UNIBAUNIBA

Zona Kedokteran: Program Studi Pendidikan Dokter Universitas BatamZona Kedokteran: Program Studi Pendidikan Dokter Universitas Batam

Dismenore adalah nyeri perut yang disebabkan oleh kram rahim yang terjadi saat menstruasi. Nyeri tersebut disebabkan oleh mulainya menstruasi dan berlangsung beberapa jam hingga beberapa hari hingga mencapai puncak nyeri. Penanganan dismenore terbagi menjadi 2 yaitu terapi farmakologi dan terapi non farmakologi. Penanganan secara farmakologi yaitu dengan terapi obat-obatan non steroid dipercaya sebagai anti inflamasi atau analgetik (NSAID) contohnya seperti: ibuprofen dan asam mefenamat sering digunakan untuk terapi dismenore. Penelitian ini menggunakan metode Kuantitatif design one group pretest – postest dengan pendekatan quasi eksperimen. Teknik pengambilan sampel yaitu simple random sampling dengan jumlah sampel 32 atau 16 responden tiap kelompok. Hasil Uji Paired T Test mendapatkan hasil pengaruh intervensi asam mefenamat 500 mg dan ibuprofen 200 mg terhadap tingkat dismenore p-value 0,001 lebih kecil dari nilai p 0,05 berarti ada perbedaan penurunan tingkat nyeri dismenorea pada intervensi Asam mefenamat 500 mg dan Ibuprofen 200 mg. Perbedaan rata-rata nyeri dismenorea pada intervensi sebesar 0.687. Hal ini menunjukkan bahwa Ibuprofen 200mg mampu menurunkan lebih besar sebanyak 0.687 kali dibandingkan pemberian asam mefenamat 500 mg. Terdapat perbandingan efektivitas antara asam mefenamat dan ibuprofen terhadap tingkat dismenore pada mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Batam.

Berdasarkan analisis dan pembahasan hasil penelitian tentang Perbandingan Efektivitas Antara Asam mefenamat dan Ibuprofen Terhadap Tingkat Dismenorea pada Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Batam Tahun 2023, peneliti menyimpulkan bahwa intervensi dengan Ibuprofen dan Asam Mefenamat mampu menurunkan tingkat dismenorea pada mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Batam Tahun 2023, dengan Ibuprofen lebih efektif dalam menurunkan tingkat dismenorea di bandingkan dengan asam mefenamat karena mampu menurukan tingkat dismenorea sebanyak 0.687 kali lebih besar dibandingkan pemberian asam mefenamat.

Berdasarkan latar belakang, metode, hasil, keterbatasan, dan juga bagian saran penelitian lanjutan, terdapat beberapa ide penelitian lanjutan yang dapat dikembangkan. Pertama, penelitian selanjutnya dapat menginvestigasi pengaruh kombinasi terapi farmakologis (seperti ibuprofen atau asam mefenamat) dengan terapi non-farmakologis (seperti akupunktur atau yoga) terhadap efektivitas penanganan dismenore. Hal ini bertujuan untuk mengeksplorasi potensi sinergi antara pendekatan medis dan alternatif dalam mengurangi nyeri dan meningkatkan kualitas hidup pasien dismenore. Kedua, penelitian dapat difokuskan pada identifikasi faktor-faktor biologis, psikologis, dan sosial yang berkontribusi terhadap variasi respons terhadap terapi dismenore. Dengan memahami faktor-faktor ini, dapat dikembangkan strategi penanganan yang lebih personal dan efektif. Ketiga, penelitian longitudinal dapat dilakukan untuk mengevaluasi dampak jangka panjang dari berbagai intervensi dismenore terhadap kesehatan reproduksi dan kualitas hidup perempuan. Studi ini dapat memberikan wawasan berharga tentang efektivitas intervensi dalam mencegah komplikasi jangka panjang dan meningkatkan kesejahteraan perempuan secara keseluruhan.

  1. An insight of non-steroidal anti-inflammatory drug mefenamic acid: A review | GSC Biological and Pharmaceutical... doi.org/10.30574/gscbps.2019.7.2.0066An insight of non steroidal anti inflammatory drug mefenamic acid A review GSC Biological and Pharmaceutical doi 10 30574 gscbps 2019 7 2 0066
Read online
File size184.55 KB
Pages9
DMCAReport

Related /

ads-block-test