UNUDUNUD

Community of Publishing in NursingCommunity of Publishing in Nursing

Perdarahan postpartum adalah hilangnya darah sebanyak 500 ml setelah bayi lahir akibat persalinan pervaginam atau kehilangan darah lebih dari 1000 ml akibat persalinan caesar. Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya perdarahan postpartum yaitu umur, paritas, lama kala, kadar Hb, jarak kehamilan, dan riwayat persalinan. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui gambaran atas kasus perdarahan postpartum di RSUP Prof. Dr. I. G. N. G. Ngoerah. Jenis studi ini adalah deskriptif dengan pendekatan retrospektif. Populasi riset ini yaitu rekam medis pasien rawat inap yang mengalami perdarahan postpartum di RSUP Prof Ngoerah tahun 2020-2022 sebanyak 37 kasus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik ibu lebih banyak terjadi perdarahan postpartum primer (early HPP) yaitu (81,1%), sisa plasenta sebanyak (35,1%), usia 20-35 tahun (75,7%), paritas multipara (P2-P4) (70,3%), lama kala II normal (< 2 jam) (67,6%), anemia (73%), jarak kelahiran > 2 tahun (64,9%), persalinan normal (67,6%), dan mayoritas ibu yang mengalami perdarahan postpartum di RSUP Prof. Dr. I. G. N. G. Ngoerah tidak diberikan penatalaksanaan berupa transfusi darah (54,15%). Diharapkan puskesmas dan tenaga kesehatan dapat mengoptimalkan penyuluhan pada ibu hamil untuk mendeteksi dini faktor-faktor yang mempengaruhi perdarahan postpartum dan meningkatkan manajemen aktif kala III.

Perdarahan postpartum primer (early PPH) merupakan jenis perdarahan yang paling banyak ditemukan, yaitu sebesar 81,1% dari seluruh kasus.Penyebab utama perdarahan postpartum adalah sisa plasenta yang terjadi pada 35,1% kasus.Mayoritas ibu yang mengalami perdarahan berada pada kelompok usia 20–35 tahun, paritas multipara, mengalami anemia, dan menjalani persalinan normal, namun sebagian besar tidak diberikan transfusi darah sebagai penatalaksanaan.

Pertama, perlu diteliti lebih lanjut mengapa ibu dengan usia 20–35 tahun, yang secara fisiologis dianggap ideal untuk melahirkan, tetap berisiko tinggi mengalami perdarahan postpartum, dengan fokus pada faktor sosial, akses pelayanan antenatal, serta kualitas penanganan saat persalinan. Kedua, penting untuk mengkaji efektivitas manajemen aktif kala III di tingkat fasilitas kesehatan primer, terutama dalam konteks keterlambatan pertolongan dan keterbatasan tenaga terampil, guna mengetahui bagaimana intervensi tersebut bisa diperkuat sebelum kasus merujuk ke rumah sakit rujukan. Ketiga, diperlukan penelitian tentang alasan rendahnya pemberian transfusi darah pada kasus perdarahan postpartum, apakah disebabkan oleh ketersediaan darah, pertimbangan klinis, atau faktor lain seperti protokol rumah sakit dan kesiapan sistem rujukan, agar dapat dirumuskan strategi peningkatan penatalaksanaan perdarahan secara komprehensif.

  1. One moment, please.... one moment please wait request verified doi.org/10.22437/jmj.v8i1.9421One moment please one moment please wait request verified doi 10 22437 jmj v8i1 9421
Read online
File size417.36 KB
Pages10
DMCAReport

Related /

ads-block-test