UMBIMAUMBIMA

Civilium: Journal Of EngineeringCivilium: Journal Of Engineering

Pertumbuhan kota yang pesat membawa tantangan besar terhadap keberlanjutan lingkungan, termasuk di Kota Bima, Nusa Tenggara Barat. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji penerapan konsep green building dalam pembangunan perkotaan di Bima dengan menyoroti integrasi kearifan lokal, tingkat kesadaran masyarakat, serta tantangan dan peluang implementasi. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus melalui wawancara, observasi lapangan, dan analisis dokumen terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan green building di Bima masih sangat terbatas dan belum didukung oleh regulasi khusus. Namun, nilai-nilai budaya lokal yang mengedepankan efisiensi energi dan penggunaan material ramah lingkungan telah menjadi potensi kuat untuk dikembangkan lebih lanjut. Kendala utama meliputi rendahnya pemahaman teknis, persepsi biaya tinggi, dan minimnya kebijakan pemerintah daerah. Penelitian ini merekomendasikan peningkatan edukasi, pelatihan teknis bagi pelaku konstruksi, serta penyusunan kebijakan yang mendukung pembangunan berkelanjutan berbasis green building dan budaya lokal. Dengan pendekatan tersebut, pembangunan di Kota Bima diharapkan dapat berjalan lebih ramah lingkungan dan sesuai karakteristik lokal.

Penerapan konsep green building di Kota Bima masih berada pada tahap awal dan belum terintegrasi secara sistematis dalam kebijakan pembangunan daerah.Nilai-nilai kearifan lokal masyarakat Bima, seperti penggunaan bahan alami dan desain rumah ramah iklim, mencerminkan semangat pembangunan berkelanjutan.Untuk mendorong implementasi lebih luas, diperlukan kebijakan yang mendukung, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, dan edukasi berbasis komunitas.

Pertama, perlu dilakukan penelitian untuk mengidentifikasi secara sistematis elemen-elemen kearifan lokal dalam arsitektur tradisional Bima yang mendukung prinsip bangunan hijau, serta bagaimana elemen tersebut dapat diintegrasikan ke dalam standar teknis modern. Kedua, sebaiknya dikaji efektivitas model pelatihan berbasis komunitas bagi tukang dan kontraktor lokal dalam meningkatkan pemahaman dan penerapan konsep green building secara praktis dan terjangkau. Ketiga, penting untuk mengevaluasi potensi kebijakan lokal, seperti insentif pajak atau regulasi zonasi, yang bisa mendorong adopsi bangunan hijau di kalangan masyarakat berpenghasilan rendah tanpa menambah beban biaya. Penelitian-penelitian ini dapat saling melengkapi untuk membangun ekosistem pembangunan berkelanjutan yang sesuai dengan konteks sosial, budaya, dan ekonomi lokal di Bima. Pendekatan yang melibatkan masyarakat, pelaku teknis, dan pemerintah daerah secara kolaboratif perlu dieksplorasi lebih jauh agar kebijakan yang dihasilkan benar-benar relevan dan berkelanjutan. Selain itu, penting untuk memahami bagaimana persepsi masyarakat terhadap biaya dan manfaat jangka panjang bangunan hijau dapat diubah melalui edukasi berbasis nilai-nilai lokal. Penelitian lanjutan juga bisa menguji prototipe bangunan hijau sederhana yang menggunakan material lokal dan desain adaptif terhadap iklim tropis. Hasil uji coba ini dapat menjadi bukti nyata bahwa bangunan hijau tidak selalu mahal dan bisa diterapkan secara luas. Pendekatan partisipatif dalam perancangan kebijakan juga patut diteliti untuk memastikan keberterimaan dan keberlanjutan implementasinya. Dengan begitu, pembangunan di Kota Bima dapat berkembang tanpa mengorbankan lingkungan dan identitas budayanya.

  1. jgb. jgb need enable javascript run app doi.org/10.3992/jgb.8.2.162jgb jgb need enable javascript run app doi 10 3992 jgb 8 2 162
Read online
File size207.24 KB
Pages8
DMCAReport

Related /

ads-block-test