169169

PANTUN: Jurnal Ilmiah Seni BudayaPANTUN: Jurnal Ilmiah Seni Budaya

Tulisan ini mengungkap tren flat design dalam desain komunikasi visual. Desain komunikasi visual merupakan cara manusia berkomunikasi melalui citra visual. Dalam beberapa tahun terakhir, flat design muncul dalam karya-karya desain komunikasi visual. Banyak perusahaan besar dan terkenal menggunakan flat design seperti Microsoft, Apple, Google, Kompas, dan lainnya. Flat design sangat berbeda dari aliran yang sebelumnya ada karena menciptakan kesederhanaan dengan menghilangkan semua bentuk gradien, bayangan, efek glossy, dan efek lainnya. Dikatakan bahwa flat design merupakan penerapan gaya minimalis dan dikaitkan dengan gaya Swiss yang terkenal pada tahun 1940-an hingga 1950-an. Dalam flat design, elemen dekoratif lain dianggap sebagai kekacauan yang tidak perlu. Jika suatu aspek tidak memiliki fungsi praktis, maka hal tersebut menjadi gangguan bagi pengalaman pengguna. Inilah alasan sifat minimalis dari flat design. Namun, meskipun gaya ini tidak memiliki desain yang mencolok, bukan berarti menjadi membosankan. Warna-warna cerah dan kontras mengilustrasikan dan membuat tombol menonjol dari latar belakang, mudah menarik perhatian serta menangkap perhatian pengguna. Tujuan dari citra minimalis juga berkontribusi pada karakter fungsional dari flat design. Makalah ini menjelaskan lebih lanjut mengenai perkembangan dan penerapan flat design dalam desain komunikasi visual.

Flat design merupakan salah satu aliran atau tren yang populer dalam desain grafis, yang banyak dipengaruhi oleh The Swiss Style, sehingga bukan sesuatu yang benar-benar baru melainkan pengulangan dari desain sebelumnya.Ciri khasnya adalah menghilangkan elemen-elemen tidak penting seperti bayangan, tekstur, dan ornamen, serta menekankan tipografi bersih, warna cerah, ilustrasi dua dimensi, dan kombinasi warna yang kontras.Flat design memberikan kesan modern, sederhana, dan menarik, serta memengaruhi perkembangan desain antarmuka digital dan media lainnya.

Pertama, perlu diteliti bagaimana pengguna dari berbagai kelompok usia, terutama lansia dan anak-anak, memahami dan berinteraksi dengan elemen antarmuka berbasis flat design yang tidak memiliki petunjuk visual seperti bayangan atau efek klik, untuk mengetahui apakah kesederhanaan desain justru mengurangi kejelasan fungsionalitas. Kedua, penelitian lanjutan dapat menguji kombinasi antara flat design dan elemen rich design secara sistematis, misalnya dengan menambahkan drop shadow atau gradien halus dalam berbagai tingkat intensitas, untuk menemukan titik optimal antara estetika minimalis dan kegunaan praktis. Ketiga, perlu dikaji bagaimana flat design diterapkan dalam konteks budaya lokal di Indonesia, seperti pada media informasi publik atau aplikasi pemerintah, untuk melihat apakah kesan modern dari flat design tetap menjaga keterbacaan dan keterhubungan emosional dengan masyarakat yang lebih akrab dengan elemen dekoratif tradisional.

Read online
File size572.78 KB
Pages11
DMCAReport

Related /

ads-block-test