USUUSU

LingPoet: Journal of Linguistics and Literary ResearchLingPoet: Journal of Linguistics and Literary Research

Artikel ini membahas perbedaan fonologis antara Bahasa Indonesia dan bahasa Singkil dalam konteks variasi dan identitas bahasa di kalangan masyarakat Singkil. Variasi bahasa mencakup salah satu atribut bahasa manusia yang ditunjukkan melalui perbedaan dalam hal pengucapan dan struktur. Tujuan penelitian ini adalah untuk menemukan kesamaan fonologis antara Bahasa Indonesia dan bahasa Singkil, mengidentifikasi perbedaan dalam sistem fonologis kedua bahasa tersebut, serta menyelidiki sikap masyarakat Singkil terhadap bahasa mereka sendiri dan Bahasa Indonesia. Penelitian ini dilakukan terhadap siswa kelas tiga SDN 1 yang berbicara dalam bahasa Singkil di Kecamatan Kuta Baharu. Sepuluh siswa terlibat dalam membaca sebuah teks Bahasa Indonesia. Bukti yang dikumpulkan melalui observasi, analisis data sekunder, wawancara terstruktur, dan kuesioner menunjukkan bahwa bunyi ᵐb, ᵐp, ⁿc, ⁿd, ⁿg, dan ⁿj bukanlah dialek sama sekali. Semua penutur bahasa Singkil mengucapkan kata-kata yang mengandung bunyi-bunyi tersebut dengan pengucapan yang sama. Hal ini dimungkinkan karena pengaruh bahasa luar (di luar bahasa Singkil). Dalam kasus ini, beberapa siswa mengucapkan [ᵐb] menjadi [b], [ᵐp] menjadi [p], dan ini hanya dilakukan oleh segelintir penutur bahasa Singkil. Dari kondisi ini, dapat disimpulkan bahwa pergeseran bahasa terjadi pada penutur bilingual. Bilingualisme dimulai ketika orang-orang berinteraksi dengan orang-orang dan bahasa lain, serta karena kebutuhan lain. Hal ini dapat dilihat dari perubahan [ᶬp] menjadi [p], [ⁿb] menjadi [b], [ⁿɟ] menjadi [ɟ], yang merupakan salah satu bentuk pergeseran bahasa. Pada akhirnya, identitas penutur bahasa Singkil tercermin dalam sikap mereka terhadap bahasa mereka sendiri berdasarkan 12 pertanyaan, yang sebagian besar menunjukkan sikap positif. Nilai rata-rata yang diperoleh adalah 2,7. Sementara itu, hasil penelitian menunjukkan bahwa sikap responden terhadap Bahasa Indonesia sama, baik positif maupun negatif.

Setelah menganalisis sistem fonologis Bahasa Indonesia dan bahasa Singkil, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut.Perbedaan pertama antara Bahasa Indonesia dan bahasa Singkil adalah beberapa fonem konsonan dalam Bahasa Indonesia, seperti /z/, //, /v/, /r/, dan /f/, tidak ditemukan dalam bahasa Singkil.Sementara itu, dalam bahasa Singkil hanya terjadi perubahan bunyi fonem /z/ menjadi /j/, fonem /ʃ/ menjadi /s/, fonem /v/ dan /f/ menjadi /p/.Ada juga perbedaan dalam /p/, /b/, /g/, /c/, dan /j/ ketika mereka muncul dalam posisi awal.Sebagai contoh, fonem /p/ dalam posisi awal menjadi /ᶬp/, fonem /b/ dalam posisi awal menjadi /ᶬb/, fonem /c/ dalam posisi awal menjadi /ⁿc/, fonem /d/ dalam posisi awal menjadi /nd/, fonem /g/ dalam posisi awal menjadi /ⁿg/, dan fonem /j/ dalam posisi awal menjadi /nj/.Perbedaan kedua yang signifikan antara Bahasa Indonesia dan bahasa Singkil adalah pada fitur fonetik fonem /r/ dalam Bahasa Indonesia, yaitu voiced, alveolar, dan trilled, sedangkan dalam bahasa Singkil adalah uvular, voiced, dan fricative.Mereka hanya mengucapkan /x/ untuk fonem /r/, yang menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat Singkil masih mempertahankan identitas mereka.Ketiga, sistem fonologis Bahasa Indonesia dan bahasa Singkil secara prinsip serupa dalam konsonan.Mereka serupa dalam hal oposisi fonemik dan fitur fonetik dalam kedua bahasa.Meskipun, sebagian besar kata-kata Singkil di atas merupakan pinjaman dari kata-kata Bahasa Indonesia.Keempat, bilingualisme dalam hal yang berkaitan dengan seperangkat bentuk dan fungsi, dalam upaya untuk menggambarkan manifestasi linguistik bilingualisme yang berbeda terkait dengan distribusi struktural dan fungsional yang berbeda dari varietas bahasa dalam sebuah komunitas.Kelima, bunyi [ᵐp], [ᵐb], [ⁿc], [ⁿg], dan [ⁿj] menunjukkan identitas kelompok penutur bahasa Singkil.Dan bunyi-bunyi ini hanya terjadi dalam posisi awal, bukan dalam posisi medial dan akhir dalam oposisi fonemik.Dari temuan ini, bunyi ᵐb, ᵐp, ⁿc, ⁿd, ⁿg, dan ⁿj bukanlah dialek sama sekali.Semua penutur bahasa Singkil mengucapkan kata-kata yang mengandung bunyi-bunyi tersebut dengan pengucapan yang sama.Selain itu, pengucapan kata-kata ini tidak memiliki klasifikasi berdasarkan usia, kelas, dan beberapa batasan.Hal ini dimungkinkan karena pengaruh bahasa luar (di luar bahasa Singkil).Dalam kasus ini, beberapa orang muda mengucapkan [ᵐb] menjadi [b], [ᵐp] menjadi [p], dan ini hanya dilakukan oleh segelintir penutur bahasa Singkil.Dari kondisi ini, dapat disimpulkan bahwa pergeseran bahasa terjadi pada penutur bilingual.Bilingualisme dimulai ketika orang-orang berinteraksi dengan orang-orang dan bahasa lain, serta karena kebutuhan lain.Hal ini dapat dilihat dari perubahan [ᶬp] menjadi [p], [ⁿb] menjadi [b], [ⁿɟ] menjadi [ɟ], yang merupakan salah satu bentuk pergeseran bahasa.Sikap penutur bahasa Singkil terhadap bahasa mereka sendiri berdasarkan 12 pertanyaan sebagian besar menunjukkan sikap positif.Sementara itu, hasil penelitian menunjukkan bahwa sikap responden terhadap Bahasa Indonesia sama, baik positif maupun negatif.Dari penelitian ini, siswa senang menggunakan bahasa mereka dan mengidentifikasi diri mereka sebagai orang kampong.Saat ini, beberapa organisasi, pemerintah daerah, dan Aceh telah didirikan untuk mempromosikan bahasa, budaya, dan identitas mereka.

Berdasarkan latar belakang, metode, hasil, keterbatasan, dan saran penelitian lanjutan yang ada dalam paper, berikut adalah saran penelitian lanjutan yang baru:. . 1. Mengkaji lebih lanjut pengaruh bilingualisme dalam pergeseran bahasa dan identitas budaya di kalangan masyarakat Singkil. Penelitian ini dapat fokus pada bagaimana bahasa Singkil dan Bahasa Indonesia saling berinteraksi dan mempengaruhi satu sama lain dalam konteks bilingualisme. . . 2. Melakukan studi komparatif antara bahasa Singkil dan bahasa-bahasa daerah lainnya di Indonesia, terutama dalam hal variasi fonologis dan pengaruh bahasa luar. Penelitian ini dapat membantu memahami dinamika bahasa daerah dalam konteks bilingualisme dan pergeseran bahasa.. . 3. Menganalisis sikap masyarakat Singkil terhadap bahasa mereka sendiri dan Bahasa Indonesia secara lebih mendalam. Penelitian ini dapat menyelidiki faktor-faktor sosial, budaya, dan psikologis yang mempengaruhi sikap mereka, serta implikasi sikap tersebut terhadap penggunaan dan pelestarian bahasa Singkil.

  1. Article | KnE Open. article kne open social sciences issn 668x latest conference proceedings humanities... doi.org/10.18502/kss.v3i4.1930Article KnE Open article kne open social sciences issn 668x latest conference proceedings humanities doi 10 18502 kss v3i4 1930
  2. CONTRASTIVE ANALYSIS: PROBLEMS AND PROCEDURES - Whitman - 1970 - Language Learning - Wiley Online Library.... onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1111/j.1467-1770.1970.tb00476.xCONTRASTIVE ANALYSIS PROBLEMS AND PROCEDURES Whitman 1970 Language Learning Wiley Online Library onlinelibrary wiley doi 10 1111 j 1467 1770 1970 tb00476 x
Read online
File size464.42 KB
Pages13
DMCAReport

Related /

ads-block-test