STIKMKSSTIKMKS

Jurnal MitrasehatJurnal Mitrasehat

Latar belakang: Diabetes Melitus (DM) merupakan penyakit metabolik kronis yang prevalensinya terus meningkat di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Faktor demografi seperti usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, pekerjaan, dan riwayat keluarga berperan penting dalam kejadian DM. Puskesmas Ponre memiliki peran strategis dalam deteksi dini dan pengendalian DM di masyarakat.. Tujuan: Mengetahui hubungan karakteristik demografi dengan kejadian DM di wilayah kerja BLUD UPT Puskesmas Ponre.. Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan analisis data sekunder. Populasi penelitian adalah seluruh penderita DM di Puskesmas Ponre (n=441). Sampel ditentukan dengan metode simple random sampling menggunakan rumus Slovin, dengan 230 responden. Data dikumpulkan melalui wawancara dan kuesioner, kemudian dianalisis secara univariat.. Hasil: Mayoritas responden berada pada kelompok usia >60 tahun (43,5%) dan 51–60 tahun (29,6%), berjenis kelamin perempuan (82,6%), berpendidikan SD (65,7%), dan bekerja sebagai Ibu Rumah Tangga (79,6%). Seluruh responden berasal dari suku Bugis, sebagian besar berstatus kawin (96,5%), dan 60% memiliki riwayat keluarga DM.. Kesimpulan: Kejadian DM di wilayah kerja Puskesmas Ponre lebih dominan pada usia lanjut, perempuan, berpendidikan rendah, tidak bekerja formal, dan memiliki riwayat keluarga DM. Intervensi pencegahan dan pengendalian perlu difokuskan pada kelompok berisiko tinggi melalui edukasi kesehatan, peningkatan aktivitas fisik, skrining rutin, dan pendampingan keluarga.

Penelitian ini menunjukkan bahwa kejadian Diabetes Melitus di wilayah kerja Puskesmas Ponre didominasi oleh kelompok usia lanjut, perempuan, berpendidikan rendah, dan responden yang tidak bekerja secara formal.Sebagian besar responden juga memiliki riwayat keluarga dengan DM, mengindikasikan peran penting faktor genetik.Oleh karena itu, program pencegahan dan pengendalian DM perlu difokuskan pada kelompok berisiko tinggi melalui edukasi kesehatan, peningkatan aktivitas fisik, skrining rutin, dan pendampingan keluarga.

Berdasarkan hasil penelitian ini, beberapa saran penelitian lanjutan dapat dipertimbangkan. Pertama, perlu dilakukan studi lebih mendalam mengenai faktor-faktor perilaku seperti pola makan dan tingkat aktivitas fisik yang berkontribusi terhadap peningkatan risiko DM pada kelompok usia lanjut dan perempuan di wilayah Ponre. Kedua, penelitian kualitatif dapat dilakukan untuk menggali persepsi dan pengalaman pasien DM terkait akses layanan kesehatan dan dukungan sosial yang mereka terima. Hal ini akan membantu mengidentifikasi hambatan dan kebutuhan pasien yang belum terpenuhi. Ketiga, studi intervensi berbasis komunitas perlu dikembangkan untuk menguji efektivitas berbagai strategi pencegahan dan pengendalian DM, seperti program edukasi gizi, kelompok dukungan sebaya, dan peningkatan akses terhadap fasilitas olahraga. Penelitian-penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi yang lebih komprehensif dan relevan untuk merumuskan kebijakan dan program kesehatan yang lebih efektif dalam mengatasi masalah DM di wilayah kerja Puskesmas Ponre dan daerah sekitarnya.

Read online
File size241.62 KB
Pages8
DMCAReport

Related /

ads-block-test