ISBIISBI

Pascasarjana ISBI Bandung Conference SeriesPascasarjana ISBI Bandung Conference Series

Tulisan ini membahas mengenai kiprah R. Machyar Angga Koesoemadinata sebagai pencipta Notasi Sunda Serat Kanayagan yang dikenal tidak saja sebagai seniman dengan karya lagu-lagunya, tetapi juga sebagai peneliti atau Etnomusikologi Indonesia dengan temuannya Teori Laras 17 Nada yang diimplementasikan melalui alat musik 17 nada dan Gamelan Ki Pembayun 17 Nada. Banyak para pakar musik yang menganalisis karya-karyanya, baik pakar Indonesia maupun pakar dari beberapa negara, serta dijadikan bahan tulisan karya disertasi, serta jurnal. Karya Serat Kanayagan masih digunakan di sekolah-sekolah oleh para guru seni budaya, serta di perguruan seni sebagai materi bahan ajar membaca notasi Sunda. Begitu pula karya lagu-lagunya masih dinyanyikan pada acara-acara penting, baik pada acara pergelaran maupun festival seni. Namun demikian, banyak yang tidak tahu bahwa lagu-lagu tersebut adalah karya R. Machyar, bahkan tidak tahu siapa sosok R. Machyar. Tulisan ini akan mengungkapkan bagaimana solusi untuk mensosialisasikan kembali karya-karya R. Machyar sebagai karya anak bangsa yang menginspirasi. Metode yang digunakan adalah heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi dengan konsep Nilai Kasundaan Pok Prek Prak. Solusi terhadap permasalahan yang ada dibicarakan, dipikirkan, dan dilaksanakan.

Machyar telah menciptakan karya monumental berupa sistem notasi Sunda Serat Kanayagan dan Teori Laras 17 Nada yang diimplementasikan dalam gitar dan gamelan.Karyanya tetap digunakan hingga kini di kalangan pendidikan dan kesenian Sunda, meskipun banyak masyarakat yang tidak mengenal sosok penciptanya.Untuk melestarikan warisan tersebut, diperlukan pelatihan, sosialisasi, dan revitalisasi museum Da Mi Na Ti La sebagai bentuk penghargaan dan edukasi terhadap kontribusi besar R.

Pertama, perlu dilakukan penelitian tentang efektivitas metode pembelajaran berbasis Serat Kanayagan di sekolah dasar, untuk mengetahui bagaimana sistem notasi ini dapat ditanamkan sejak dini dengan cara yang menyenangkan dan mudah dipahami anak. Kedua, perlu dikaji ulang secara ilmiah kemungkinan rekonstruksi Gamelan Ki Pembayun 17 Nada berdasarkan data akustik dan arsip keluarga, untuk mengembalikan bentuk asli karya monumental ini dalam bentuk fisik maupun digital. Ketiga, perlu dikembangkan studi tentang pengaruh spiritual dan budaya dalam proses pembuatan gamelan Sunda, khususnya terkait praktik tirakat para pengrajin, untuk memahami hubungan antara aspek mistis dan kualitas laras yang dihasilkan, serta bagaimana hal ini dapat diintegrasikan dalam pendidikan seni modern. Penelitian-penelitian ini dapat menjadi jembatan antara warisan budaya dan konteks kekinian, sekaligus memperkuat identitas budaya Sunda di era digital. Dengan pendekatan yang sistematis dan melibatkan komunitas lokal, hasil penelitian dapat digunakan untuk merancang program pelestarian yang berkelanjutan dan inklusif. Selain itu, pendekatan ini dapat memperkaya khazanah etnomusikologi Indonesia secara nasional. Fokus pada aspek pendidikan, teknologi, dan kearifan lokal akan memastikan bahwa karya R. Machyar tidak hanya dikenang, tetapi juga hidup dan berkembang. Penting pula melibatkan generasi muda dalam proses ini agar mereka merasa memiliki terhadap budaya leluhur. Hasilnya bisa menjadi model pelestarian budaya yang bisa direplikasi di daerah lain. Dengan demikian, nilai-nilai yang diwariskan R. Machyar dapat terus menginspirasi generasi mendatang.

Read online
File size244.16 KB
Pages9
DMCAReport

Related /

ads-block-test