JPTAMJPTAM

Jurnal Pendidikan TambusaiJurnal Pendidikan Tambusai

Ruang sebagai wadah untuk beraktifitas. Pada masyarakat tradisional, aktifitas masyarakat selalu berkaitan dengan dua kegiatan yaitu yang bersifat sakral dan kegiatan yang bersifat profan. Dalam masyarakat Labalawa terdapat tradisi posuo. Penempatan kegiatan tersebut diklasifikasikan berdasarkan peran dan fungsinya yang bertujuan untuk menciptakan aktivitas ruang secara harmoni baik dengan lingkungan. Secara ringkas tulisan ini berusaha untuk memaparkan peran dan fungsi aktivitas ruang kaompu pada tradisi posuo masyarakat Labalawa. Ruang yang ditemukan tercermin pada komposisi dan formasi. Aktivitas pada kaompu berakar dari cerminan kehidupan yang berprinsip potutulungi atau saling tolong menolong, yang kemudian diajarkan dari generasi ke generasi. Peran dan fungsi kaompu menjadi ruang penghubung aktivitas sosial dalam tradisi posuo.

Adanya ruang kaompu di latar belakangi oleh pengalaman dan tradisi leluhur yang berpangkal pada kerangka prinsip dasar potutulungi atau saling tolong menolong.Pada tataran aktivitas ruang dalam landasan fundamental tentang upaya untuk memisahkan ruang-ruang yang bersifat komunal dengan ruang pada rumah yaitu privasi dari pemilik rumah.Dalam tataran praktis pusat aktivitas tradisi masyarakat Labalawa pada ruang kaompu memiliki peran dan fungsi ruang sosial yang dinamis yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat setempat.

Penelitian selanjutnya dapat menyelidiki bagaimana konfigurasi ruang kaompu memengaruhi kohesi sosial antara kelompok gender selama pelaksanaan ritual posuo, dengan menggabungkan analisis spasial, pemetaan partisipatif, dan wawancara mendalam kepada para pelaku. Selanjutnya, penting untuk meneliti dampak modernisasi serta perubahan struktur rumah tangga terhadap kelangsungan fungsi kaompu di Labalawa, melalui studi perbandingan antar desa yang mengalami tingkat urbanisasi berbeda serta mengkaji persepsi generasi muda terhadap tradisi tersebut. Selain itu, penelitian dapat mengeksplorasi makna simbolik instrumen musik tradisional seperti ganda dan mbololo serta tarian Linda dan Mincei dalam ruang kaompu, menggunakan wawancara etnografi, dokumentasi audio‑visual, dan analisis pertunjukan guna memahami cara budaya ini ditransmisikan kepada generasi berikutnya. Dengan pendekatan multidisiplin tersebut, diharapkan dapat diperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang dinamika ruang budaya dan faktor‑faktor yang mempengaruhi keberlangsungan tradisi. Hasilnya dapat menjadi dasar bagi kebijakan pelestarian budaya yang responsif terhadap perubahan sosial di komunitas Labalawa.

Read online
File size401.2 KB
Pages6
DMCAReport

Related /

ads-block-test