UBHARAJAYAUBHARAJAYA

SOCIAL PHILANTHROPICSOCIAL PHILANTHROPIC

Sejak pandemi covid-19 mulai merebak, pemerintah melakukan berbagai upaya untuk hadir dalam penyelesaian masalah yang timbul sebagai dampak dari situasi ini. Salah satu hal yang dilakukan adalah dengan memberikan bantuan sosial langsung kepada masyarakat. Tentu hal ini menuai pro dan kontra namun hal itu tetap dilaksanakan. Ragam respon muncul sehingga menarik minat peneliti untuk menelaah lebih dalam terkait kesadaran diri dan regulasi emosi para penerima bantuan sosial. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara regulasi emosi terhadap kesadaran diri. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Subjek pada penelitian ini yaitu masyarakat di kelurahan Bekasijaya sebanyak 56.462 jiwa dengan sampel 140 melalui proses olah karakteristik. Alat ukur yang digunakan yaitu skala regulasi emosi dan skala kesadaran diri. Analisa data dalam penelitian ini menggunakan korelasi Pearson Product Moment dan hasilnya menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara regulasi emosi terhadap kesadaran diri dengan koefisien korelasi sebesar 0,745** dengan nilai signifikansi 0,000 (p<0,05). Artinya, jika regulasi emosi tinggi, maka kesadaran diri tinggi, begitupun sebaliknya, jika regulasi emosi rendah, maka kesadaran diri rendah.

Penelitian ini menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara regulasi emosi dan kesadaran diri pada masyarakat di Kelurahan Bekasi Jaya.Semakin tinggi regulasi emosi, maka kesadaran diri juga semakin tinggi, dan sebaliknya.Hasil tersebut mengindikasikan pentingnya pengelolaan emosi dalam membentuk kesadaran diri yang baik saat menerima bantuan sosial.

Pertama, perlu diteliti bagaimana pengaruh tingkat pendidikan terhadap hubungan antara regulasi emosi dan kesadaran diri dalam konteks penerimaan bantuan sosial, mengingat faktor sosial ekonomi dapat memengaruhi persepsi dan respons individu. Kedua, diperlukan penelitian yang mengkaji peran media sosial dalam membentuk regulasi emosi dan kesadaran diri masyarakat saat merespons penyaluran bantuan, karena arus informasi dan opini publik dapat memicu emosi kolektif. Ketiga, sebaiknya dikaji secara mendalam mengenai perbedaan respons emosional dan kesadaran diri antara penerima dan non-penerima bantuan sosial, untuk memahami dampak psikologis dari inklusi maupun eksklusi sosial dalam program bantuan publik. Studi-studi ini dapat memperkaya pemahaman tentang dinamika psikososial masyarakat di tengah krisis dan membantu merancang intervensi yang lebih tepat sasaran.

  1. HUMANITAS. regulasi emosi resiliensi mahasiswa humanitas indonesian journal authors erlina listyanti... journal.uad.ac.id/index.php/HUMANITAS/article/view/341HUMANITAS regulasi emosi resiliensi mahasiswa humanitas indonesian journal authors erlina listyanti journal uad ac index php HUMANITAS article view 341
  2. Penerapan Metode SMART dalam Seleksi Penerima Bantuan Sosial Warga Masyarakat Terdampak COVID-19 | JURNAL... doi.org/10.30865/mib.v5i1.2618Penerapan Metode SMART dalam Seleksi Penerima Bantuan Sosial Warga Masyarakat Terdampak COVID 19 JURNAL doi 10 30865 mib v5i1 2618
  3. Sistem Pendukung Keputusan Penerima Bantuan Sosial Daerah Kutai Kartanegara Menggunakan Metode Electre... doi.org/10.30872/jurti.v2i1.1362Sistem Pendukung Keputusan Penerima Bantuan Sosial Daerah Kutai Kartanegara Menggunakan Metode Electre doi 10 30872 jurti v2i1 1362
  4. Dampak Covid-19 Terhadap Ekonomi Indonesia | Yamali | Ekonomis: Journal of Economics and Business. covid... ekonomis.unbari.ac.id/index.php/ojsekonomis/article/view/179Dampak Covid 19 Terhadap Ekonomi Indonesia Yamali Ekonomis Journal of Economics and Business covid ekonomis unbari ac index php ojsekonomis article view 179
Read online
File size228.46 KB
Pages8
DMCAReport

Related /

ads-block-test