UMSUMS
QiST: Journal of Quran and Tafseer StudiesQiST: Journal of Quran and Tafseer StudiesDalam warisan Islam, tiga perspektif disajikan mengenai insiden terbelahnya bulan (Inshiqaq al-Qamar). Dua dari perspektif ini mengafirmasi peristiwa tersebut sebagai tanda mukjizat yang mendukung kenabian Muhammad (SAW), sebuah pandangan yang didukung oleh mayoritas ulama Islam. Di sisi lain, minoritas rasionalis menganggap insiden tersebut sebagai rujukan simbolis terhadap tanda-tanda apokaliptik yang terkait dengan Hari Kiamat. Studi ini mengadopsi pendekatan komprehensif dan tidak memihak untuk menganalisis argumen dari kedua belah pihak. Pada akhirnya, studi ini mendukung perspektif yang murni Qurani, mengidentifikasi terbelahnya bulan sebagai sinonim dengan Khusuf al-Qamar yang disebutkan dalam Surah Al-Qiyamah, menandainya sebagai salah satu tanda dan prekursor Kebangkitan.
Studi ini telah secara kritis mengkaji insiden terbelahnya bulan (Inshiqaq al-Qamar), mengeksplorasi interpretasinya dalam warisan Islam dan menawarkan perspektif yang berpusat pada Al-Quran.Ditemukan bahwa interpretasi tradisional sebagai mukjizat menghadapi tantangan autentisitas, sementara pandangan rasionalis dan modern lebih condong pada makna simbolis atau eskatologis yang selaras dengan transformasi kosmik dan Hari Kiamat.Penelitian ini mendukung interpretasi Qurani yang menempatkan terbelahnya bulan, disamakan dengan Khusuf al-Qamar, sebagai pertanda eskatologis dari Hari Kiamat, menekankan pertanggungjawaban ilahi dan tatanan kosmik daripada perdebatan historisitasnya.
Berdasarkan kajian ini yang berfokus pada interpretasi terbelahnya bulan, ada beberapa arah penelitian lanjutan yang menarik dan relevan untuk digali lebih dalam. Pertama, sangat penting untuk melakukan studi komparatif mendalam mengenai penggunaan bahasa dan struktur retoris dalam Al-Quran terkait fenomena kosmik lainnya yang sering dikaitkan dengan Hari Kiamat. Misalnya, bagaimana Al-Quran menggunakan bentuk kata kerja masa lampau untuk menggambarkan peristiwa masa depan dalam konteks langit yang terbelah, bintang yang berjatuhan, atau matahari yang digulung, dan apakah pola linguistik ini secara konsisten mengisyaratkan makna eskatologis atau simbolis di luar penafsiran harfiah? Memahami konsistensi ini dapat memberikan kerangka kerja yang lebih kuat untuk menafsirkan banyak ayat serupa. Kedua, mengingat diskusi dalam studi ini yang menyentuh aspek ilmiah seperti relativitas waktu dan kemungkinan perubahan gravitasi, penelitian lanjutan dapat menjajaki dialog interdisipliner antara penafsiran Qurani dan temuan astrofisika modern. Pertanyaannya, bagaimana ilmu pengetahuan kontemporer, misalnya teori-teori tentang evolusi bintang atau dinamika benda langit, dapat memperkaya pemahaman kita tentang Khusuf al-Qamar atau Inshiqaq al-Qamar sebagai peristiwa kosmik yang mendahului Kiamat, tanpa mereduksi maknanya menjadi sekadar penjelasan ilmiah semata? Pendekatan ini bisa membuka jalan bagi apresiasi yang lebih kaya terhadap keajaiban penciptaan Tuhan. Ketiga, perlu diteliti dampak epistemologis dan sosiologis dari adopsi perspektif Qurani-sentris yang menafsirkan terbelahnya bulan sebagai tanda eskatologis. Bagaimana pergeseran dari narasi mukjizat historis menuju pemahaman yang lebih simbolis atau eskatologis ini memengaruhi cara umat Muslim modern memahami hubungan antara akal, wahyu, dan sains, serta bagaimana perubahan penafsiran ini tercermin dalam praktik keagamaan dan diskursus intelektual di masyarakat?.
| File size | 463.51 KB |
| Pages | 28 |
| DMCA | Report |
Related /
UINFASBENGKULUUINFASBENGKULU Ibnu Taimiyyah merumuskan konsep kesesuaian guna mengatasi konflik antara akal dan wahyu. 2) Analisis teologis pemikiran Ibu Taymiyyah terhadap relasiIbnu Taimiyyah merumuskan konsep kesesuaian guna mengatasi konflik antara akal dan wahyu. 2) Analisis teologis pemikiran Ibu Taymiyyah terhadap relasi
UMSUMS Penelitian ini memberikan bukti empiris kuat bahwa Surah Al-Fātiḥah berfungsi sebagai kerangka konseptual dinamis yang secara progresif dioperasionalkanPenelitian ini memberikan bukti empiris kuat bahwa Surah Al-Fātiḥah berfungsi sebagai kerangka konseptual dinamis yang secara progresif dioperasionalkan
UIIDALWAUIIDALWA Renewal in ushul fiqh enables the application of Islamic principles with greater flexibility and responsiveness to contemporary issues, such as womensRenewal in ushul fiqh enables the application of Islamic principles with greater flexibility and responsiveness to contemporary issues, such as womens
STDIISSTDIIS Penelitian ini menunjukkan bahwa Islam mengkategorikan non‑Muslim baik secara teologis maupun kewarganegaraan, memberikan kerangka hak dan kewajibanPenelitian ini menunjukkan bahwa Islam mengkategorikan non‑Muslim baik secara teologis maupun kewarganegaraan, memberikan kerangka hak dan kewajiban
STDIISSTDIIS Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman fiqh keluarga berpengaruh signifikan terhadap keharmonisan keluarga dengan nilai koefisien determinasi sebesarHasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman fiqh keluarga berpengaruh signifikan terhadap keharmonisan keluarga dengan nilai koefisien determinasi sebesar
UINFASBENGKULUUINFASBENGKULU (3) Menelaah, menganalisa serta memaknai implementasi pemikiran Ibn Thufail dan Martin Heidegger tentang eksistensi diri terhadap makna dan tujuan hidup(3) Menelaah, menganalisa serta memaknai implementasi pemikiran Ibn Thufail dan Martin Heidegger tentang eksistensi diri terhadap makna dan tujuan hidup
UMSBUMSB Menurut Creswell, analisis isi adalah metode penelitian kualitatif yang digunakan untuk mengidentifikasi pola atau tema spesifik dalam suatu teks. ProsedurMenurut Creswell, analisis isi adalah metode penelitian kualitatif yang digunakan untuk mengidentifikasi pola atau tema spesifik dalam suatu teks. Prosedur
ALJAMIAHALJAMIAH Menurut Sjadzali, banyak isu hukum Islam—seperti hukum waris, zakat untuk muallaf, bunga bank, kepemimpinan wanita, kesaksian wanita, pernikahan antar‑agama,Menurut Sjadzali, banyak isu hukum Islam—seperti hukum waris, zakat untuk muallaf, bunga bank, kepemimpinan wanita, kesaksian wanita, pernikahan antar‑agama,
Useful /
UMSUMS It challenges the traditional view that reduces technology to a mere neutral instrument, revealing instead that it is a profoundly existential, ontological,It challenges the traditional view that reduces technology to a mere neutral instrument, revealing instead that it is a profoundly existential, ontological,
UMSUMS Temuan ini menunjukkan keberhasilan program dan menjadi dasar bagi kegiatan pengabdian lanjutan. Program pengabdian ini berhasil memberikan pengetahuanTemuan ini menunjukkan keberhasilan program dan menjadi dasar bagi kegiatan pengabdian lanjutan. Program pengabdian ini berhasil memberikan pengetahuan
UMSUMS Mereka menunjukkan kemampuan berpikir reflektif dan empatik, serta mampu merumuskan komitmen kolektif untuk mewujudkan sekolah bebas perundungan, menunjukkanMereka menunjukkan kemampuan berpikir reflektif dan empatik, serta mampu merumuskan komitmen kolektif untuk mewujudkan sekolah bebas perundungan, menunjukkan
UMSUMS Pada akhir penelitian ini, terungkap bahwa kata Bayt lebih dalam daripada kata Kaaba, karena mengandung lapisan makna yang tidak ditemukan melalui kataPada akhir penelitian ini, terungkap bahwa kata Bayt lebih dalam daripada kata Kaaba, karena mengandung lapisan makna yang tidak ditemukan melalui kata