KEMNAKERKEMNAKER

Jurnal KetenagakerjaanJurnal Ketenagakerjaan

Perkembangan ekonomi digital telah mendorong pertumbuhan pekerja gig sebagai pendorong baru pembangunan ekonomi regional di Indonesia. Penelitian ini menguji bagaimana aktivitas terkait gig memengaruhi output sektor jasa dan mengeksplorasi efek limpahan spasialnya antar provinsi. Menggunakan Spatial Durbin Error Model (SDEM), analisis ini menggunakan output sektor jasa sebagai variabel dependen dan mencakup Night-Time Lights (NTL), pekerja non-pertanian kasual, persentase pengguna internet, upah minimum provinsi, rata-rata tahun sekolah, dan output industri mikro dan kecil (IMK) sebagai variabel independen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa NTL, pekerja non-pertanian kasual, dan rata-rata tahun sekolah secara positif dan signifikan memengaruhi output sektor jasa, menyoroti peran ekonomi gig dan modal manusia dalam pertumbuhan produktivitas. Sebaliknya, penggunaan internet menunjukkan efek negatif, mengindikasikan pemanfaatan digital yang tidak merata. Secara spasial, lag pekerja non-pertanian kasual menunjukkan efek limpahan negatif, menyiratkan bahwa provinsi dengan output sektor jasa yang lebih tinggi cenderung menarik pekerja lintas-wilayah, sehingga mengurangi ketersediaan tenaga kerja di wilayah tetangga. Sementara itu, output IMK di provinsi yang berdekatan menunjukkan efek limpahan positif, mengindikasikan keterkaitan komplementer yang memperkuat aktivitas ekonomi antar-wilayah. Temuan ini menyiratkan bahwa ekonomi gig dapat berfungsi sebagai mekanisme efektif untuk meningkatkan output ekonomi regional melalui diversifikasi pekerjaan, terutama di tengah terbatasnya peluang kerja formal. Penguatan ekosistem ketenagakerjaan berbasis gig karenanya dapat menjadi pilihan strategis untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi dan mendorong pengembangan pasar tenaga kerja yang inklusif di Indonesia.

Studi ini menyoroti peran signifikan ekonomi gig, yang diproksikan melalui Night-Time Lights dan pekerja non-pertanian kasual, dalam mendorong pertumbuhan output sektor jasa dan diversifikasi lapangan kerja di Indonesia.Secara langsung, NTL, pekerja non-pertanian kasual, dan rata-rata tahun sekolah secara signifikan memengaruhi output sektor jasa, sementara persentase pengguna internet menunjukkan dampak negatif.secara spasial, output IMK memberikan limpahan positif, namun pekerja non-pertanian kasual justru menimbulkan limpahan negatif akibat migrasi tenaga kerja antar-wilayah.Meskipun ekonomi gig menawarkan manfaat ekonomi, tantangan terkait ketidakstabilan pendapatan, kurangnya perlindungan sosial, dan konsentrasi di perkotaan perlu diatasi untuk memastikan kontribusinya terhadap pembangunan regional yang inklusif dan berkelanjutan.

Penelitian lanjutan dapat memperdalam pemahaman tentang fenomena ekonomi gig di Indonesia dengan beberapa arah studi baru. Pertama, mengingat temuan adanya dampak negatif dari persentase pengguna internet, penelitian selanjutnya perlu menggali lebih jauh akar penyebab ketidakmerataan pemanfaatan digital di seluruh provinsi. Studi ini bisa berupa analisis kualitatif atau kuantitatif yang menguji faktor-faktor seperti tingkat literasi digital, kualitas infrastruktur internet, dan perbedaan akses ke platform digital di berbagai kelompok demografi atau wilayah, untuk merumuskan strategi peningkatan inklusi digital yang lebih efektif. Kedua, untuk mengatasi efek limpahan negatif dari pekerja non-pertanian kasual, penting untuk meneliti lebih detail dinamika migrasi tenaga kerja antar-provinsi. Pertanyaan penelitian bisa mencakup identifikasi karakteristik spesifik pekerja yang bermigrasi, faktor pendorong dari daerah asal dan faktor penarik ke daerah tujuan, serta dampak jangka panjang migrasi ini terhadap pembangunan ekonomi dan ketersediaan tenaga kerja terampil di provinsi-provinsi yang kehilangan pekerja. Ketiga, mengingat tantangan ketidakstabilan pendapatan dan minimnya perlindungan sosial bagi pekerja gig yang disorot dalam studi ini, riset di masa depan dapat mengeksplorasi model perlindungan sosial yang inovatif dan adaptif untuk pekerja platform di Indonesia. Ini bisa melibatkan studi komparatif dengan praktik terbaik internasional atau pengembangan kerangka kebijakan yang mengintegrasikan jaminan kesehatan, pensiun, dan asuransi kecelakaan kerja, dengan mempertimbangkan keberlanjutan finansial dan fleksibilitas model kerja gig. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya akan memperkaya literatur, tetapi juga memberikan dasar yang lebih kuat bagi formulasi kebijakan yang mendukung pertumbuhan ekonomi gig yang lebih merata dan berkeadilan.

  1. Comm-Edu. pengaruh layanan transportasi gojek perluasan lapangan masyarakat cimahi comm edu community... doi.org/10.22460/comm-edu.v3i1.3719Comm Edu pengaruh layanan transportasi gojek perluasan lapangan masyarakat cimahi comm edu community doi 10 22460 comm edu v3i1 3719
  2. Gig Economy as a Strategy for Employment Diversification in the Digital Era: A Spatial Analysis of Indonesia’s... doi.org/10.47198/jnaker.v20i3.626Gig Economy as a Strategy for Employment Diversification in the Digital Era A Spatial Analysis of IndonesiaAos doi 10 47198 jnaker v20i3 626
  3. Eurasian Economists Association. eurasian economists association paper properties status published language... avekon.org/?p=/conf/11/paperdetail&id=2265Eurasian Economists Association eurasian economists association paper properties status published language avekon p conf 11 paperdetail id 2265
Read online
File size764.73 KB
Pages19
DMCAReport

Related /

ads-block-test