UNIBUNIB

Journal of Applied Linguistics and LiteratureJournal of Applied Linguistics and Literature

Setiap hari, manusia terlibat dalam berbagai jenis wacana. Dengan perbedaan sikap, keyakinan, dan perilaku setiap individu, persuasi menjadi keterampilan yang berperan penting. Oleh karena itu, sangat penting untuk mengembangkan kemampuan menganalisis pesan persuasif secara kritis (Borchers, 2005) dan, dengan demikian, menguasai seni persuasi. Penelitian ini, yang mengkaji retorika mantan Presiden Filipina Rodrigo Roa Duterte (PRRD), telah menghasilkan temuan signifikan. Beberapa pidato PRRD telah dicermati berkali-kali melalui Analisis Wacana (AW). Banyak peneliti telah menggunakan Analisis Wacana Kritis (AWK), sementara hanya sedikit yang mencoba menggunakan Analisis Wacana Retoris (AWR). Oleh karena itu, peneliti melakukan studi ini untuk lebih memperkaya literatur tentang AWR dalam pidato-pidato PRRD. Dalam penelitian ini, peneliti melakukan AWR terhadap pidato PRRD yang berjudul “Pidato Kenegaraan Presiden Rodrigo Roa Duterte tentang Penyakit Virus Corona 2019 (COVID-19) Pandemi untuk mengidentifikasi dan menyelidiki perangkat retoris dan elemen retoris yang ditemukan dalam teks yang secara signifikan berperan dalam menggeneralisasi jenis retorika mantan Presiden Duterte. Sebagaimana terungkap, PRRD menggunakan perangkat retoris seperti deskripsi, pronomina persona, modalitas, hubungan sebab-akibat, repetisi, serta bukti dan otoritas. Selain itu, ia juga menggunakan tiga elemen retoris seperti logos melalui hubungan sebab-akibat, etos melalui kewarganegaraan Filipina, asal usul lokal atau etnis, dan pengalamannya sebagai presiden, serta patos melalui tampilan emosi yang bervariasi seperti ketakutan, simpati dan empati, cinta dan kasih sayang, rasa hormat, kepercayaan dan jaminan, serta rasa iba. Sebagai kesimpulan, PRRD disajikan sebagai retorikus yang memanfaatkan daya tarik ketakutan untuk mencontohkan argumennya, yang terbukti dalam perangkat retoris dan elemen retoris dalam pidatonya.

Penelitian ini menemukan bahwa Rodrigo Roa Duterte (PRRD) menggunakan perangkat retoris seperti deskripsi, pronomina persona, modalitas, hubungan sebab-akibat, repetisi, serta bukti dan otoritas dalam pidatonya, di samping elemen retoris etos, logos, dan patos.Sebagai seorang retorikus, daya tarik ketakutan (pathos) adalah aspek yang paling dominan dalam retorikanya, yang digunakan untuk menegakkan ketertiban di negaranya.Secara keseluruhan, Presiden Duterte adalah seorang retorikus yang memanfaatkan logika, kredibilitas, dan emosi untuk menyampaikan argumen dan membujuk audiensnya.

Penelitian ini membuka pemahaman penting mengenai retorika Presiden Duterte. Untuk penelitian lanjutan, ada beberapa arah menarik yang dapat dieksplorasi agar wawasan kita terhadap komunikasi politik semakin mendalam. Pertama, akan sangat berharga untuk melakukan studi komparatif yang lebih luas, tidak hanya membandingkan retorika Presiden Duterte dengan Presiden Ferdinand Marcos Jr., tetapi juga menyelidiki bagaimana retorika presiden Filipina beradaptasi atau tetap konsisten saat menghadapi jenis krisis yang berbeda. Misalnya, apakah strategi persuasif yang digunakan saat pandemi COVID-19 serupa atau berbeda dengan yang diterapkan selama bencana alam, krisis ekonomi, atau konflik sosial? Analisis ini dapat mengungkap pola penggunaan perangkat retoris dan elemen persuasif dalam konteks tantangan nasional yang beragam. Kedua, mengingat temuan bahwa daya tarik ketakutan sangat dominan dalam retorika Presiden Duterte, penelitian selanjutnya dapat fokus secara eksklusif untuk memahami mekanisme spesifik bagaimana ketakutan itu dikonstruksi secara linguistik dan psikologis dalam pidato politik. Penting juga untuk meneliti dampak jangka panjang dari retorika berbasis ketakutan terhadap perilaku publik, kepatuhan terhadap kebijakan pemerintah, serta tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pemimpin dan institusi. Apakah retorika semacam ini efektif dalam jangka pendek namun menimbulkan efek samping negatif dalam jangka panjang? Terakhir, sebuah area penelitian yang belum banyak disentuh adalah bagaimana publik Filipina benar-benar menafsirkan dan merespons strategi retoris ini. Studi lanjutan dapat menggunakan metodologi berbasis audiens, seperti survei atau kelompok diskusi terfokus, untuk mengukur persepsi warga terhadap penggunaan emosi, argumen logis, dan kredibilitas dalam pidato presiden, serta bagaimana faktor budaya dan lokalitas memengaruhi penerimaan pesan-pesan tersebut.

  1. (PDF) A Discourse Analysis on President Duterte's Speech Acts in-relation-to the Novel CoronaVirus.... doi.org/10.13140/RG.2.2.18571.21281/1PDF A Discourse Analysis on President Dutertes Speech Acts in relation to the Novel CoronaVirus doi 10 13140 RG 2 2 18571 21281 1
  2. Journal of Applied Linguistics and Literature. rhetorical strategies create incremental innovation applied... ejournal.unib.ac.id/joall/article/view/29780Journal of Applied Linguistics and Literature rhetorical strategies create incremental innovation applied ejournal unib ac joall article view 29780
  3. UNU-WIDER : Working Paper : Duterte’s pandemic populism. unu wider working paper duterte pandemic... doi.org/10.35188/UNU-WIDER/2022/194-5UNU WIDER Working Paper DuterteAos pandemic populism unu wider working paper duterte pandemic doi 10 35188 UNU WIDER 2022 194 5
Read online
File size247.86 KB
Pages19
DMCAReport

Related /

ads-block-test