UNIVERSITASMULIAUNIVERSITASMULIA

PROSIDING SAFANAPROSIDING SAFANA

Mandai merupakan produk fermentasi dari kulit cempedak yang berpotensi diolah menjadi cuka. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan pengaruh variasi metode fermentasi (tanpa starter, penambahan starter Lactobacillus casei 4%, dan 8%) terhadap kadar pH, total asam, serta menguji aktivitas antioksidan cuka yang dihasilkan. Fermentasi dilakukan selama 14 hari. Analisis kimia meliputi pengukuran pH dan penetapan total asam melalui titrasi. Pengujian antioksidan dilakukan menggunakan metode DPPH dan diukur sebagai nilai IC₅₀. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode fermentasi secara signifikan memengaruhi kualitas cuka. Fermentasi tanpa starter menghasilkan produk yang tidak stabil dengan pH mencapai 6,65, sementara penambahan L. casei 8% menghasilkan mutu cuka terbaik dan paling stabil. Perlakuan ini memberikan nilai pH terendah dengan rata-rata 3,21 hingga 3,44 dan persentase total asam tertinggi mencapai 0,5872% pada hari ke-14. Secara fitokimia, cuka mandai positif mengandung flavonoid dan tanin. Nilai IC₅₀ sebesar 454,8 ppm dicapai pada hari ke-8 fermentasi, yang dikategorikan lemah, dan cenderung menurun pada hari-hari berikutnya. Penggunaan Lactobacillus casei 8% merupakan metode optimal untuk memproduksi cuka mandai dengan kualitas kimia terbaik. Namun, aktivitas antioksidan cuka tergolong lemah, dan waktu fermentasi hari ke-8 adalah waktu terbaik untuk mempertahankan senyawa aktifnya.

Penelitian ini menyimpulkan bahwa fermentasi cuka mandai cempedak menggunakan starter Lactobacillus casei secara signifikan meningkatkan aktivitas antioksidannya dibandingkan dengan fermentasi spontan.Penggunaan starter 8% menghasilkan kualitas cuka terbaik dari segi keasaman dan stabilitas.Namun, aktivitas antioksidan cuka mandai secara keseluruhan masih tergolong lemah, sehingga diperlukan optimasi lebih lanjut untuk meningkatkan potensi antioksidannya.

Berdasarkan hasil penelitian ini, beberapa saran penelitian lanjutan dapat diajukan. Pertama, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengidentifikasi dan mengkuantifikasi jenis-jenis senyawa antioksidan spesifik yang terdapat dalam cuka mandai cempedak, serta memahami mekanisme kerjanya dalam menetralkan radikal bebas. Kedua, eksplorasi penggunaan kombinasi starter bakteri asam laktat (BAL) yang berbeda, atau penambahan prebiotik, dapat dilakukan untuk meningkatkan aktivitas fermentasi dan produksi senyawa antioksidan. Ketiga, penelitian mengenai pengaruh waktu fermentasi yang lebih panjang atau pendek terhadap kualitas cuka dan aktivitas antioksidannya perlu dilakukan untuk menemukan titik optimal yang menghasilkan produk dengan kandungan antioksidan tertinggi. Penelitian-penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai potensi cuka mandai cempedak sebagai sumber antioksidan alami, serta membuka peluang pengembangan produk pangan fungsional yang inovatif dan bermanfaat bagi kesehatan.

Read online
File size587.5 KB
Pages8
DMCAReport

Related /

ads-block-test