SINOMICSJOURNALSINOMICSJOURNAL

International Journal of Social Science, Education, Communication and EconomicsInternational Journal of Social Science, Education, Communication and Economics

Kincir air merupakan alat penting dalam budidaya udang intensif. Tujuan penelitian ini adalah menentukan kinerja dan konsumsi daya listrik kincir air berdasarkan hasil analisis pemodelan dinamis. Penelitian ini menggunakan rancangan eks-post fakto dengan analisis data menggunakan sistem pemodelan dinamis. Hasil menunjukkan tingkat salinitas tambak 1 berkisar 20-27 gr/L dan tambak 2 berkisar 31-33 gr/L, pH tambak 1 berkisar 7,9-9,0 dan tambak 2 berkisar 8,1-8,3, konsentrasi oksigen terlarut tambak 1 berkisar 4,43-6,93 mg/L dan tambak 2 berkisar 4,72-5,99 mg/L, suhu tambak 1 berkisar 27,15-31,40°C dengan kecerahan 43 cm dan tambak 2 berkisar 27,50-29,85°C dengan kecerahan 49 cm. Dari perhitungan, kincir air 1 HP menghasilkan oksigen rata-rata 2,12 mgO2/jam (1,68–2,89 mgO2/jam) dengan tekanan gas 10,31–16,00 mmHg, sedangkan kincir air 2 HP menghasilkan oksigen rata-rata 3,20 mgO2/jam (2,82–3,65 mgO2/jam) dengan tekanan gas 10,05–14,56 mmHg. Kebutuhan daya listrik kumulatif untuk tambak 1 sekitar 6,83–10,38 kW dan tambak 2 sekitar 6,59–7,71 kW. Kinerja kincir air 1 HP lebih efektif dibandingkan kincir air 2 HP sebanyak empat unit. Hasil analisis model dinamis memperkirakan produksi oksigen terlarut oleh kincir air selama satu siklus budidaya berkisar 1–2,70 mgO2/jam dan 1–2,75 mgO2/jam dengan kecepatan rotasi 0–30 rpm/s dan kebutuhan daya 8–10 kW. Simpulan dari penelitian ini adalah penggunaan kincir air 1 HP dalam jumlah banyak terbukti lebih efektif, dan berdasarkan hasil analisis sistem pemodelan dinamis, kinerja produksi oksigen terlarut oleh kincir air akan stagnan pada minggu kesepuluh masa budidaya, disertai peningkatan kebutuhan daya listrik.

Penggunaan kincir air 1 HP dalam jumlah besar lebih efektif dibandingkan kincir air 2 HP dalam jumlah sedikit.Kinerja produksi oksigen terlarut oleh kincir air meningkat hingga minggu kesepuluh masa budidaya, kemudian mengalami stagnasi.Kondisi ini berkorelasi dengan kebutuhan daya listrik yang terus meningkat dari minggu ke minggu.

Pertama, perlu dilakukan penelitian tentang pengaruh penggunaan kincir air yang dikendalikan secara otomatis berbasis teknologi IoT terhadap efisiensi konsumsi listrik dan stabilitas kualitas air dalam tambak udang intensif. Kedua, perlu dikembangkan model pemodelan dinamis yang mempertimbangkan faktor lingkungan harian seperti suhu, intensitas cahaya, dan aktivitas pakan untuk memprediksi kebutuhan aerasi secara real-time. Ketiga, sebaiknya dilakukan penelitian komparatif tentang kinerja kombinasi kincir air berdaya rendah dalam jumlah banyak versus kincir air berdaya tinggi dalam jumlah sedikit pada sistem tambak dengan kedalaman dan ukuran berbeda, untuk menentukan desain optimal yang hemat energi dan maksimal dalam produksi oksigen terlarut. Penelitian-penelitian ini dapat membantu petambak menerapkan sistem aerasi yang lebih presisi, hemat biaya, dan mendukung pertumbuhan udang yang optimal tanpa boros energi. Dengan pendekatan model dinamis dan teknologi kontrol otomatis, pengelolaan tambak dapat menjadi lebih berkelanjutan secara ekonomi dan lingkungan.

Read online
File size1000.7 KB
Pages16
DMCAReport

Related /

ads-block-test