MACHUNGMACHUNG

Citradirga : Jurnal Desain Komunikasi Visual dan IntermediaCitradirga : Jurnal Desain Komunikasi Visual dan Intermedia

Djoko Pekik memiliki gaya lukis yang beraliran realis ekspresif. Kerap membumbui nilai-nilai kerakyatan di hampir setiap lukisannya. Banyak karya Djoko Pekik memuat kritik sosial hingga tragedi politik. Oleh karena itu, lukisannya begitu berpengaruh. Memulai karier lukisnya sejak 1958 dengan masuk ke ASRI Yogyakarta, Djoko Pekik terus merevolusi diri hingga kini namanya begitu harum di dunia seni. Dia bahkan sempat mendirikan Sanggar Bumi Tarung pada 1961 bersama sejumlah kawannya. Ide kolektif kesenian itu kemudian diketahui berafiliasi dengan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Tujuan kritik formalistik ini untuk menjabarkan konfigurasi aspek-aspek formal dan nilai-nilai luhur yang berkaitan dengan unsur pembentukan karya lukis. Sasaran kritik seni akan lebih cenderung pada unsur-unsur visual terdiri warna, garis, dan tekstur. Metode kritik seni yang digunakan berupa kritik formalistik dengan tahapan deskripsi, tahapan analisis formal, tahapan interpretasi, dan tahapan evaluasi. Hasil dari kritik formalistik ini berupa data analisis visual karya lukis dan interpretasi nilai-nilai luhur yang berkaitan dengan unsur pembentukan karya lukis.

Dalam upaya mengkritisi karya Djoko Pekik yang berjudul Pawang Pun Kesurupan, pendekatan kritik formalistik diterapkan untuk menghasilkan sebuah aspek hasil penelitian yang telah dijabarkan pada tahapan evaluasi.Penulis memperoleh sebuah data kesimpulan dari proses membandingkan karya Djoko Pekik yang dikritik dengan karya lain Djoko Pekik yang sejenis.Dengan melalui tahapan evaluasi dapat diketahui bahwa Djoko Pekik serta karyanya pada tahun 2012 masih tetap konsisten dalam merespon sebuah fenomena atau tagedi sosial serta politik Indonesia yang telah Djoko Pekik digaungkan sejak pada masa orde baru.Djoko Pekik juga masih tetap konsisten dalam menggunakan objek-objek yang masif yaitu kerumunan dari sebuah figur manusia dalam karyanya.Selain itu Djoko Pekik masih tetap konsisten dalam memotret keadaan atau suasana pilu serta gerakan perjuangan masyarakat-masyarakat kecil kalangan bawah.Ditemukan pada lukisan terdapat konsistensi Djoko Peki terhadap gaya lukis yang digunakan yaitu berupa gaya ekspresif dengan menggunakan ciri khas sapuan basah yang tampak lebar menggunakan cat minyak.Konsistensi juga diperlihatkan Djoko Pekik dalam memasukkan sebuah aspek kebudayaan tradisional yang bersifat kedaerahan.Terdapat suatu transformasi Djojo Pekik dari aspek visual yang terdapat dalam karya seni lukisnya seperti yang tampak pada karya Djoko Pekik tahun 2012 Pawang Pun Kesurupan sudah tidak menggunakan kesan-kesan shading pada objek-objek yang kuat atau garis outline berupa garis nyata melainkan dalam karyanya penggunaan outlining Djoko Pekik beralih menjadi garis semu.Penerapan tone warna yang digunakan pada karya lukisnya juga masih tergolong sama dan tidak ada perubahan akan tetapi ada perbedaan terdapat pada temperature warna yang diterapkan.

Berdasarkan hasil penelitian ini, saran penelitian lanjutan yang dapat diusulkan adalah: Pertama, mengkaji lebih lanjut pengaruh budaya tradisional dalam karya-karya Djoko Pekik, terutama dalam hal penggunaan simbol-simbol dan elemen-elemen budaya dalam lukisannya. Kedua, menganalisis perkembangan gaya lukis Djoko Pekik dari waktu ke waktu, dengan membandingkan karya-karyanya dari masa Orde Lama hingga masa kini. Ketiga, meneliti dampak sosial dan politik dari karya-karya Djoko Pekik, terutama dalam hal bagaimana lukisannya dapat menjadi media kritik sosial dan politik yang efektif.

Read online
File size343.27 KB
Pages8
DMCAReport

Related /

ads-block-test