POLIMDOPOLIMDO

Jurnal Teknik Sipil TerapanJurnal Teknik Sipil Terapan

Sungai Bailang merupakan salah satu sungai penyebab banjir di Kota Manado. Sungai Bailang sering meluap sehingga mengakibatkan banjir dan menggenangi pemukiman di sekitar sungai. Kejadian banjir sangat merugikan masyarakat yang berada di sekitar sungai Bailang. Selain kerugian materi, banjir ini juga menimbulkan berbagai macam penyakit dan masyarakat terdampak tidak bisa beraktivitas atau bekerja. Penelitian ini mendapatkan debit banjir dengan analisis hidrologi menggunakan program HEC-HMS dengan parameter-parameter yang telah terkalibrasi. Kemudian dilakukan pemodelan penanganan kolam retensi dengan beberapa alternatif pada kala ulang 2, 5, 10, dan 25 tahun. Pemodelan dilakukan dengan tiga alternatif, yaitu 1) kolam retensi Sub DAS Kilu; 2) kolam retensi Sub DAS Kilu dan Pesawangan; dan 3) kolam retensi Sub DAS Kilu, Pesawangan, dan Bailang 1. Hasil simulasi memperoleh besaran banjir eksisting dan besaran banjir setelah adanya kolam retensi dengan tiga alternatif pada kala ulang 2, 5, 10, dan 25 tahun. Dari tiga alternatif, kolam retensi yang paling efektif pada kala ulang 25 tahun adalah alternatif dengan dua kolam retensi (Sub DAS Kilu dan Pesawangan) yang mereduksi banjir sebesar 9%, lebih besar dibandingkan alternatif dengan tiga kolam retensi (Sub DAS Kilu, Pesawangan, Bailang 1) sebesar 8%.

Kolam retensi pada Sub DAS Kilu mampu mereduksi debit banjir di outlet DAS Bailang hingga 6% pada kala ulang 2 tahun, namun efektivitasnya menurun pada kala ulang yang lebih tinggi.Kombinasi kolam retensi di Sub DAS Kilu dan Pesawangan memberikan reduksi banjir yang lebih stabil, mencapai 9% pada kala ulang 25 tahun.Alternatif dengan tiga kolam retensi justru kurang efektif karena terjadi puncak banjir secara bersamaan, sehingga disarankan pembangunan kolam retensi difokuskan pada Sub DAS Kilu dan Pesawangan.

Pertama, perlu diteliti efektivitas penambahan kolam retensi di sub DAS lain seperti Mahawu, Kima Kecil, atau Bailang 2–5 untuk mengetahui kombinasi lokasi yang dapat meningkatkan reduksi banjir secara lebih optimal dibandingkan skenario saat ini. Kedua, perlu dikaji desain kolam retensi dengan sistem pelepasan bertahap agar puncak aliran dari masing-masing kolam tidak terjadi bersamaan, sehingga menghindari penumpukan debit di hilir dan meningkatkan efisiensi pengendalian banjir. Ketiga, perlu dilakukan simulasi dampak perubahan tata guna lahan dan peningkatan curah hujan ekstrem akibat perubahan iklim terhadap kinerja kolam retensi, untuk memastikan infrastruktur ini tetap efektif dalam jangka panjang di bawah kondisi lingkungan yang dinamis. Kombinasi ketiga pendekatan ini akan memberikan rekomendasi perencanaan yang lebih komprehensif, tidak hanya dari sisi teknis infrastruktur tetapi juga adaptasi terhadap dinamika lingkungan dan tata ruang wilayah hulu DAS Bailang.

Read online
File size499.4 KB
Pages10
DMCAReport

Related /

ads-block-test