IAIN CURUPIAIN CURUP

AJIS: Academic Journal of Islamic StudiesAJIS: Academic Journal of Islamic Studies

Polarisasi dalam implementasi pemilu, terutama pada tahun 2024, memiliki dampak yang sangat berbahaya yang berpotensi menciptakan perpecahan antara etnis, agama, ras, dan antar kelompok. Salah satu upaya untuk mencegah hal ini dan meminimalkan dampak negatif adalah dengan menciptakan norma dari perspektif fiqh, mengingat bahwa mayoritas penduduk Indonesia adalah Muslim. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan etika pemilu dari perspektif fiqh untuk mencegah dan meminimalkan polarisasi dalam implementasi pemilu 2024. Dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif dan pendekatan literatur, peneliti akan mengumpulkan dan memeriksa data dari berbagai sumber tertulis untuk mencari etika pemilu dari perspektif jurisprudensial dalam mencegah polarisasi dalam pemilihan serentak 2024. Etika fiqh dalam mencegah polarisasi dibagi menjadi dua, yaitu etika universal dan etika parsial.

Etika fiqh dalam mencegah polarisasi terbagi menjadi dua, yaitu etika universal dan etika parsial.Etika universal meliputi menyusun motivasi yang baik, tidak melanggar aturan yang ada, menjaga nilai-nilai kemanusiaan, membawa manfaat dan menolak kerugian, serta bersikap adil.Sementara itu, etika parsial adalah taaruf, tafahum, tasamuh, taawun, mujjadi, dan takaful.Potensi keuntungan dari pencegahan dini polarisasi dalam pemilu 2024 meliputi menciptakan persatuan dan kesatuan bangsa, mengedepankan ide, menjaga nilai-nilai kemanusiaan, saling menghormati, saling mengenal, saling memahami, saling toleransi, saling membantu, berdiskusi, dan saling memberikan rasa aman.

Berdasarkan penelitian ini, terdapat beberapa saran penelitian lanjutan yang dapat dikembangkan. Pertama, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai efektivitas penerapan etika fiqh dalam mencegah polarisasi di berbagai tahapan pemilu, termasuk tahapan kampanye dan penghitungan suara. Hal ini penting untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan atau kegagalan penerapan etika fiqh. Kedua, penelitian dapat difokuskan pada pengembangan model komunikasi yang efektif untuk menyebarkan nilai-nilai etika fiqh kepada masyarakat, terutama kepada kelompok-kelompok yang rentan terhadap polarisasi. Model komunikasi ini harus disesuaikan dengan karakteristik masing-masing kelompok dan memanfaatkan berbagai saluran komunikasi yang tersedia. Ketiga, penelitian dapat dilakukan untuk mengkaji peran tokoh agama dan tokoh masyarakat dalam membangun kesadaran akan pentingnya menjaga persatuan dan kesatuan bangsa dalam menghadapi pemilu. Tokoh agama dan tokoh masyarakat memiliki pengaruh yang besar terhadap masyarakat, sehingga peran mereka sangat penting dalam mencegah polarisasi dan mempromosikan nilai-nilai kebangsaan. Dengan menggabungkan ketiga saran ini, diharapkan dapat memberikan kontribusi yang signifikan dalam upaya mencegah polarisasi dan menciptakan pemilu yang demokratis, jujur, dan adil di Indonesia.

  1. State and Political Polarization: Lessons from 1999 General Election | Muqoddima: Jurnal Pemikiran dan... journal.unusia.ac.id/index.php/Muqoddima/article/view/482State and Political Polarization Lessons from 1999 General Election Muqoddima Jurnal Pemikiran dan journal unusia ac index php Muqoddima article view 482
  2. Analisis Manifestasi Segragasi Politik Pelabelan dan Polarisasi di antara Kelompok Islam Sepanjang 2014-2019... ejournal.undip.ac.id/index.php/politika/article/view/29585Analisis Manifestasi Segragasi Politik Pelabelan dan Polarisasi di antara Kelompok Islam Sepanjang 2014 2019 ejournal undip ac index php politika article view 29585
Read online
File size342.59 KB
Pages13
DMCAReport

Related /

ads-block-test