JQWHJQWH

Journal for Quality in Women's HealthJournal for Quality in Women's Health

Adolescence adalah periode penting dalam perjalanan hidup manusia. Adolescence adalah periode transisi dari masa kanak-kanak ke dewasa. Pada saat ini, ada berbagai perubahan dan perkembangan cepat baik fisik, mental, dan psikososial. Periode ini adalah transisi dari masa kanak-kanak menuju dewasa (Kusmiran, 2016). Pada masa remaja, mereka telah mulai mengenali minat dan pendekatan dengan lawan jenis terkait dengan kematangan. Kematangan organ seks (kematangan) dapat memiliki efek buruk jika remaja tidak mampu mengendalikan rangsangan seksual, sehingga mereka tergoda untuk melakukan seks pranikah. Umumnya, remaja ingin mengetahui hal-hal baru sehingga mereka ingin mencoba dan bereksperimen. Perilaku ini ingin mencoba hal-hal baru jika didorong oleh rangsangan seksual dapat mengarah pada seks pranikah dengan segala akibatnya, termasuk kehamilan remaja di luar nikah, dan penularan penyakit menular seksual, termasuk HIV/AIDS. Menurut WHO (2012) jumlah remaja di dunia saat ini mencapai ± 1,2 miliar. Hasil penelitian terhadap 1038 remaja berusia 13-17 tahun mengenai hubungan seksual menunjukkan bahwa 16% remaja setuju dengan hubungan seksual, 43% mengatakan mereka tidak setuju dengan hubungan seksual dan 41% menyatakan bahwa itu adalah hal yang baik untuk memiliki hubungan seksual (Rusdianti, 2017). Seks pranikah pada remaja berusia 15-24 tahun terus meningkat setiap tahun. Menurut IDHS 2012, dibandingkan dengan IDHS 2002, ada peningkatan seks pranikah pada remaja. Survei IDHS 2012 tentang Kesehatan Reproduksi Remaja dilakukan terhadap gadis dan laki-laki yang belum menikah. Hasilnya adalah 8,3% laki-laki dan 1% perempuan melakukan seks pranikah. Pada remaja berusia 15-19 tahun yang melakukan seks pranikah sekitar 2,7%. Dari survei yang sama, hampir 80% responden telah berpegangan tangan, 48,2% laki-laki dan 29,4% perempuan telah berciuman dan 29,5% laki-laki dan 6,2% perempuan telah merangsang satu sama lain. Perilaku kencan hingga berciuman memiliki potensi untuk melakukan hubungan seksual (IDHS, 2017). Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan pada tanggal 8 Maret 2021 di Desa Sindang Baru, Kecamatan Toili, dengan mewawancarai 10 remaja tentang seks bebas, 5 remaja menganggap seks bebas adalah hal yang tidak alami karena merupakan perbuatan zina dan dilarang oleh agama, 2 remaja menganggap seks bebas adalah kejahatan. yang wajar karena berdasarkan cinta, 3 remaja menganggap perilaku seks bebas disebabkan oleh kurangnya kasih sayang orang tua dan kurangnya pendidikan seks yang baik.

Kesimpulan dari penelitian ini adalah ada pengaruh pendidikan kesehatan seksual terhadap persepsi wanita remaja tentang seks bebas di Desa Sindang Baru, Kecamatan Toili, Kabupaten Banggai.Berdasarkan hasil penelitian, sebagian besar responden sebelum diberikan pendidikan kesehatan memiliki persepsi yang cukup baik tentang seks bebas, sebanyak 31 responden (73,9%).Hampir semua responden memiliki persepsi yang baik tentang seks bebas, sebanyak 37 responden (88,1%).Persepsi wanita remaja tentang seks bebas di Desa Sindang Baru, Kecamatan Toili, Kabupaten Banggai.Berdasarkan uji Wilcoxon signed rank test statistik menggunakan SPSS, ditemukan bahwa nilai p lebih kecil dari 0,05 (0,000 < 0,05).Jadi H0 ditolak dan H1 diterima, yang berarti ada pengaruh pendidikan kesehatan seksual terhadap persepsi wanita remaja tentang seks bebas di Desa Sindang Baru, Kecamatan Toili, Kabupaten Banggai.

Berdasarkan hasil penelitian, disarankan untuk melakukan penelitian lanjutan dengan fokus pada pengembangan dan implementasi program pendidikan kesehatan seksual yang komprehensif untuk remaja. Program ini dapat mencakup materi tentang dampak negatif seks bebas, cara menghindari risiko, dan strategi untuk membangun hubungan yang sehat dan bertanggung jawab. Selain itu, penting untuk melibatkan orang tua dan komunitas dalam proses pendidikan ini, sehingga dapat menciptakan lingkungan yang mendukung dan mendorong perilaku seksual yang sehat di kalangan remaja. Penelitian lanjutan juga dapat mengeksplorasi efektivitas berbagai metode pendidikan kesehatan seksual, seperti penggunaan media interaktif, diskusi kelompok, atau pendekatan berbasis teknologi, untuk meningkatkan pemahaman dan perubahan perilaku positif di kalangan remaja. Dengan demikian, penelitian ini dapat memberikan kontribusi pada upaya pencegahan seks bebas dan promosi kesehatan seksual yang berkelanjutan di kalangan remaja.

Read online
File size350.46 KB
Pages5
DMCAReport

Related /

ads-block-test