POLTEKKES PADANGPOLTEKKES PADANG

Jurnal Kesehatan Lingkungan MandiriJurnal Kesehatan Lingkungan Mandiri

Risiko lingkungan memiliki pengaruh terhadap kejadian stunting pada balita yang disebabkan oleh kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang terutama pada 1000 Hari Pertama Kehidupan (1000 HPK). Salah satu daerah penyumbang stunting tertinggi di Kabupaten Solok yaitu Kecamatan Payung Sekaki di wilayah kerja Puskesmas Sirukam, terdapat 112 kasus balita stunting yang tersebar di 3 nagari yaitu Nagari Sirukam, Nagari Supayang dan Nagari Aie Luo. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui distribusi spasial faktor risiko lingkungan pada balita stunting di Kecamatan Payung Sekaki Kabupaten Solok Tahun 2023. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode analisis deskriptif kuantitatif. Jumlah Sampel sebanyak 73 rumah. Analisis data dilakukan secara univariat dan spasial menggunakan Software Microsoft Excel dan overlay pada QGIS. informasi berupa peta persebaran spasial dengan klasifikasi rendah, sedang, dan tinggi. Dengan adanya penelitian ini diketahui bahwa Jorong Gantiang merupakan jorong dengan kejadian stunting tertinggi yaitu dengan 14 Kasus, Jorong Lubuak Pulai dengan 12 kasus, dan 3 Jorong dengan kasus sedang dan 6 jorong lainnya kasus stunting rendah. Tingginya kejadian stunting di Kecamatan Payung Sekaki dipengaruhi oleh beberapa faktor risiko lingkungan yaitu kondisi fisik rumah, penyediaan air bersih, pengelolaan air limbah dan tinja, serta memiliki riwayat penyakit infeksi berulang seperti diare dan ISPA.

Berdasarkan hasil penelitian dan analisis spasial yang telah dilakukan mengenai Faktor Risiko Lingkungan pada Balita Stunting di Kecamatan Payung Sekaki Kabupaten Solok Tahun 2023, maka dapat diambil kesimpulan terdapat perbedaan jumlah kasus antar jorong yang di pengaruhi oleh faktor risiko lingkungan masing-masing jorong.Diharapkan untuk menjaga kondisi fisik rumah, penyedian air bersih, pengelolaan air limbah serta menjaga kesehatan balita agar terhindar dari penyakit infeksi berulang yang dapat menjadi faktor risiko terjadinya stunting.

Berdasarkan hasil penelitian, terdapat beberapa saran penelitian lanjutan yang dapat dikembangkan. Pertama, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengidentifikasi faktor-faktor sosial ekonomi yang berkontribusi terhadap risiko stunting di wilayah tersebut, seperti tingkat pendapatan keluarga, pendidikan ibu, dan akses terhadap layanan kesehatan. Kedua, penelitian kualitatif dapat dilakukan untuk memahami lebih dalam perilaku dan persepsi masyarakat terkait praktik pemberian makan dan perawatan anak, serta faktor-faktor budaya yang mungkin mempengaruhi. Ketiga, penelitian longitudinal dapat dilakukan untuk melacak perkembangan gizi anak sejak usia kehamilan hingga usia dua tahun, sehingga dapat diidentifikasi pola-pola pertumbuhan yang terkait dengan risiko stunting dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Dengan menggabungkan hasil penelitian ini, diharapkan dapat diperoleh pemahaman yang lebih komprehensif tentang determinan stunting dan dapat dirumuskan intervensi yang lebih efektif untuk mencegah dan mengatasi masalah stunting di wilayah tersebut.

Read online
File size135.81 KB
Pages11
DMCAReport

Related /

ads-block-test