JQWHJQWH

Journal for Quality in Women's HealthJournal for Quality in Women's Health

Latar belakang: Rendahnya keberhasilan toilet training di masyarakat dipengaruhi oleh banyak ibu yang tidak melatih anaknya buang air kecil dan besar di tempat yang seharusnya, serta kurangnya motivasi dari orang tua. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh tingkat kesadaran orang tua terhadap keberhasilan toilet training pada anak usia 1-3 tahun. Metode: Penelitian ini menggunakan desain observasional dengan pendekatan cross sectional. Populasi adalah seluruh orang tua anak usia 1-3 tahun dengan teknik simple random sampling sehingga diperoleh sampel sebanyak 33 responden. Variabel independen adalah tingkat kesadaran orang tua dan variabel dependen adalah keberhasilan toilet training, diuji dengan uji Mann Whitney. Hasil: Hasil menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat kesadaran yang rendah, yaitu 23 responden (69,7%). Dan sebagian besar responden memiliki kemampuan toilet training yang terlambat, yaitu 23 responden (69,7%). Analisis: Hasil analisis diperoleh nilai p 0,000 lebih kecil dari α = 0,05, maka p ≤ α sehingga H1 diterima yang berarti terdapat pengaruh tingkat kesadaran orang tua terhadap keberhasilan toilet training pada anak usia 1-3 tahun di Desa Parakan Trenggalek.

Tingkat kesadaran orang tua mampu meningkatkan keberhasilan toilet training pada anak.Dengan kesadaran yang baik, orang tua lebih termotivasi untuk melatih anak sejak dini.Terdapat pengaruh signifikan antara kesadaran orang tua terhadap keberhasilan toilet training pada anak usia 1-3 tahun di Desa Parakan Trenggalek.

Pertama, perlu diteliti bagaimana pengaruh pemberian edukasi berbasis media digital terhadap peningkatan kesadaran orang tua mengenai toilet training, mengingat bahwa akses informasi masih rendah dan sumber informasi utama berasal dari tenaga kesehatan. Kedua, sebaiknya dilakukan penelitian tentang kesiapan anak secara psikologis dan fisik dalam kaitannya dengan kesuksesan toilet training, agar pendekatan yang dilakukan orang tua lebih berbasis pada kematangan usia anak dan tidak tergesa-gesa. Ketiga, diperlukan studi lanjutan mengenai peran pola asuh orang tua dan frekuensi penggunaan popok sekali pakai terhadap kemandirian anak dalam toilet training, untuk mengetahui apakah pengurangan penggunaan popok dapat menjadi strategi efektif dalam mempercepat proses pelatihan. Penelitian-penelitian ini dapat dikembangkan secara terpadu untuk merancang program intervensi keluarga yang holistik. Dengan memadukan edukasi, penilaian kesiapan anak, dan modifikasi pola asuh, diharapkan toilet training dapat dilakukan secara lebih efektif dan berkelanjutan. Temuan dari penelitian lanjutan ini juga dapat dijadikan dasar bagi tenaga kesehatan dalam memberikan konseling yang lebih terstruktur dan tepat sasaran kepada orang tua di masa mendatang. Selain itu, pendekatan intervensi yang melibatkan komunitas seperti posyandu atau layanan kesehatan primer perlu dievaluasi efektivitasnya. Penelitian lebih lanjut dapat mengeksplorasi bagaimana dukungan sosial keluarga besar memengaruhi praktik toilet training di lingkungan rumah. Dengan memahami dinamika ini, maka dapat dirancang model pendampingan yang melibatkan seluruh anggota keluarga. Studi juga dapat menguji perbedaan hasil toilet training antara pendekatan tradisional dan pendekatan berbasis permainan atau stimulasi positif. Hal ini penting untuk meningkatkan minat dan keterlibatan anak selama proses belajar. Pendekatan yang menyenangkan berpotensi meningkatkan motivasi internal anak. Oleh karena itu, inovasi metode pelatihan perlu dieksplorasi lebih dalam melalui penelitian kuantitatif maupun kualitatif.

Read online
File size441.56 KB
Pages12
DMCAReport

Related /

ads-block-test