POLTEKKES SMGPOLTEKKES SMG

Jurnal Lintas KeperawatanJurnal Lintas Keperawatan

Latar belakang: Angka kejadian Diabetes Mellitus di Jawa Tengah pada tahun 2019 yaitu 652.822 kasus. Terjadinya Diabetes Mellitus tidak hanya pada dewasa tetapi juga pada remaja. Tidak banyak orang mengetahui Diabetes Mellitus pada remaja karena kurangnya pengetahuan. Cara yang tepat digunakan yaitu dengan DSME (Diabetes Self Management Education) pada remaja. Tujuan: Untuk mengetahui tingkat pengetahuan setelah dilakukan Diabetes Self Management Education (DSME) pada remaja kelas X di SMAN 2 Kota Pekalongan. Metode: Penelitian ini merupakan metode kuasi eksperimen dengan desain pre-post test. Teknik pengambilan sampel menggunakan simple random sampling. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengetahuan setelah dilakukan DSME dengan menggunakan kuesioner pre-post test pada remaja kelas X SMAN 2 Kota Pekalongan. Hasil: Hasil uji beda paired t-test menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara pre-test dan post-test pengetahuan setelah dilakukan DSME dengan Sig. (2-tailed) 0,000. Simpulan: DSME (Diabetes Self Management Education) meningkatkan pengetahuan remaja tentang diabetes mellitus.

Diabetes Self Management Education (DSME) terbukti secara signifikan meningkatkan pengetahuan remaja mengenai diabetes mellitus.Uji statistik paired t-test menunjukkan nilai signifikansi 0,000, yang berarti terdapat perbedaan bermakna antara skor pengetahuan sebelum dan sesudah intervensi.Dengan demikian, DSME efektif sebagai upaya edukatif pencegahan dini diabetes pada remaja.

Pertama, perlu dikaji bagaimana efektivitas DSME jika diberikan secara daring atau hybrid bagi remaja di daerah terpencil yang terbatas aksesnya terhadap edukasi tatap muka, karena metode saat ini hanya dilakukan secara langsung di satu sekolah. Kedua, penting untuk mengevaluasi dampak jangka panjang dari DSME terhadap perubahan perilaku remaja, seperti kebiasaan makan, aktivitas fisik, dan pemeriksaan gula darah secara mandiri, untuk mengetahui apakah peningkatan pengetahuan berubah menjadi tindakan pencegahan nyata. Ketiga, perlu dikembangkan penelitian tentang modifikasi konten DSME yang disesuaikan dengan tingkat usia, latar belakang pendidikan, dan faktor risiko individual remaja, agar materi edukasi menjadi lebih personal dan relevan, sehingga lebih mudah dipahami dan diingat. Penelitian lanjutan sebaiknya tidak hanya mengukur pengetahuan, tetapi juga mengamati perubahan sikap dan praktik nyata dalam pengelolaan diri terkait diabetes. Dengan pendekatan yang lebih personal dan berkelanjutan, intervensi pendidikan dapat lebih efektif dalam pencegahan dini. Selain itu, penting untuk mengeksplorasi peran orang tua dan guru dalam mendukung keberlangsungan pembelajaran DSME di luar sesi formal. Kolaborasi antara sekolah, puskesmas, dan keluarga dapat menjadi strategi holistik untuk memperkuat pemahaman remaja. Penelitian juga bisa menguji perbandingan efektivitas antara metode ceramah dengan metode interaktif seperti role-play atau diskusi kelompok kecil. Penggunaan media visual atau aplikasi mobile edukasi diabetes juga bisa menjadi alternatif inovatif yang layak diteliti. Dengan demikian, upaya pencegahan dapat menjadi lebih menarik dan sesuai dengan gaya hidup remaja masa kini.

Read online
File size430.22 KB
Pages6
DMCAReport

Related /

ads-block-test