PUBLIKASIINDONESIAPUBLIKASIINDONESIA

Jurnal Pendidikan IndonesiaJurnal Pendidikan Indonesia

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa penilaian penalaran ilmiah masih jarang diintegrasikan sebagai penilaian tingkat tinggi dan standar pendidikan sains baru dalam pembelajaran sekolah. Penelitian ini bertujuan mengembangkan instrumen tes kemampuan penalaran ilmiah yang terintegrasi dengan instrumen tes kemampuan komunikasi ilmiah (tes SR‑CS) pada konsep kerja dan energi. Penelitian menggunakan prosedur ADDIE yang meliputi lima tahap: analisis, perancangan, pengembangan, implementasi, dan evaluasi. Draf awal tes SR‑CS terdiri dari 14 butir soal pilihan ganda untuk penalaran ilmiah (SRS) dan 8 butir soal uraian untuk komunikasi ilmiah (SCS). Hasil penilaian ahli dianalisis dengan indeks validitas isi (CVI) dan diperoleh nilai 0,94 (sangat cocok) untuk instrumen SRS serta 0,97 (sangat cocok) untuk instrumen SCS. Setelah direvisi berdasarkan saran ahli, instrumen diuji pada 25 siswa (15 perempuan, 10 laki‑laki) berusia 16–17 tahun. Data percobaan dianalisis menggunakan Model Rasch untuk memperoleh kecocokan butir (validitas), reliabilitas, tingkat diferensiasi, dan tingkat kesulitan. Hasil menunjukkan bahwa semua 14 butir SRS dan 8 butir SCS memiliki validitas butir. Selain itu, reliabilitas butir instrumen SRS dan SCS masing‑masing sebesar 0,79 dan 0,91, sedangkan reliabilitas orang sebesar 0,82 (SRS) dan 0,91 (SCS). Dengan demikian, tes SR‑CS terbukti valid dan reliabel untuk mengukur kemampuan komunikasi ilmiah siswa dalam penelitian selanjutnya.

Instrumen tes kemampuan penalaran ilmiah yang dikembangkan terdiri dari 14 soal pilihan ganda dengan tingkat diferensiasi sangat baik dan reliabilitas item serta orang sebesar 0,89 dan 0,81, sedangkan instrumen tes kemampuan komunikasi ilmiah terdiri dari 8 soal uraian yang semuanya menunjukkan validitas butir dengan tingkat diferensiasi sangat baik namun reliabilitas item dan orang rendah (0,59 dan 0,61).Nilai Cronbach‑Alpha memperlihatkan kualitas interaksi antara peserta dan butir sebesar 0,92 untuk tes penalaran ilmiah (sangat baik) dan 0,64 untuk tes komunikasi ilmiah (rendah).Dengan demikian, tes SR‑CS yang menggabungkan kedua instrumen tersebut dapat dianggap valid dan reliabel untuk mengukur kemampuan penalaran dan komunikasi ilmiah siswa pada penelitian selanjutnya.

Penelitian selanjutnya dapat menguji keandalan dan validitas tes SR‑CS pada topik fisika yang lebih luas, seperti mekanika gelombang dan termodinamika, serta melibatkan sampel siswa yang lebih banyak dan beragam dari berbagai wilayah, untuk memastikan generalisasi hasil. Selain itu, diperlukan pengembangan lebih lanjut pada instrumen komunikasi ilmiah dengan menambah variasi item terbuka serta mengintegrasikan penilaian rubrik berbasis kriteria, sehingga reliabilitas orang dan butir dapat ditingkatkan di atas ambang yang saat ini tergolong rendah. Selanjutnya, sebuah studi longitudinal dapat dirancang untuk memantau perkembangan kemampuan penalaran dan komunikasi ilmiah siswa selama beberapa semester, sekaligus membandingkan hasil tes SR‑CS dengan model penilaian lain seperti Classical Test Theory, guna mengevaluasi keunggulan dan keterbatasan masing‑masing pendekatan. Penelitian‑penelitian ini diharapkan dapat memberikan panduan yang lebih komprehensif bagi pendidik dan peneliti dalam merancang instrumen asesmen yang efektif serta mendukung peningkatan kompetensi sains siswa secara berkelanjutan. Dengan melibatkan guru sebagai co‑peneliti, proses validasi dapat dilakukan secara kolaboratif, sehingga hasilnya lebih relevan dengan praktik pembelajaran di kelas.

Read online
File size242.61 KB
Pages10
DMCAReport

Related /

ads-block-test