ARIPAFIARIPAFI

Jurnal Budi Pekerti Agama BuddhaJurnal Budi Pekerti Agama Buddha

Komik Buddhis Aṅgulimāla: Pertobatan Sejati karya Handaka Vijjananda merepresentasikan kisah pertobatan seorang pembunuh kejam yang mengalami transformasi spiritual setelah bertemu Buddha Gotama. Kisah ini tidak hanya menyampaikan ajaran moral Buddhis, tetapi juga merefleksikan dinamika sosial, budaya, dan keagamaan masyarakat India kuno. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis struktur intrinsik dan struktur genetik dalam komik Buddhis Aṅgulimāla dengan menggunakan pendekatan strukturalisme genetik Lucien Goldmann. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif dengan sumber data utama berupa komik Aṅgulimāla. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui pembacaan intensif dan pencatatan, sedangkan analisis data dilakukan dengan mengaitkan unsur intrinsik karya sastra dengan konteks sosial-historis serta pandangan dunia pengarang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur intrinsik komik Aṅgulimāla meliputi tema pertobatan, karma, cinta kasih (metta), dan kebijaksanaan; tokoh dan penokohan yang kuat; alur progresif; konflik internal dan eksternal; serta latar waktu, tempat, dan sosial yang mencerminkan masyarakat India abad ke-6 SM. Sementara itu, struktur genetiknya memperlihatkan fakta kemanusiaan berupa sistem kasta, relasi kekuasaan, dan moral sosial, serta pandangan dunia pengarang yang menekankan nilai-nilai Buddhis seperti welas asih, transformasi diri, dan harapan akan perubahan moral manusia. Dengan demikian, analisis strukturalisme genetik menegaskan bahwa komik Aṅgulimāla merupakan karya sastra yang tidak hanya bersifat naratif, tetapi juga merefleksikan realitas sosial dan pesan kemanusiaan yang relevan dengan kehidupan modern.

Kisah Aṅgulimāla, sebagaimana digambarkan dalam berbagai teks Buddhis dan diadaptasi dalam buku Aṅgulimāla.Pertobatan Sejati oleh Handaka Vijjananda, dapat dianalisis melalui prinsip dialektika, yaitu proses pemahaman yang bergerak antara dua kutub yang saling bertentangan, seperti kejahatan dan penebusan, kegelapan batin dan pencerahan.Kisah ini menunjukkan pergulatan antara kegelapan batin dan pencerahan, antara kejahatan dan penebusan, serta antara diri individu dan konsekuensi sosial.Dari cerita ini terlihat bahwa seorang yang terjebak dalam kejahatan dapat menemukan jalan keluar melalui transformasi spiritual, mengatasi penderitaan batin, dan akhirnya mengubah kehidupannya menjadi lebih baik.Pesan yang terkandung menegaskan bahwa melalui pemahaman yang benar dan belas kasih, bahkan mereka dengan masa lalu kelam dapat mencapai pembebasan sejati.Pendekatan strukturalisme genetik terhadap kisah Aṅgulimāla juga memungkinkan untuk memahami cerita secara lebih mendalam sekaligus memberikan wawasan tentang kompleksitas manusia dan dinamika sosial budaya.Kisah ini bukan sekadar dongeng, melainkan cerminan pengalaman manusia universal yang tetap relevan dalam kehidupan modern.Di tengah maraknya kekerasan dan ketidakadilan, cerita ini mengingatkan pentingnya nilai-nilai kemanusiaan seperti kasih sayang, pengampunan, dan transformasi diri.Oleh karena itu, nilai-nilai yang terkandung dalam kisah Aṅgulimāla perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, khususnya dalam menumbuhkan empati, kesabaran, dan tanggung jawab.Kisah ini juga dapat dijadikan bahan pendidikan moral dan karakter bagi generasi muda agar memahami pentingnya pengendalian diri dan konsekuensi dari setiap tindakan.Dengan memahami dan mengamalkan nilai-nilai tersebut, masyarakat dapat membangun kehidupan yang lebih harmonis, damai, dan beradab.

Berdasarkan analisis strukturalisme genetik pada komik Buddhis Aṅgulimāla, penelitian lanjutan dapat difokuskan pada aspek-aspek berikut: Pertama, mengkaji lebih dalam tentang bagaimana sistem sosial, seperti sistem kasta, mempengaruhi perilaku dan keputusan karakter dalam cerita. Kedua, menyelidiki pengaruh tekanan politik dan emosi negatif dalam kehidupan akademik pada masa itu, khususnya di Takshasila, terhadap perkembangan karakter dan konflik dalam kisah Aṅgulimāla. Ketiga, meneliti lebih lanjut tentang bagaimana nilai-nilai Buddhis seperti metta (kasih sayang), karuna (belas kasih), dan upekkha (ketidakpedulian) dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, khususnya dalam menumbuhkan empati dan tanggung jawab sosial. Penelitian ini dapat memberikan kontribusi dalam memahami kompleksitas manusia dan dinamika sosial budaya, serta relevansinya dengan kehidupan modern.

  1. Analisa Strukturalisme Genetik pada Komik Buddhis Aṅgulimāla | Jurnal Budi Pekerti Agama Buddha. analisa... journal.aripafi.or.id/index.php/jbpab/article/view/1833Analisa Strukturalisme Genetik pada Komik Buddhis AIgulimAla Jurnal Budi Pekerti Agama Buddha analisa journal aripafi index php jbpab article view 1833
  2. TELAAH STRUKTURALISME GENETIK LUCIEN GOLDMANN DALAM PENGKAJIAN KARYA SASTRA PUISI GADIS PEMINTA-MINTA... jurnal.umnu.ac.id/index.php/jrk/article/view/381TELAAH STRUKTURALISME GENETIK LUCIEN GOLDMANN DALAM PENGKAJIAN KARYA SASTRA PUISI GADIS PEMINTA MINTA jurnal umnu ac index php jrk article view 381
  3. REALITAS SOSIAL DALAM NOVEL PULANG KARYA LEILA S. CHUDORI: KAJIAN STRUKTURALISME GENETIK | Nurfitriani... doi.org/10.17509/bs_jpbsp.v17i1.6961REALITAS SOSIAL DALAM NOVEL PULANG KARYA LEILA S CHUDORI KAJIAN STRUKTURALISME GENETIK Nurfitriani doi 10 17509 bs jpbsp v17i1 6961
  4. The Development of Gravity Comic Learning Media Based on Gorontalo Culture | Ntobuo | Jurnal Pendidikan... journal.unnes.ac.id/nju/index.php/jpii/article/view/14344The Development of Gravity Comic Learning Media Based on Gorontalo Culture Ntobuo Jurnal Pendidikan journal unnes ac nju index php jpii article view 14344
Read online
File size528.32 KB
Pages16
DMCAReport

Related /

ads-block-test