169169

PANTUN: Jurnal Ilmiah Seni BudayaPANTUN: Jurnal Ilmiah Seni Budaya

Wolff Schoemaker adalah arsitek yang membaca budaya lokal dalam karya arsitektur. Penempatan ornamen nusantara pada fasade bangunan Landmark membentuk perpaduan estetika arsitektur barat dengan pemahaman rasional dan konsep timur dengan simbol-simbol budaya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif yang dijelaskan secara deskriptif interpretatif. Penelitian menggunakan teori estetika Edmund Burke Feldman dengan formulasi empat aspek, yaitu fungsi, struktur, gaya, dan makna. Konsep ini menghasilkan model analisis formalisme dan simbolik sebagai bagian dari makna estetika arsitektur. Ornamen pepatraan pada bentuk bangunan dilengkapi kepala Kala dan Makara sebagai penerapan hiasan pada fasade. Hasilnya adalah arsitektur Landmark dengan konsep perpaduan barat dan timur. Penempatan Kala dipengaruhi konsep Total Work of Art dalam gaya Jugendstil di Eropa dengan penempatan ornamen figuratif sesuai prinsip estetika formal. Konsep timur terlihat pada sisi kiri dan kanan bangunan yang memiliki bentuk menyerupai arsitektur candi. Penerapan ornamen Kala di tengah memperkuat bahwa daya tarik estetika Landmark terdiri atas aspek bentuk formal dan simbolik.

Aplikasi ornamen Kala dalam Gedung Landmark merupakan wujud gagasan Wolff Schoemaker yang memadukan persepsi keindahan barat dan timur menjadi artefak arsitektur.Dari sudut pandang rasional barat, penempatan Kala dipengaruhi oleh konsep Total Work of Art dari gaya Jugendstil di Eropa, sementara bentuk bangunan yang menyerupai candi menunjukkan pengangkatan budaya Nusantara.Meskipun Kala merupakan ornamen sakral dalam arsitektur Hindu yang ditempatkan pada bangunan bergaya Eropa yang profan, maknanya menjadi bergantung pada penafsiran masing-masing individu.

Pertama, perlu diteliti bagaimana masyarakat modern memaknai ornamen sakral seperti Kala ketika diterapkan dalam bangunan sekuler atau komersial saat ini, mengingat maknanya yang telah berubah dari konteks religius ke estetika semata. Kedua, perlu dilakukan studi perbandingan mendalam antara penerapan ornamen Nusantara dalam karya Wolff Schoemaker dengan arsitek-arsitek kolonial lainnya untuk melihat pola unik atau kekhasan pendekatannya dalam akulturasi budaya. Ketiga, penting untuk mengeksplorasi bagaimana prinsip Total Work of Art dari Jugendstil dapat diadaptasi dalam arsitektur Indonesia kontemporer dengan memasukkan elemen budaya lokal secara lebih holistik, bukan hanya sebagai hiasan tetapi sebagai bagian dari filosofi desain. Penelitian-penelitian ini dapat memperkaya wawasan tentang pelestarian identitas budaya melalui arsitektur di tengah modernisasi. Dengan memahami dinamika makna ornamen, kita bisa merancang bangunan yang tidak hanya indah secara visual tetapi juga bermakna secara budaya. Pendekatan seperti ini bisa menjadi dasar bagi arsitektur yang lebih berakar pada lokalitas tanpa kehilangan nilai universal. Selain itu, hasil penelitian dapat digunakan dalam pendidikan arsitektur untuk menanamkan kesadaran budaya sejak dini. Ragam hias lokal bisa dipelajari bukan hanya sebagai bentuk, tetapi sebagai ekspresi kosmologi dan nilai spiritual. Dengan demikian, generasi arsitek baru dapat menciptakan karya yang autentik dan kontekstual. Penelitian lanjutan dapat mengungkap bagaimana akulturasi bentuk arsitektur masa lalu dapat menjadi inspirasi bagi inovasi masa depan yang berkelanjutan.

Read online
File size2.54 MB
Pages11
DMCAReport

Related /

ads-block-test