IAIN CURUPIAIN CURUP

AJIS: Academic Journal of Islamic StudiesAJIS: Academic Journal of Islamic Studies

Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi kinerja fiqh dan otoritas yang diperdebatkan, dengan fokus pada efektivitas peran mediator tunggal (pendekatan tingkat atas) dalam menangani isu fiqh di antara pihak-pihak yang berselisih. Berdasarkan tinjauan pustaka, penelitian ini berupaya untuk mengkaji sejauh mana peran mediator tunggal dapat terbukti efektif dalam menangani isu fiqh di antara pihak-pihak yang berselisih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Piagam Madinah memberikan kerangka kerja untuk membangun perdamaian dan harmoni di antara berbagai komunitas agama, dan bahwa konsep mediator tunggal sangat penting untuk mencapai tujuan ini. Artikel ini membahas ketentuan utama Piagam Madinah dan relevansinya dengan dunia modern, serta bagaimana peran mediator tunggal dapat membantu mempromosikan praktik keagamaan tanpa kekerasan dan penyelesaian konflik secara damai.

Penelitian ini menyimpulkan bahwa Piagam Madinah merupakan sumber konsep rekonsiliasi dan upaya perdamaian Islam yang relevan.Penggunaan pendekatan tanpa kekerasan oleh mediator tunggal (pendekatan tingkat atas) dalam menyelesaikan konflik, sebagaimana ditunjukkan oleh Nabi Muhammad di Madinah melalui Piagam Madinah, terbukti sangat efektif.Hal ini membantu membangun kehidupan sosial yang damai, mengatasi konflik-konflik lama, mengembangkan ikatan cinta di antara kelompok-kelompok yang berkonflik, dan merestrukturisasi kekuasaan politik yang penting untuk mengembangkan perdamaian yang berkelanjutan di Madinah.

Berdasarkan penelitian ini, beberapa saran penelitian lanjutan dapat diajukan. Pertama, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai bagaimana prinsip-prinsip Piagam Madinah dapat diterapkan dalam konteks penyelesaian konflik kontemporer, khususnya di negara-negara dengan keragaman agama dan budaya yang tinggi. Kedua, penelitian dapat difokuskan pada analisis komparatif antara pendekatan mediator tunggal dengan pendekatan mediasi kolektif dalam menyelesaikan konflik, untuk mengidentifikasi kelebihan dan kekurangan masing-masing pendekatan. Ketiga, penting untuk meneliti bagaimana peran perempuan dalam proses mediasi dan perdamaian dapat ditingkatkan, mengingat peran penting perempuan dalam membangun masyarakat yang damai dan inklusif. Dengan menggabungkan ketiga saran ini, diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan dalam pengembangan teori dan praktik perdamaian, serta membantu menciptakan masyarakat yang lebih harmonis dan berkelanjutan.

  1. Fiqh and Contested Authorities: Rethinking the Role of Sole Mediator in Building the Non-Violent Religious... journal.iaincurup.ac.id/index.php/AJIS/article/view/8594Fiqh and Contested Authorities Rethinking the Role of Sole Mediator in Building the Non Violent Religious journal iaincurup ac index php AJIS article view 8594
Read online
File size378.43 KB
Pages16
DMCAReport

Related /

ads-block-test