NURSCIENCEINSTITUTENURSCIENCEINSTITUTE

Griya Widya: Journal of Sexual and Reproductive HealthGriya Widya: Journal of Sexual and Reproductive Health

Latar belakang: Aktivitas seksual pranikah di kalangan remaja merupakan masalah kesehatan masyarakat yang semakin meningkat di Indonesia. Remaja seringkali mengandalkan orang tua, guru, dan teman sebaya sebagai sumber informasi kesehatan reproduksi. Namun, pengaruh mereka terhadap perilaku seksual masih kurang dieksplorasi dalam survei nasional berskala besar. Studi ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara sumber informasi kesehatan reproduksi dan perilaku seksual remaja menggunakan data dari Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2017. Metode: Desain cross-sectional digunakan dengan pendekatan kuantitatif, melibatkan 10.643 remaja yang belum menikah berusia 15–24 tahun. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif dan uji Chi-square untuk menilai asosiasi antara sumber informasi (orang tua, guru, dan teman sebaya) dan perilaku seksual remaja. Hasil: Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara sumber informasi dari orang tua (p = 0,000), guru (p = 0,003), dan teman sebaya (p = 0,000) dengan perilaku seksual remaja. Implikasi: Penguatan komunikasi antara orang tua dan anak, mengoptimalkan peran guru dalam pendidikan kesehatan reproduksi, dan pemberdayaan kelompok sebaya dapat berkontribusi pada pengurangan perilaku seksual berisiko pada remaja.

Penelitian ini menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara peran orang tua, guru, dan teman sebaya sebagai sumber informasi kesehatan reproduksi dengan perilaku seksual remaja.Pentingnya peran orang tua dalam memberikan informasi yang tepat dan terbuka kepada remaja perlu ditingkatkan.Selain itu, guru juga memiliki peran penting dalam memberikan edukasi kesehatan reproduksi yang komprehensif dan akurat.Dengan demikian, pendekatan komprehensif yang melibatkan semua pihak terkait dapat membantu mengurangi perilaku seksual berisiko pada remaja.

Berdasarkan temuan penelitian ini, beberapa saran penelitian lanjutan dapat diajukan. Pertama, penelitian kualitatif dapat dilakukan untuk menggali lebih dalam mengenai bagaimana orang tua, guru, dan teman sebaya menyampaikan informasi kesehatan reproduksi kepada remaja, serta bagaimana remaja memaknai informasi tersebut. Kedua, penelitian longitudinal dapat dilakukan untuk menguji hubungan kausal antara sumber informasi dan perilaku seksual remaja dari waktu ke waktu. Ketiga, penelitian intervensi dapat dilakukan untuk mengembangkan dan mengevaluasi efektivitas program edukasi kesehatan reproduksi yang melibatkan orang tua, guru, dan teman sebaya dalam upaya mencegah perilaku seksual berisiko pada remaja. Pengembangan program edukasi yang melibatkan peran aktif orang tua, guru, dan teman sebaya, dengan pendekatan yang disesuaikan dengan karakteristik remaja, dapat menjadi strategi efektif untuk meningkatkan pengetahuan dan mengubah perilaku seksual remaja.

  1. Determinants of Sexual Behavior in Adolescent Girls Aged 15-19 Years Old in Indonesia | Jurnal Ilmiah... doi.org/10.36590/jika.v4i2.315Determinants of Sexual Behavior in Adolescent Girls Aged 15 19 Years Old in Indonesia Jurnal Ilmiah doi 10 36590 jika v4i2 315
  2. The Effect of Premarital Sex Prevention Education Modifying the Cublak-Cublak Suweng Game on Knowledge... journals2.ums.ac.id/index.php/jk/article/view/2933The Effect of Premarital Sex Prevention Education Modifying the Cublak Cublak Suweng Game on Knowledge journals2 ums ac index php jk article view 2933
  3. Hambatan Akses Informasi Kesehatan Reproduksi Pada Mahasiswa Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta... doi.org/10.23917/jk.v11i2.7532Hambatan Akses Informasi Kesehatan Reproduksi Pada Mahasiswa Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta doi 10 23917 jk v11i2 7532
Read online
File size333.65 KB
Pages8
DMCAReport

Related /

ads-block-test