STAINSTAIN

Jurnal Ilmiah Al-Syir'ahJurnal Ilmiah Al-Syir'ah

Penelitian ini menganalisis negosiasi identitas Islam melalui adaptasi tradisi masselle aseng (ritual perubahan nama) di komunitas minoritas Muslim Indonesia menggunakan kerangka fiqh al-aqalliyyat. Dengan pendekatan etnografi komparatif, penelitian dilakukan di tiga lokasi: Desa Teteuri, Luwu Utara (konteks mayoritas Muslim); Desa Bugis, Singaraja, Bali (minoritas Muslim di mayoritas Hindu); dan Desa Bugis, Ambon (pasca-konflik multireligius). Data dikumpulkan melalui informan, observasi partisipan, analisis dokumen, dan dialog antaragama. Temuan mengungkapkan model evolusi tiga tahap: Bentuk Murni dalam konteks homogen (Luwu), Fusi Sincretik melalui kolaborasi antaragama (Bali), dan Terjemahan Universalistik dengan kerangka netral (Ambon). Faktor demografis, kompatibilitas budaya, konteks historis, dan integrasi sosial perlu dipertimbangkan secara sistematis dalam strategi adaptasi. Validasi hukum Islam melalui prinsip urf sahih berkembang dari mekanisme internal ke otoritas kolaboratif yang melibatkan perspektif non-Muslim. Dinamika antaragama menghasilkan tiga model keterlibatan: pemisahan, kolaborasi aktif, dan netralitas diplomatik. Penelitian ini berkontribusi pada teori fiqh al-aqalliyyat melalui pengembangan kerangka autentisitas dinamis yang menempatkan adaptasi sebagai strategi bertahan yang canggih untuk mempertahankan kontinuitas tradisi sambil mencapai integrasi sosial.

Penelitian ini mengungkapkan temuan komprehensif sebagai berikut.Pertama, evolusi tradisi masselle aseng dari Luwu ke Bali dan Ambon mengikuti model tiga tahap.Bentuk Murni (bentuk asli dalam konteks mayoritas Muslim homogen), Fusi Sincretik (adaptasi kolaboratif dengan integrasi unsur-unsur Hindu), dan Terjemahan Universalistik (transformasi ke kerangka universal netral).Kedua, faktor demografis (persentase Muslim dalam populasi), kompatibilitas budaya (pandangan dunia agama yang sejalan), konteks historis (koeksistensi damai vs pasca-konflik), dan kebutuhan integrasi sosial secara multivariabel menentukan trajektori dan intensitas adaptasi di lintas konteks mayoritas-minoritas.Ketiga, validasi melalui urf sahih mengalami evolusi dari mekanisme internal (kriteria klasik.niyyah, maslahah, non-kontradiksi) ke otoritas kolaboratif yang melibatkan perspektif non-Muslim, dengan pengembangan kriteria tambahan untuk konteks minoritas.maslahah diplomatik, kemampuan terjemahan budaya, dan ketahanan komunitas.Keempat, interaksi antaragama menghasilkan tiga model transformasi.pemisahan (validasi homogen), kolaborasi aktif (kerjasama antaragama), dan netralitas diplomatik (navigasi hati-hati), yang mempengaruhi evolusi dari praktik homogen ke pluralistik melalui proses bidireksional yang memperkaya semua komunitas.Kelima, kontinuitas budaya dan autentisitas Islam dijamin melalui kerangka autentisitas dinamis yang mempertahankan elemen inti (filsafat spiritual, struktur otoritas, esensi prosedural) sambil menyesuaikan mekanisme pengiriman.Kerangka ini membuktikan bahwa adaptasi adalah strategi bertahan yang canggih yang memungkinkan tradisi berkembang di spektrum demografis yang beragam tanpa kehilangan integritas agama dan budaya.

Berdasarkan temuan penelitian ini, saran penelitian lanjutan yang baru adalah: (1) Menganalisis lebih lanjut bagaimana mekanisme validasi yuridis dari adaptasi tradisi ini dapat diterapkan di berbagai konteks minoritas Muslim di Indonesia dan di seluruh dunia, dengan mempertimbangkan faktor-faktor demografis, budaya, historis, dan sosial yang unik di setiap konteks. (2) Mengembangkan kerangka kerja yang lebih komprehensif untuk memprediksi pola adaptasi tradisi Islam di komunitas minoritas, dengan mempertimbangkan berbagai variabel seperti persentase populasi Muslim, kompatibilitas pandangan dunia agama, konteks historis, dan kebutuhan integrasi sosial. (3) Melakukan penelitian komparatif yang lebih luas tentang interaksi antaragama dan bagaimana hal itu mempengaruhi evolusi praktik keagamaan dari konteks homogen ke pluralistik, dengan fokus pada bagaimana komunitas minoritas Muslim dapat memanfaatkan interaksi ini untuk memperkuat identitas mereka sambil mencapai integrasi sosial yang harmonis.

  1. Accelerating motor adaptation by influencing neural computations | IEEE Conference Publication | IEEE... ieeexplore.ieee.org/document/1404126Accelerating motor adaptation by influencing neural computations IEEE Conference Publication IEEE ieeexplore ieee document 1404126
  2. Islamic Law and Local Traditions in Preventing Early Marriage in the Toraja Muslim Minority Community... journal.iain-manado.ac.id/index.php/JIS/article/view/2931Islamic Law and Local Traditions in Preventing Early Marriage in the Toraja Muslim Minority Community journal iain manado ac index php JIS article view 2931
  3. Capturing Lived Experience: Methodological Considerations for Interpretive Phenomenological Inquiry -... journals.sagepub.com/doi/10.1177/1609406920907254Capturing Lived Experience Methodological Considerations for Interpretive Phenomenological Inquiry journals sagepub doi 10 1177 1609406920907254
Read online
File size526.47 KB
Pages22
DMCAReport

Related /

ads-block-test