UMCUMC

SOSFILKOM : Jurnal Sosial, Filsafat dan KomunikasiSOSFILKOM : Jurnal Sosial, Filsafat dan Komunikasi

Akulturasi budaya merupakan suatu perpaduan unsur budaya oleh seseorang atau bahkan sekelompok orang terhadap kebudayaan lain sebagai dampak atas interaksi antar budaya tersebut dengan tidak meninggalkan unsur budaya aslinya. Akulturasi budaya tersebut dapat terjadi dalam upacara adat, tradisi, maupun arsitektur bangunan. Penelitian ini mengkaji tentang akulturasi budaya yang terjadi dalam tradisi satu suro di daerah lereng Gunung Kawi, Kabupaten Malang. Tujuan dari penelitian ini untuk (1) mendeskripsikan hakikat akulturasi budaya, (2) mendeskripsikan bentuk akulturasi budaya dalam tradisi satu suro di lereng Gunung Kawi, Kabupaten Malang. Penelitian ini menggunakan metode studi kepustakaan. Peneliti menggunakan internet untuk mendapatkan data penelitian. Sedangkan sumber data yang digunakan adalah sumber data. Teknik pengumpulan data untuk memperoleh data dalam penelitian ini yaitu teknik dokumentasi dengan data atau variabel yang berupa catatan, artikel, atau jurnal. Instrumen pengumpulan data dalam bentuk verbal simbolik. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik deduktif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada beberapa akulturasi budaya yang terjadi pada tanggal satu suro di daerah lereng Gunung Kawi, Kabupaten Malang. Akulturasi tersebut terjadi antara budaya Jawa, Tionghoa dan budaya Islam yang tertuang dalam beberapa tradisi suran.

Penelitian ini menyimpulkan bahwa akulturasi budaya merupakan proses penyatuan dua budaya berbeda menjadi budaya baru tanpa menghilangkan budaya aslinya.Akulturasi budaya terjadi di lereng Gunung Kawi Kabupaten Malang, khususnya dalam tradisi satu suro.Bentuk akulturasi budaya tersebut meliputi sedekah bumi, pencucian pusaka, pembakaran ogoh-ogoh, dan pesta rakyat wayangan.

Berdasarkan hasil penelitian, terdapat beberapa saran penelitian lanjutan yang dapat dilakukan. Pertama, penelitian lebih mendalam mengenai peran aktif masyarakat dalam melestarikan tradisi satu suro sebagai bentuk akulturasi budaya, termasuk motivasi dan strategi yang mereka gunakan. Kedua, studi komparatif dapat dilakukan dengan membandingkan tradisi satu suro di Gunung Kawi dengan tradisi serupa di daerah lain di Jawa Timur atau bahkan di Jawa Tengah, untuk mengidentifikasi persamaan dan perbedaan dalam proses akulturasi budaya. Ketiga, penelitian mengenai dampak tradisi satu suro terhadap perekonomian lokal, seperti peningkatan pendapatan pedagang atau pengrajin yang terlibat dalam kegiatan suran, dapat memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai manfaat tradisi ini bagi masyarakat. Penelitian-penelitian ini diharapkan dapat memperkaya khazanah pengetahuan mengenai akulturasi budaya di Indonesia dan memberikan kontribusi bagi upaya pelestarian warisan budaya bangsa.

Read online
File size140.55 KB
Pages6
DMCAReport

Related /

ads-block-test