IPBIPB

Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (Journal of Natural Resources and Environmental Management)Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (Journal of Natural Resources and Environmental Management)

Hutan mangrove merupakan ekosistem pesisir yang vital, mendukung biodiversitas dan memberikan layanan ekologis kunci, terutama di daerah tropis. Di Pekalongan, Jawa Tengah, perkembangan pesisir yang cepat dan perubahan penggunaan lahan mengancam integritas ekologisnya, khususnya perannya dalam penyerapan karbon. Studi ini menilai kekayaan spesies mangrove, biomassa, dan cadangan karbon di area konservasi dan non-konservasi untuk mengevaluasi status ekologis dan kontribusinya dalam mitigasi perubahan iklim. Enam lokasi sampel, yang terdiri dari area terlindungi dan tidak terlindungi, disurvei menggunakan 60 plot persegi bersarang untuk merekam populasi pohon dan bibit. Perkiraan biomassa, termasuk komponen di atas dan di bawah tanah, dihitung melalui model alometrik spesifik. Hasil menunjukkan bahwa area konservasi menyimpan karbon yang lebih tinggi (248,82 tC ha⁻¹) daripada situs non-konservasi, meskipun Degayu yang merupakan area tidak terlindungi memiliki cadangan karbon tertinggi kedua (159,66 tC ha⁻¹). Di antara spesies, Sonneratia alba berkontribusi paling banyak terhadap karbon, sementara sapling yang padat dari Rhizophora apiculata dan Bruguiera gymnorhiza menunjukkan potensi pergeseran dominasi spesies. Stok karbon rata-rata (125,02 tC ha⁻¹, setara dengan 495,07 t CO₂e ha⁻¹) menunjukkan risiko emisi yang signifikan jika degradasi terjadi. Temuan ini menekankan peran kritis mangrove baik di area konservasi maupun non-konservasi dalam regulasi iklim dan sejalan dengan fokus kebijakan saat ini di Indonesia pada ekosistem karbon biru, ketahanan pesisir, dan konservasi berbasis masyarakat.

Penelitian ini mengidentifikasi sembilan spesies pohon mangrove di lokasi penelitian, dengan biomassa rata-rata dan cadangan karbon sebesar 231,52 ton ha⁻¹ dan 28,93 tC ha⁻¹, masing-masing, yang lebih dari tujuh kali lipat lebih tinggi daripada yang dilaporkan dalam studi sebelumnya.Penelitian lebih lanjut disarankan untuk memverifikasi perbedaan yang signifikan ini dan mendukung pengembangan langkah-langkah konservasi yang efektif serta strategi pengurangan emisi gas rumah kaca.Temuan juga menekankan peran vital hutan mangrove di luar area konservasi dalam mitigasi perubahan iklim, meskipun perubahan penggunaan lahan yang terus berlangsung.Oleh karena itu, penting untuk merancang dan menerapkan strategi dan program yang tepat untuk melestarikan ekosistem mangrove yang ada, baik di dalam maupun di luar zona terlindungi, untuk mempertahankan penyimpanan karbon.Selain itu, studi yang lebih mendalam diperlukan untuk menjelajahi bagaimana upaya ini bersinggungan dengan konservasi keanekaragaman hayati dan mata pencaharian masyarakat lokal melalui inisiatif seperti silvofishery, akuakultur berkelanjutan, dan ekowisata.Dari perspektif kebijakan, hasil ini menegaskan kembali urgensi bagi Indonesia untuk memperkuat target Kontribusi Nasional yang Ditentukan (NDC) dengan memasukkan area mangrove non-konservasi ke dalam kerangka pengelolaan pesisir.Studi masa depan harus mengadopsi pendekatan terintegrasi yang menggabungkan dimensi ekologis, sosial, dan ekonomi untuk merumuskan model pengelolaan adaptif yang memaksimalkan manfaat mitigasi iklim dan ketahanan komunitas.

Untuk memperkuat strategi mitigasi iklim dan kontribusi komunitas terhadap target pengurangan emisi nasional, penelitian lanjutan dapat berfokus pada pengembangan model pengelolaan adaptif yang terintegrasi. Model ini harus mempertimbangkan dinamika ekologis lokal, karakteristik spesies, dan tekanan antropogenik, serta memastikan bahwa area non-konservasi juga termasuk dalam skema perlindungan dan restorasi nasional. Selain itu, studi mendatang dapat mengeksplorasi bagaimana upaya konservasi mangrove dapat bersinergi dengan konservasi keanekaragaman hayati dan inisiatif seperti silvofishery, akuakultur berkelanjutan, dan ekowisata untuk meningkatkan ketahanan komunitas pesisir. Dengan menggabungkan aspek ekologis, biophysikal, dan tata kelola berbasis masyarakat, strategi konservasi mangrove yang komprehensif dapat meningkatkan efektivitas strategi mitigasi perubahan iklim dan mendukung target pengurangan emisi nasional.

  1. An Estimation of Above Ground Tree Biomass of a Mangrove Forest in East Sumatra, Indonesia. estimation... doi.org/10.3759/tropics.1.243An Estimation of Above Ground Tree Biomass of a Mangrove Forest in East Sumatra Indonesia estimation doi 10 3759 tropics 1 243
  2. Radware Bot Manager Captcha. radware bot manager captcha apologize ensure keep safe please confirm human... iopscience.iop.org/article/10.1088/1755-1315/118/1/012050?utm_source=researchgate.net&utm_medium=articleRadware Bot Manager Captcha radware bot manager captcha apologize ensure keep safe please confirm human iopscience iop article 10 1088 1755 1315 118 1 012050 utm source researchgate utm medium article
  3. Assessment of Mangrove Species Composition, Biomass, and Carbon Stock Potential for Climate Change Mitigation... journal.ipb.ac.id/jpsl/article/view/65382Assessment of Mangrove Species Composition Biomass and Carbon Stock Potential for Climate Change Mitigation journal ipb ac jpsl article view 65382
  4. Pertumbuhan Riap Diameter Pohon Bakau Kurap (Rhizophora Mucronata) Di Lampung Mangrove Center | Jurnal... doi.org/10.23960/jsl3497-106Pertumbuhan Riap Diameter Pohon Bakau Kurap Rhizophora Mucronata Di Lampung Mangrove Center Jurnal doi 10 23960 jsl3497 106
Read online
File size899.92 KB
Pages16
DMCAReport

Related /

ads-block-test