BAJANGJOURNALBAJANGJOURNAL

International Journal of Social ScienceInternational Journal of Social Science

Ketimpangan gender masih terjadi di tempat kerja, di mana perempuan menghadapi hambatan dalam meniti karier yang lebih tinggi. Salah satu hambatan berasal dari lingkungan institusional berupa kesenjangan gender yang membuat perempuan semakin sulit mencapai posisi kepemimpinan. Stereotip gender menghambat kemajuan karier perempuan, mengakibatkan fenomena langit kaca. Penelitian ini mengkaji pengaruh ketimpangan gender terhadap kepuasan karier terhadap kepemimpinan perempuan Papua selama masa kerja mereka di institusi publik. Pendekatan kualitatif deskriptif digunakan; partisipan yang dipilih adalah pemimpin perempuan di institusi publik, termasuk sektor pendidikan, pemerintahan, kesehatan, dan perpustakaan. Pola dalam penelitian menunjukkan bahwa perempuan masih kurang terwakili dalam posisi manajerial tingkat atas karena merasa diperlakukan tidak adil oleh institusi. Hambatan umumnya lebih besar daripada peluang untuk kemajuan karier, termasuk fenomena langit kaca di tempat kerja dengan anggapan bahwa laki-laki lebih menjadi pemimpin yang baik. Akibatnya, lebih banyak perempuan naik ke posisi kepemimpinan di semua tingkatan, termasuk posisi pelayanan publik fungsional. Berdasarkan hasil ini, pemimpin perlu membangun hubungan berkualitas tinggi dengan atasan dan bawahan untuk mencegah langit kaca di tempat kerja, sehingga mendorong kesetaraan gender secara lebih luas di masyarakat yang mereka layani.

Pemahaman terhadap sistem institusional sangat penting untuk kemajuan penelitian mengenai kepemimpinan dalam berbagai konteks.Jika akademisi, pembuat kebijakan, dan praktisi tidak memahami secara memadai kekuatan tingkat sosial yang menghambat atau memfasilitasi ketimpangan gender dalam kepemimpinan perempuan, maka tidak akan dapat merancang program dan kebijakan yang tepat untuk mengatasi isu tersebut.Oleh karena itu, peneliti yang mempelajari ketimpangan gender dalam kepemimpinan perempuan merekomendasikan perlunya studi lebih lanjut untuk mengeksplorasi hambatan dalam kaitannya dengan berbagai suku di seluruh Papua.Eksplorasi terhadap hambatan personal, institusional, ekonomi, dan sosial yang dihadapi oleh perempuan pemimpin di sektor publik diperlukan untuk memberikan informasi terbaru mengenai tantangan-tantangan tersebut.

Pertama, perlu dilakukan penelitian komparatif mengenai hambatan kepemimpinan perempuan di berbagai suku di Papua untuk memahami bagaimana adat dan budaya lokal secara spesifik memengaruhi akses perempuan terhadap posisi strategis. Kedua, sebaiknya dikaji secara mendalam pengaruh kebijakan afirmasi, seperti kuota 30% perempuan dalam lembaga legislatif, terhadap kenaikan karier perempuan di institusi publik lainnya, termasuk pendidikan dan kesehatan, untuk melihat efektivitasnya di luar ranah politik. Ketiga, diperlukan studi tentang dinamika keseimbangan kerja dan keluarga bagi perempuan pemimpin di Papua, termasuk peran dukungan institusional dan sistem perawatan anak, guna mengidentifikasi faktor-faktor struktural yang memperkuat atau melemahkan partisipasi jangka panjang perempuan dalam kepemimpinan. Penelitian-penelitian ini dapat saling melengkapi dengan pendekatan kualitatif yang dalam, melibatkan suara-suara perempuan dari berbagai latar belakang daerah dan sektor, serta memberikan dasar empiris bagi kebijakan yang lebih inklusif. Dengan memetakan variasi hambatan budaya dan kelembagaan, hasil penelitian dapat membantu merancang program pengembangan kepemimpinan yang disesuaikan dengan konteks lokal. Studi tentang kebijakan afirmasi juga penting untuk menilai apakah kesuksesan di satu sektor dapat direplikasi di sektor lain. Sementara itu, fokus pada keseimbangan kerja-keluarga akan mengungkap tantangan mikro yang sering kali diabaikan meskipun sangat menentukan. Ketiga arah penelitian ini memberikan pendekatan holistik yang tidak hanya menyoroti hambatan, tetapi juga membuka jalan bagi solusi berbasis bukti. Penelitian lanjutan sebaiknya juga mempertimbangkan peran lembaga agama dan tokoh adat dalam membentuk norma gender. Semua ide penelitian ini bertujuan memperdalam pemahaman lokal dan struktural untuk mendorong kepemimpinan perempuan yang berkelanjutan di Papua.

  1. Gender Equality and the Empowerment of Women and Girls | OECD. gender equality empowerment women girls... doi.org/10.1787/0bddfa8f-enGender Equality and the Empowerment of Women and Girls OECD gender equality empowerment women girls doi 10 1787 0bddfa8f en
  2. GENDER INEQUALITY IN WOMEN LEADERSHIP OF PUBLIC SECTOR INSTITUTIONS IN PAPUA, INDONESIA | International... bajangjournal.com/index.php/IJSS/article/view/9707GENDER INEQUALITY IN WOMEN LEADERSHIP OF PUBLIC SECTOR INSTITUTIONS IN PAPUA INDONESIA International bajangjournal index php IJSS article view 9707
Read online
File size160.49 KB
Pages6
DMCAReport

Related /

ads-block-test