ABULYATAMAABULYATAMA

Jurnal Aceh MedikaJurnal Aceh Medika

Masa perkembangan dan pertumbuhan merupakan periode sensitif atau disebut juga periode kritis pada anak. World Health Organization (WHO) melaporkan negara Indonesia masuk urutan ketiga dengan prevalensi teringgi pada Asia Tenggara dengan gangguan perkembangan dan pertumbuhan sebesar 28,7%. Di Indonesia prevalensi keterlambatan bicara pada anak prasekolah adalah antara 5% -10%. Berdasarkan data di puskesmas Baiturrahman Banda Aceh perkembangan verbal pada balita di Puskesmas Baiturrahman Kota Banda Aceh 3,45% masih mengalami gangguan keterlambatan berkomunikasi pada anak usia 2 -5 tahun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui . Jenis penelitian ini adalah analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu yang memiliki balita di wilayah kerja puskesmas Baiturrahman Banda Aceh yaitu 1449 balita. Teknik pengambilan sampel secara purposive sampling berjumlah 94 sampel. Data dianalisa secara univariat dan bivariat dan diolah dengan menggunakan uji statistik Chi-Square Tes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara lingkungan (p=value 0,001) dan peran petugas kesehatan (p=value 0,026) dengan terjadinya speech delay pada balita Di Wilayah Kerja Puskesmas Baiturrahman Banda Aceh Tahun 2024. Diharapkan kepada tenaga kesehatan agar dapat meningkatkan pelayanan melalui edukasi dan stimulasi perkembangan bicara anak untuk mengurangi masalah speech delay.

Terdapat hubungan antara lingkungan dengan terjadinya speech delay pada balita di wilayah kerja Puskesmas Baiturrahman Banda Aceh dengan nilai p=0,001.Terdapat pula hubungan antara peran petugas kesehatan dengan terjadinya speech delay pada balita dengan nilai p=0,026.Lingkungan yang mendukung dan peran aktif petugas kesehatan berkontribusi dalam menurunkan risiko terjadinya speech delay pada anak usia dini.

Pertama, perlu dilakukan penelitian tentang bagaimana interaksi sosial antar keluarga dengan anak mengalami speech delay dapat memengaruhi perkembangan bicara anak melalui pendekatan kelompok pendukung di posyandu. Kedua, sebaiknya dikaji lebih lanjut efektivitas intervensi rumahan berbasis arahan petugas kesehatan dalam stimulasi bicara anak, terutama pada keluarga dengan keterbatasan waktu dan akses. Ketiga, perlu dikembangkan studi tentang pengaruh integrasi teknologi sederhana, seperti aplikasi edukasi berbasis ponsel, dalam meningkatkan keterlibatan orang tua dan konsistensi stimulasi bicara di rumah, terutama di daerah dengan sumber daya terbatas. Penelitian-penelitian ini dapat melengkapi temuan saat ini dengan menggali strategi yang lebih terjangkau, berkelanjutan, dan melibatkan kolaborasi aktif antara petugas kesehatan, keluarga, dan komunitas. Pendekatan yang menyentuh aspek sosial, praktik harian, dan inovasi lokal akan memperkuat upaya deteksi dini dan intervensi speech delay. Dengan demikian, intervensi tidak hanya berfokus pada individu, tetapi juga membangun ekosistem pendukung di tingkat keluarga dan masyarakat. Hal ini penting untuk memastikan bahwa setiap anak mendapatkan stimulasi yang optimal sesuai periode kritisnya. Penelitian lanjutan juga perlu mengevaluasi dampak jangka panjang dari keterlibatan petugas kesehatan yang konsisten. Selain itu, penting untuk menilai bagaimana faktor budaya lokal memengaruhi penerimaan dan keberhasilan program stimulasi bicara. Dengan pendekatan holistik dan berbasis bukti, diharapkan dapat ditemukan model pendampingan yang efektif dan adaptif terhadap kondisi masyarakat Banda Aceh.

Read online
File size427.77 KB
Pages6
DMCAReport

Related /

ads-block-test