NEWINERANEWINERA

Journal La BisecomanJournal La Bisecoman

Kolaborasi antara Kantor Urusan Agama (KUA) dan pemimpin agama telah berlangsung lama, mencakup layanan keagamaan seperti layanan pernikahan, penyelenggaraan STQ/MTQ (kompetisi menghafal Al-Quran), dan pengembangan keluarga. Penelitian ini bertujuan memahami kolaborasi antara KUA dan pemimpin agama dalam meningkatkan kinerja layanan KUA serta mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambatnya, dengan studi kasus di Kabupaten Mamuju pada Kecamatan Mamuju dan Tapalang. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis secara kualitatif deskriptif. Hasil menunjukkan bahwa meskipun kolaborasi telah lama diterapkan, belum terdapat pembagian peran yang jelas antara KUA dan pemimpin agama, sehingga kolaborasi masih bersifat adat setempat; peneliti merekomendasikan penerapan model layanan terintegrasi di mana semua layanan yang diberikan oleh pemimpin agama terkait KUA dapat diinternalisasikan dalam layanan KUA, dengan definisi terintegrasi sebagai layanan yang terhubung, terorkestrasi secara tepat, dan dapat diukur.

Kolaborasi antara KUA dan tokoh agama terbukti berperan dalam layanan pernikahan, STQ/MTQ, dan pengembangan keluarga, namun variasi bentuk dan metode di tiap daerah menuntut prosedur standar serta layanan terintegrasi untuk optimalisasi hasil.kendala utama meliputi masalah pendanaan, keterbatasan waktu karena aktivitas lain tokoh agama, serta kurangnya pemahaman terhadap regulasi terbaru, sementara faktor pendukung mencakup partisipasi sukarela, dana pelatihan tahfidz, dan penghargaan simbolik dari penyelenggara pernikahan.oleh karena itu, diperlukan pembagian peran yang jelas, SOP yang terstandardisasi, dan penerapan model layanan terintegrasi untuk meningkatkan kinerja layanan KUA.

Penelitian selanjutnya dapat mengeksplorasi (1) bagaimana mekanisme pembagian peran yang terstruktur antara KUA dan tokoh agama dapat mempengaruhi efektivitas layanan publik, dengan menggunakan pendekatan studi kasus komparatif antar‑daerah; (2) apa dampak pemberian insentif finansial atau non‑finansial kepada tokoh agama terhadap motivasi dan kualitas layanan yang diberikan, melalui survei kuantitatif dan analisis regresi; (3) sejauh mana penerapan platform digital terintegrasi (misalnya aplikasi komunikasi berbasis WhatsApp) dapat memperbaiki koordinasi, monitoring, dan evaluasi layanan KUA, diteliti dengan metode eksperimen lapangan dan analisis biaya‑manfaat. Penelitian ini diharapkan memberikan dasar kebijakan bagi pemerintah daerah untuk merancang SOP standar, skema insentif, dan infrastruktur digital yang mendukung kolaborasi berkelanjutan.

  1. Services and the Knowledge-Based Economy | Mark Boden, Ian Miles | Tay. services knowledge based economy... doi.org/10.4324/9781315864228Services and the Knowledge Based Economy Mark Boden Ian Miles Tay services knowledge based economy doi 10 4324 9781315864228
  2. Encyclopedia of Public Administration and Public Policy | Evan Berman. encyclopedia public policy evan... doi.org/10.1081/e-epap2Encyclopedia of Public Administration and Public Policy Evan Berman encyclopedia public policy evan doi 10 1081 e epap2
  3. Public Service Logic | Creating Value for Public Service Users, Citize. public service logic creating... taylorfrancis.com/books/9781000192087Public Service Logic Creating Value for Public Service Users Citize public service logic creating taylorfrancis books 9781000192087
  4. Effectiveness of Marriage Services Through Information System Management (SIMKAH) at Palu City Religious... ijcils.org/index.php/ijcils/article/view/12Effectiveness of Marriage Services Through Information System Management SIMKAH at Palu City Religious ijcils index php ijcils article view 12
Read online
File size576.38 KB
Pages22
DMCAReport

Related /

ads-block-test