UMSUMS

Jurnal KesehatanJurnal Kesehatan

Stunting adalah kondisi kegagalan pertumbuhan yang disebabkan oleh akumulasi asupan nutrisi yang tidak adekuat selama kehamilan hingga bayi berusia 24 bulan. Insiden stunting di Indonesia masih menjadi masalah gizi yang dominan, terutama di daerah pesisir. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan faktor-faktor yang mempengaruhi insiden stunting pada balita keluarga nelayan. Penelitian ini dilakukan dari Mei hingga Juni 2023 dengan metode observasional analitik kuantitatif dengan desain case control. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 60 balita keluarga nelayan berusia 24-59 bulan. Teknik penentuan sampel menggunakan purposive sampling. Instrumen penelitian meliputi microtoise, wawancara dengan kuesioner, lembar SQ-FFQ (Semi Quantitative Food Frequency Questionnaire), dan lembar observasi. Analisis dilakukan dengan analisis univariate, uji chi-square, dan uji regresi logistik multiple. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan antara riwayat pemberian ASI eksklusif, tingkat kecukupan energi, pekerjaan ayah, pendapatan keluarga, kelompok kerja nelayan, dan akses air bersih dengan insiden stunting pada balita keluarga nelayan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kecukupan protein memiliki pengaruh terkuat dengan nilai OR sebesar 68,167. Penelitian ini menyarankan agar masyarakat di daerah pesisir mengonsumsi asupan makanan dengan nutrisi seimbang, mengonsumsi makanan sumber protein seperti ikan, menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat, serta meningkatkan status kesehatan balita.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada balita keluarga nelayan berusia 24-59 bulan di daerah pesisir Mojo Pemalang, ditemukan hubungan antara riwayat pemberian ASI eksklusif, tingkat kecukupan energi, pekerjaan ayah, pendapatan keluarga, kelompok kerja nelayan, dan akses air bersih dengan insiden stunting pada balita keluarga nelayan.Penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat kecukupan protein memiliki pengaruh terkuat terhadap insiden stunting, dengan balita keluarga nelayan yang memiliki tingkat kecukupan protein rendah memiliki risiko 68,167 kali lebih besar untuk mengalami stunting dibandingkan dengan balita keluarga nelayan yang memiliki tingkat kecukupan protein yang cukup.Penelitian ini juga menemukan bahwa faktor-faktor lain seperti riwayat pemberian ASI eksklusif, tingkat kecukupan energi, pekerjaan ayah, pendapatan keluarga, dan kelompok kerja nelayan juga memiliki hubungan dengan insiden stunting pada balita keluarga nelayan.Oleh karena itu, penting untuk meningkatkan kesadaran dan edukasi mengenai pentingnya pemberian ASI eksklusif, asupan nutrisi yang seimbang, dan akses air bersih untuk mencegah terjadinya stunting pada balita keluarga nelayan di daerah pesisir.

Berdasarkan hasil penelitian dan analisis yang dilakukan, berikut adalah beberapa saran penelitian lanjutan yang dapat dilakukan untuk lebih mendalami faktor-faktor risiko stunting pada balita keluarga nelayan di daerah pesisir Mojo Pemalang:. . 1. Penelitian lanjutan dapat fokus pada faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi insiden stunting, seperti kualitas air dan sanitasi lingkungan. Penelitian ini dapat dilakukan dengan melakukan survei dan pengukuran kualitas air di daerah pesisir Mojo Pemalang, serta menganalisis hubungan antara kualitas air dan insiden stunting pada balita keluarga nelayan.. . 2. Penelitian juga dapat dilakukan untuk mengeksplorasi lebih lanjut hubungan antara status gizi ibu dan insiden stunting pada balita. Penelitian ini dapat dilakukan dengan menganalisis data gizi ibu selama kehamilan dan hubungannya dengan insiden stunting pada balita keluarga nelayan.. . 3. Selain itu, penelitian lanjutan dapat dilakukan untuk menganalisis dampak pendidikan dan pengetahuan gizi pada keluarga nelayan terhadap insiden stunting pada balita. Penelitian ini dapat dilakukan dengan melakukan intervensi pendidikan gizi pada keluarga nelayan dan menganalisis dampak intervensi tersebut terhadap insiden stunting pada balita keluarga nelayan.. . Dengan melakukan penelitian lanjutan yang berfokus pada faktor-faktor lingkungan, status gizi ibu, dan pendidikan gizi, diharapkan dapat diperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai faktor-faktor risiko stunting pada balita keluarga nelayan di daerah pesisir Mojo Pemalang. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai dasar untuk mengembangkan intervensi dan program kesehatan yang lebih efektif dalam mencegah dan mengurangi insiden stunting pada balita keluarga nelayan.

  1. KAITAN STUNTING DENGAN FREKUENSI DAN DURASI PENYAKIT INFEKSI PADA ANAK USIA 24-59 BULAN DI KECAMATAN... ejournal3.undip.ac.id/index.php/jnc/article/view/26952KAITAN STUNTING DENGAN FREKUENSI DAN DURASI PENYAKIT INFEKSI PADA ANAK USIA 24 59 BULAN DI KECAMATAN ejournal3 undip ac index php jnc article view 26952
  2. Faktor hubungan dengan kejadian stunting di Puskesmas Tamalate Kota Makassar | Windasari | AcTion: Aceh... doi.org/10.30867/action.v5i1.193Faktor hubungan dengan kejadian stunting di Puskesmas Tamalate Kota Makassar Windasari AcTion Aceh doi 10 30867 action v5i1 193
  3. Hubungan Riwayat Penyakit Infeksi Dengan Kejadian Stunting Pada Balita Umur 24-59 Bulan Di Wilayah Kerja... jurnal.poltekkespalu.ac.id/index.php/JBC/article/view/758Hubungan Riwayat Penyakit Infeksi Dengan Kejadian Stunting Pada Balita Umur 24 59 Bulan Di Wilayah Kerja jurnal poltekkespalu ac index php JBC article view 758
  4. Hubungan Perilaku Ibu dalam Praktik Pemberian Makan pada Anak Usia 12-23 Bulan dengan Kejadian Stunting... saripediatri.org/index.php/sari-pediatri/article/view/1473Hubungan Perilaku Ibu dalam Praktik Pemberian Makan pada Anak Usia 12 23 Bulan dengan Kejadian Stunting saripediatri index php sari pediatri article view 1473
Read online
File size493.63 KB
Pages17
DMCAReport

Related /

ads-block-test