UMSUMS
Forum GeografiForum GeografiKabupaten Banyumas adalah daerah yang memiliki potensi tinggi terhadap bahaya longsoran. Bahaya ini menimbulkan ancaman serius terhadap perencanaan spasial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penggunaan lahan di daerah rawan longsoran; membandingkan strategi perencanaan spasial di wilayah tersebut; dan menawarkan rekomendasi untuk perencanaan spasial yang efektif dalam mengurangi risiko longsoran. Penerapan pendekatan fisik, yang mencakup sepuluh parameter untuk mengevaluasi tingkat bahaya longsoran, dapat dianggap optimal. Temuan penelitian memiliki implikasi signifikan bagi perencanaan spasial dan manajemen risiko bencana di Kabupaten Banyumas. Hasil analisis menunjukkan bahwa area aktivitas masyarakat, seperti permukiman, pariwisata, dan zona industri, berada di area dengan bahaya longsoran rendah hingga sedang. Ini menunjukkan bahwa kabupaten ini memprioritaskan pertimbangan risiko bencana dalam perencanaan penggunaan lahan. Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan, termasuk kurangnya validasi data dan data historis longsoran di Kabupaten Banyumas terkait penilaian bahaya longsoran. Selain itu, studi hanya fokus pada zona bahaya longsoran di zona aktivitas masyarakat pusat, tetapi tidak mencakup permukiman di zona yang ditetapkan lainnya.
Penelitian ini mengusulkan penilaian bahaya longsoran dengan mengintegrasikan perencanaan spasial Kabupaten Banyumas.Teknologi GIS cocok untuk memetakan bahaya longsoran pada skala lokal dan regional.Pendekatan fisik yang dikombinasikan dengan perencanaan spasial Kabupaten Banyumas menghasilkan analisis komprehensif yang relevan dengan situasi saat ini.Integrasi pendekatan fisik dengan perencanaan spasial Kabupaten Banyumas menghasilkan analisis komprehensif yang relevan dengan konteks perkembangan regional.Analisis ini mempertimbangkan berbagai faktor spasial, seperti perubahan penggunaan lahan dan isu lingkungan, yang akhirnya memengaruhi strategi perencanaan dan pengendalian spasial Kabupaten Banyumas.Hasil penilaian bahaya longsoran menunjukkan bahwa sebagian besar memiliki tingkat bahaya sangat rendah hingga sedang.Pada tahap overlay, analisis bahaya longsoran di beberapa zona perencanaan spasial dikeluarkan, berdasarkan kepadatan penduduk yang tinggi dan aktivitas masyarakat yang signifikan.Dari hasil overlay, area bahaya setiap tingkat kelas sangat rendah (209,32 km²), rendah (466,2 km²), sedang (467,32 km²), tinggi (218,24 km²), dan sangat tinggi (10,35 km²).Berdasarkan hasil analisis, yang fokus pada area pusat yang dikarakterisasi oleh aktivitas masyarakat, area bahaya longsoran dikategorikan menjadi tingkat sangat rendah (68,95 km²), rendah (84,48 km²), sedang (25,56 km²), tinggi (3,75 km²), dan sangat tinggi (0,07 km²).
Penelitian lanjutan dapat fokus pada validasi data historis longsoran di Kabupaten Banyumas untuk meningkatkan akurasi prediksi bahaya. Selain itu, pengembangan model prediksi berbasis AI yang mengintegrasikan data satelit dan sensor lingkungan dapat meningkatkan efisiensi analisis risiko. Terakhir, studi tentang dampak perubahan penggunaan lahan terhadap stabilitas tanah di zona rawan longsoran perlu dilakukan untuk merumuskan kebijakan pengelolaan lahan yang lebih berkelanjutan. Penelitian ini juga dapat mengkaji penerapan teknologi GIS dengan resolusi tinggi untuk memetakan perubahan dinamis zona bahaya. Studi keterkaitan antara aktivitas manusia dan frekuensi longsoran di wilayah tertentu akan memberikan wawasan baru untuk mitigasi bencana. Selain itu, penelitian tentang efektivitas metode mitigasi tradisional yang digunakan masyarakat setempat dapat menjadi dasar untuk pengembangan pendekatan hybrid. Akhirnya, analisis keterkaitan antara perencanaan spasial dan pembangunan infrastruktur di zona rawan longsoran akan membantu mengurangi risiko kerusakan akibat bencana.
- Analysis of Spatial Planning in Landslide Hazard Zones in Banyumas Regency, Indonesia | Forum Geografi.... doi.org/10.23917/forgeo.v39i1.6685Analysis of Spatial Planning in Landslide Hazard Zones in Banyumas Regency Indonesia Forum Geografi doi 10 23917 forgeo v39i1 6685
- Analysis of conformity between existing land use with regional spatial planning: A case study of Sidenreng... doi.org/10.1088/1755-1315/486/1/012072Analysis of conformity between existing land use with regional spatial planning A case study of Sidenreng doi 10 1088 1755 1315 486 1 012072
| File size | 1.16 MB |
| Pages | 10 |
| DMCA | Report |
Related /
CEREDINDONESIACEREDINDONESIA Sebaliknya, koefisien aliran permukaan meningkat, menunjukkan risiko banjir yang lebih tinggi dan kapasitas penyerapan air yang berkurang. Wilayah berhutanSebaliknya, koefisien aliran permukaan meningkat, menunjukkan risiko banjir yang lebih tinggi dan kapasitas penyerapan air yang berkurang. Wilayah berhutan
ARITEKINARITEKIN Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif–deskriptif melalui studi literatur dan wawancara langsung dengan arsitek perancang. Hasil penelitianMetode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif–deskriptif melalui studi literatur dan wawancara langsung dengan arsitek perancang. Hasil penelitian
IPBIPB Luas penggunaan lahan yang tidak sesuai dengan daya dukungnya adalah 8. 286,44 ha yang tersebar di bagian selatan. Sementara itu, evaluasi rencana penggunaanLuas penggunaan lahan yang tidak sesuai dengan daya dukungnya adalah 8. 286,44 ha yang tersebar di bagian selatan. Sementara itu, evaluasi rencana penggunaan
IPBIPB Pemanfaatan citra Landsat 5 dan Landsat 8 melalui analisis terawasi mampu menunjukkan perubahan pemanfaatan lahan selama 15 tahun pasca-tsunami di BandaPemanfaatan citra Landsat 5 dan Landsat 8 melalui analisis terawasi mampu menunjukkan perubahan pemanfaatan lahan selama 15 tahun pasca-tsunami di Banda
YAZRIYAZRI Efektivitas kebijakan dipengaruhi oleh kapasitas lokal dan perencanaan spasial. Kebijakan ini juga menghasilkan dinamika sosial baru dalam komunitas sekolah.Efektivitas kebijakan dipengaruhi oleh kapasitas lokal dan perencanaan spasial. Kebijakan ini juga menghasilkan dinamika sosial baru dalam komunitas sekolah.
IUSIUS Ketidaksesuaian antara praktik PLHS dan prinsip konstitusional, khususnya terkait transparansi, partisipasi publik, dan keadilan lingkungan, telah berkontribusiKetidaksesuaian antara praktik PLHS dan prinsip konstitusional, khususnya terkait transparansi, partisipasi publik, dan keadilan lingkungan, telah berkontribusi
UMSUMS dolina berbentuk kolam yang berair, dan dolina berbentuk cekungan yang kering. Ukuran dolina di wilayah penelitian dipengaruhi oleh bentuk lembah berbentukdolina berbentuk kolam yang berair, dan dolina berbentuk cekungan yang kering. Ukuran dolina di wilayah penelitian dipengaruhi oleh bentuk lembah berbentuk
UMSUMS Hasil penelitian juga diharapkan dapat mendukung perencanaan spasial atau pengelolaan hutan dan lingkungan berkelanjutan di Pulau Mansinam. UAV berbiayaHasil penelitian juga diharapkan dapat mendukung perencanaan spasial atau pengelolaan hutan dan lingkungan berkelanjutan di Pulau Mansinam. UAV berbiaya
Useful /
IPBIPB Danau di kawasan perkotaan dapat mengalami gangguan akibat siltasi, konversi lahan, dan aktivitas antropogenik yang dapat memengaruhi kondisi fisikokimiaDanau di kawasan perkotaan dapat mengalami gangguan akibat siltasi, konversi lahan, dan aktivitas antropogenik yang dapat memengaruhi kondisi fisikokimia
IPBIPB Pertumbuhan perkebunan kelapa sawit di Indonesia meningkat pesat, namun diiringi dengan permasalahan lingkungan dan peningkatan emisi gas rumah kaca (GRK).Pertumbuhan perkebunan kelapa sawit di Indonesia meningkat pesat, namun diiringi dengan permasalahan lingkungan dan peningkatan emisi gas rumah kaca (GRK).
IPBIPB Hasil menunjukkan bahwa struktur histologis usus wader pari terdiri atas tunika mukosa, tunika submukosa, tunika muscularis, dan tunika serosa. Selanjutnya,Hasil menunjukkan bahwa struktur histologis usus wader pari terdiri atas tunika mukosa, tunika submukosa, tunika muscularis, dan tunika serosa. Selanjutnya,
IPBIPB Penelitian ini bertujuan untuk memahami pengalaman Provinsi Bali dalam menghadapi pandemi COVID-19 dari perspektif kepemimpinan dan kearifan lokal. HasilPenelitian ini bertujuan untuk memahami pengalaman Provinsi Bali dalam menghadapi pandemi COVID-19 dari perspektif kepemimpinan dan kearifan lokal. Hasil