UKIMUKIM

ARUMBAE: Jurnal Ilmiah Teologi dan Studi AgamaARUMBAE: Jurnal Ilmiah Teologi dan Studi Agama

Artikel ini membahas Kitab Wahyu, yang sering dianggap menakutkan karena kaya akan simbol-simbol apokaliptik dan narasi akhir zaman yang membingungkan serta menakutkan. Pemahaman semacam ini telah menimbulkan ketakutan dan kebingungan, terutama di kalangan pembaca modern, terkait konsep akhir zaman. Artikel ini mengatasi persoalan tersebut dengan tujuan mengkaji kembali pesan inti Kitab Wahyu melalui analisis Wahyu 21:1–8. Ayat ini dipahami sebagai puncak penyataan, yang menekankan janji keselamatan dan pembaruan dari Allah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah tinjauan pustaka yang dikombinasikan dengan pendekatan eksegesis historis-kritis untuk mengeksplorasi konteks historis dan makna teologis teks. Temuan menunjukkan bahwa Wahyu 21:1–8 menyajikan visi eskatologis yang penuh harapan, menegaskan bahwa keselamatan adalah pesan utama Kitab Wahyu. Oleh karena itu, meskipun kitab ini dimulai dengan simbol dan narasi yang tampak menakutkan, pembaca tidak seharusnya terjebak dalam ketakutan. Sebaliknya, mereka didorong untuk memahami keseluruhan kitab sebagai penyataan progresif atas kasih dan keselamatan Allah bagi umat manusia. Dengan demikian, akhir zaman seharusnya tidak lagi dipandang sebagai peristiwa yang menakutkan, melainkan sebagai permulaan keselamatan yang ditawarkan Allah kepada manusia.

Kitab Wahyu adalah kitab apokaliptik yang menceritakan akhir zaman, kehancuran dunia, dan keselamatan yang Allah berikan bagi orang percaya.Kitab ini terutama dimaksudkan untuk menguatkan orang percaya dan memberi tahu tentang konsep karya penyelamatan Allah.Memahami Kitab Wahyu sebagai sastra apokaliptik dapat membantu memahami mengapa kitab ini mengandung narasi-narasi menakutkan.Narasi-narasi tersebut adalah bagian awal yang mengarah pada bagian inti Kitab Wahyu, yaitu keselamatan dari Allah, sehingga Kitab Wahyu seharusnya dipahami sebagai kitab yang menguatkan dan memberikan keselamatan.

Pertama, perlu diteliti bagaimana narasi-narasi menakutkan dalam Kitab Wahyu dipahami oleh jemaat awam di berbagai konteks budaya Indonesia, untuk mengetahui dampak psikologis dan spiritualnya dalam kehidupan sehari-hari. Kedua, perlu dilakukan studi komparatif antara konsep pembaruan dunia dalam Wahyu 21:1-8 dengan nilai-nilai ekologis dalam tradisi lokal, untuk mengeksplorasi relevansi teologis pembaruan ciptaan dalam konteks krisis lingkungan saat ini. Ketiga, penting untuk mengkaji bagaimana struktur pembacaan Kitab Wahyu yang berfokus pada keselamatan dapat dikembangkan menjadi metode pendidikan alkitabiah bagi jemaat muda, sehingga mereka tidak hanya mengerti simbol-simbol apokaliptik, tetapi juga menemukan makna pengharapan dan keberanian iman di tengah tekanan kehidupan modern.

  1. Reorienting the Meaning of the Temple as a Worship Space based on the Interpretation of Revelation 21:22... ojs.seabs.ac.id/index.php/Veritas/article/view/588Reorienting the Meaning of the Temple as a Worship Space based on the Interpretation of Revelation 21 22 ojs seabs ac index php Veritas article view 588
  2. Not the End of Everything, but the Beginning of Salvation for All Creation: A Historical Interpretation... doi.org/10.37429/arumbae.v7i1.1524Not the End of Everything but the Beginning of Salvation for All Creation A Historical Interpretation doi 10 37429 arumbae v7i1 1524
  3. Hope for the People of God and for the World According to the Bible | Amsterdam University Press Journals... aup-online.com/content/journals/10.5117/EJT2023.2.003.STEIHope for the People of God and for the World According to the Bible Amsterdam University Press Journals aup online content journals 10 5117 EJT2023 2 003 STEI
Read online
File size328.66 KB
Pages12
DMCAReport

Related /

ads-block-test