UINFASBENGKULUUINFASBENGKULU

Jurnal Ilmiah Syi'arJurnal Ilmiah Syi'ar

Latar penelitian ini bermula dari keberadaan konselor Dayak muslim di sekolah yang dipersepsikan secara negatif oleh lingkungan sosial karena identitas etnis dan agama yang beririsan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik wawancara, observasi, studi dokumentasi, dan triangulasi data, lalu dianalisis secara komprehensif untuk memperoleh makna dan proposisi yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi negatif tersebut dapat diminimalisir melalui pemahaman dan penerapan nilai-nilai Huma Betang, yang mengutamakan toleransi, saling menghormati, serta integrasi identitas Dayak dan Islam. Seluruh konselor Dayak muslim mampu memperkenalkan identitas diri mereka secara efektif tanpa hambatan, berkat filosofi Kearifan Lokal yang menegaskan kesatuan nilai keagamaan dan kebudayaan.

Identitas diri konselor Dayak muslim dapat dipertahankan dengan baik di tengah lingkungan sosial, sehingga membentuk konstruksi diri yang ideal.Konteks Huma Betang membantu memperkuat penerimaan sosial terhadap konselor tersebut.

Berdasarkan temuan tentang pentingnya nilai Huma Betang dalam memperkuat identitas konselor Dayak Muslim, penelitian lanjutan dapat meneliti seberapa besar pengaruh program pelatihan kearifan lokal terhadap peningkatan kompetensi komunikasi konselor dalam konteks multikultural. Selanjutnya, studi perbandingan antara konselor Dayak Muslim dan Dayak Nasrani dapat mengungkap perbedaan dalam strategi pengelolaan identitas diri dan dampaknya terhadap hubungan kerja di lingkungan sekolah. Terakhir, penelitian lebih lanjut dapat mengimplementasikan intervensi berbasis teknologi, seperti platform virtual diskusi antar konselor, untuk mengevaluasi kontribusinya terhadap peningkatan pemahaman dan integrasi identitas multikultural di kalangan tenaga pendidik.

Read online
File size280.64 KB
Pages10
DMCAReport

Related /

ads-block-test