UNTARUNTAR

Jurnal ProvitaeJurnal Provitae

Humor di kalangan remaja adalah salah satu bentuk bahasa. Bahasa dikenal sebagai dasar penting untuk menyampaikan pesan, maksud, atau tujuan sebagai wadah termudah untuk menyebarkan elemen-elemen populer di masyarakat (DeVito, 2001). Penelitian tentang humor telah dilakukan dengan mengaitkan humor dengan aspek psikologis, tetapi tanpa norma alat ukur yang digunakan. Berdasarkan penelitian Wijaya dan Basaria (2016) mengenai humor dengan kecerdasan emosi menggunakan alat ukur kecerdasan emosi humor, ditemukan bahwa terdapat hubungan positif dan signifikan antara kecerdasan emosi dan humor netral. Sebagai tindak lanjut dari hasil tersebut, penelitian ini membuat norma instrumen *sense of humor* dan juga norma instrumen alat ukur kecerdasan emosi. Tujuan dari studi ini adalah untuk menyusun norma alat ukur kecerdasan emosi dan instrumen humor pada remaja berusia 11-19 tahun.

Studi ini berhasil menetapkan kategori norma (rendah, sedang, tinggi) untuk alat ukur kecerdasan emosi, humor kognitif, humor netral, dan humor superioritas pada remaja.Norma-norma yang telah dikembangkan ini menyediakan referensi standar untuk menilai kecerdasan emosi dan *sense of humor* pada remaja, sehingga instrumen tersebut siap digunakan dalam penelitian selanjutnya.Temuan ini juga mengindikasikan potensi untuk mengembangkan norma serupa bagi kelompok usia lain, seperti lansia, serta untuk mengeksplorasi hubungan dengan variabel psikologis tambahan seperti inteligensi atau *subjective well-being*.

Mengingat penelitian ini telah berhasil menyusun norma alat ukur kecerdasan emosi dan humor pada remaja, langkah selanjutnya bisa berfokus pada eksplorasi yang lebih mendalam dan komprehensif. Pertama, peneliti dapat menguji bagaimana norma-norma ini berlaku atau perlu disesuaikan pada kelompok usia lain, seperti anak-anak pra-remaja atau orang dewasa muda, untuk memahami dinamika perkembangan kecerdasan emosi dan penggunaan humor sepanjang rentang kehidupan. Ini akan memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai evolusi kedua konstruk psikologis ini dan bagaimana konteks usia memengaruhi ekspresinya. Kedua, sangat menarik untuk menyelidiki peran kausal atau mediasi dari humor sebagai strategi koping yang berfokus pada emosi. Pertanyaan penelitian dapat diarahkan untuk memahami secara spesifik bagaimana remaja menggunakan humor yang dimediasi oleh tingkat kecerdasan emosi mereka, dalam mengatasi stres akademik atau konflik interpersonal, dan sejauh mana strategi ini berkontribusi pada peningkatan *subjective well-being*. Hal ini bisa melibatkan studi longitudinal atau intervensi eksperimental untuk melihat dampak langsung. Ketiga, mengingat adanya berbagai jenis humor yang disebutkan dalam kajian pustaka (seperti humor sehat versus humor tidak sehat, atau humor agresif versus humor afiliatif), studi lanjutan dapat membedah bagaimana jenis humor tertentu berinteraksi dengan dimensi kecerdasan emosi yang berbeda, dan konsekuensi apa yang ditimbulkannya terhadap adaptasi sosial dan psikologis individu. Misalnya, apakah penggunaan humor yang cenderung agresif berkorelasi negatif dengan kemampuan empati, atau sebaliknya, humor afiliatif memperkuat keterampilan membina hubungan? Penelitian semacam ini akan memperkaya pemahaman kita tentang kompleksitas humor dan relevansinya dalam kehidupan emosional dan sosial.

Read online
File size339.74 KB
Pages20
DMCAReport

Related /

ads-block-test