

Penelitian ini mengonfirmasi bahwa strategi Brand Ambassador yang diterapkan oleh merek fashion global memiliki peran krusial dalam membentuk Niat Beli konsumen Generasi Z di Indonesia.Hasil pengujian membuktikan bahwa Brand Ambassador secara langsung dan signifikan mendorong Niat Beli, sejalan dengan temuan-temuan terdahulu yang menegaskan peran kredibilitas dan daya tarik endorser.Namun, menariknya, meskipun Brand Love merupakan konstruk emosional yang kuat, pengaruh langsungnya terhadap Niat Beli tidak terbukti signifikan dalam model ini, yang menunjukkan bahwa Brand Ambassador memiliki kekuatan prediktif yang lebih dominan dalam konteks fashion Gen Z yang sarat dengan tren dan figur digital.Temuan yang paling signifikan adalah peran Brand Love sebagai moderator terhadap hubungan antara Brand Ambassador dan Niat Beli.Pemoderasian mengindikasikan bahwa bagi konsumen yang sudah sangat mencintai merek, mereka cenderung kurang terpengaruh oleh upaya promosi dari Brand Ambassador dibandingkan dengan konsumen yang memiliki Brand Love lebih rendah, namun tetap terpengaruh oleh figur publik.Hasil ini memberikan kontribusi teoretis dengan menunjukkan bahwa variabel emosional internal dapat bertindak sebagai faktor kontingensi pada stimulus pemasaran eksternal.Secara praktis, merek harus memahami bahwa penggunaan Brand Ambassador paling efektif untuk menarik konsumen yang Brand Love-nya belum mencapai level tertinggi.

Berdasarkan hasil penelitian, berikut adalah tiga saran penelitian lanjutan: Pertama, perlu dilakukan studi lebih mendalam tentang bagaimana Brand Love dapat dibangun dan dipertahankan oleh merek fashion, terutama dalam konteks Gen Z yang sangat dipengaruhi oleh media sosial dan figur digital. Kedua, penelitian dapat fokus pada strategi komunikasi yang efektif untuk meningkatkan Brand Love, termasuk penggunaan influencer atau brand ambassador yang relevan dan kredibel. Ketiga, penting untuk mengeksplorasi bagaimana Brand Love dapat diukur dan dipantau secara kontinu, sehingga merek dapat menyesuaikan strategi pemasaran mereka secara real-time berdasarkan tingkat Brand Love konsumen.

  1. SALES PROMOTION MESSAGE APPEAL AND BRAND AMBASSADOR EFFECTS TOWARD TOKOPEDIA’S PURCHASE INTENTION... doi.org/10.54443/sibatik.v2i2.559SALES PROMOTION MESSAGE APPEAL AND BRAND AMBASSADOR EFFECTS TOWARD TOKOPEDIAAoS PURCHASE INTENTION doi 10 54443 sibatik v2i2 559
Read online
File size526.78 KB
Pages20
DMCAReport

Related /

ads-block-test