UNJAUNJA

Lintang AksaraLintang Aksara

Latar belakang penelitian ini adalah penggunaan dua bahasa dalam berkomunikasi baik lisan maupun tulisan, sehingga terjadi interferensi bahasa Sunda ke dalam bahasa Indonesia dan bahasa Indonesia ke dalam bahasa Sunda. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui serta mendata bentuk-bentuk interferensi bahasa Sunda ke dalam bahasa Indonesia dan bahasa Indonesia ke dalam bahasa Sunda bidang fonologi dan morfologi pada anak usia 11 s.d. 16 tahun di Desa Karang Endah, Kecamatan Semendawai Suku III, Kabupaten OKU Timur. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, terdapat 14 kata bahasa Sunda yang sering digunakan pada anak usia 11 s.d. 16 tahun saat mereka melakukan percakapan. Dari semua ujaran yang disampaikan oleh sampel, kata yang sering digunakan oleh anak yang menggunakan bahasa Indonesia yaitu sapuluh, limak, tigak, karenak, sangaja ngagambar, doak, orangtuana, temen-temenna, ngalawak, nggak, nanya, dan kaceplosan.

Interferensi bahasa merupakan saling pengaruh antarbahasa yang terjadi secara bolak-balik antara bahasa daerah dan bahasa Indonesia, khususnya pada anak usia 11 hingga 16 tahun di Desa Karang Endah.Terdapat 14 kata hasil interferensi yang ditemukan dalam percakapan sehari-hari, seperti sapuluh, limak, tigak, dan ngalawak.Faktor penyebabnya meliputi kurangnya pemahaman terhadap penggunaan bahasa Indonesia yang baik, dominasi bahasa daerah dalam lingkungan sehari-hari, serta pengaruh lingkungan sosial yang menyesuaikan penggunaan bahasa.

Pertama, perlu diteliti bagaimana pengaruh media digital seperti media sosial dan aplikasi komunikasi terhadap pola interferensi bahasa Sunda dalam bahasa Indonesia pada anak usia remaja, apakah memperkuat atau justru mengurangi penggunaan unsur bahasa daerah. Kedua, perlu dikaji lebih lanjut mengenai dampak penggunaan bahasa campuran terhadap kemampuan anak dalam penguasaan tata bahasa Indonesia yang baku di lingkungan sekolah, terutama dalam aktivitas menulis dan membaca. Ketiga, sebaiknya dilakukan penelitian komparatif antar wilayah, misalnya antara Desa Karang Endah dengan daerah asal Sunda di Jawa Barat, untuk melihat perbedaan bentuk dan tingkat interferensi akibat pengaruh lingkungan sosial, pendidikan, dan identitas budaya yang berbeda. Penelitian-penelitian ini dapat membantu memahami dinamika bahasa di kalangan muda serta merancang strategi pembelajaran bahasa yang lebih sensitif terhadap konteks multibahasa. Selain itu, penting untuk mengeksplorasi bagaimana anak memaknai identitas diri mereka melalui pilihan bahasa sehari-hari, apakah penggunaan bahasa Sunda mencerminkan rasa bangga budaya atau sekadar kebiasaan. Penelitian lanjutan juga bisa menggali peran guru dan orang tua dalam membentuk kesadaran berbahasa yang baik tanpa menekan ekspresi budaya lokal. Dengan demikian, interferensi tidak selalu dilihat sebagai kesalahan, tetapi sebagai fenomena alami dalam masyarakat multilingual. Studi lebih dalam bisa melibatkan observasi jangka panjang untuk melihat evolusi penggunaan bahasa seiring pertumbuhan anak. Selain itu, penting untuk melihat bagaimana interferensi memengaruhi pembelajaran mata pelajaran lain yang menggunakan bahasa Indonesia sebagai媒介. Temuan dari penelitian semacam ini dapat menjadi dasar pengembangan kurikulum bahasa yang lebih inklusif dan kontekstual.

Read online
File size306.98 KB
Pages13
DMCAReport

Related /

ads-block-test