ADPETIKISINDOADPETIKISINDO

Moderation | Journal of Islamic Studies ReviewModeration | Journal of Islamic Studies Review

Di kalangan para ulama, istilah gender masih sangat asing. Kesan pertama yang mereka tangkap tentang gender adalah istilah asing dan kebarat-baratan. Sebagian ulama bahkan mencurigai gerakan gender dan feminisme sebagai ideologi barat, orientalis yang bisa menghancurkan syariah Islam. Sejumlah aktivis perempuan mencari padanan istilah gender dalam bahasa Arab atau bahasa Indonesia, namun belum berhasil menemukan dan mengubah pandangan ulama yang apriori menjadi lebih simpatik. Kondisi ini dipicu oleh kesalahan yang dilakukan oleh kalangan feminis sekuler era 80-an. Mereka secara pukul rata menyalahkan agama sebagai salah satu penyebab ketertindasan perempuan. Sedangkan mereka tidak mempunyai argumentasi yang kuat dari sisi agama untuk mendukung pandangannya. Penelitian ini mencoba melihat peran ulama dalam membongkar pandangan ulama yang misoginis, sekaligus upaya ulama perempuan untuk merebut tafsir dan membangun pendidikan berbasis adil gender di pondok pesantren. Melalui metode penelitian library reseacrh penelitian ini ingin menunjukkan bahwa peran ulama perempuan berperan dalam membalikkan pandangan patriarki dan misoginis di kalangan pesantren sangat signifikan. Penelitian ini juga menyoroti berbagai upaya yang dilakukan ulama perempuan untuk mendobrak dominasi ulama laki-laki, merebut tafsir dan membangun pendidikan yang adil gender di kalangan pesantren. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan kebijakan pendidikan yang inklusif dan berkeadilan gender di masyarakat pada umumannya, dan di pondok pesantren pada khususnya.

Upaya sosialiasi gagasan kesetaraan dan keadilan gender berbasis pesantren telah menghasilkan hasil optimal, terlihat dari meningkatnya jumlah ulama, terutama ulama perempuan, yang memahami isu gender dan melakukan aksi konkret untuk membela perempuan.penyampaian wacana gender yang berlandaskan fakta sosial, kemampuan aktivis perempuan Muslim mengkritisi dan menafsirkan ulang teks keagamaan secara kritis, serta kesadaran yang semakin luas bahwa hak asasi manusia dan demokrasi merupakan pesan utama agama.Selain itu, dukungan program mainstreaming gender pemerintah dan instrumen hukum nasional maupun internasional masih menjadi faktor pendukung penting.

Penelitian selanjutnya dapat menyelidiki bagaimana keterlibatan ulama perempuan dalam pengembangan kurikulum memengaruhi hasil kesetaraan gender di pesantren, dengan melakukan studi kasus pada beberapa pesantren yang telah mengimplementasikan pendekatan tersebut. Selanjutnya, penting untuk mengeksplorasi persepsi siswa laki‑laki dan guru terhadap pengajaran adil gender yang disampaikan oleh ulama perempuan, serta bagaimana persepsi ini memengaruhi pelaksanaan praktik gender‑responsif di lingkungan belajar, menggunakan pendekatan metode campuran antara survei dan wawancara mendalam. Terakhir, dapat dirancang platform digital yang mendukung ulama perempuan dalam menyebarkan tafsir kritis gender dan sumber belajar ke pesantren terpencil, lalu dievaluasi dampaknya terhadap perubahan sikap patriarkal di kalangan santri dan tenaga pengajar, melalui penelitian berbasis desain dan uji coba lapangan.

Read online
File size319.91 KB
Pages8
DMCAReport

Related /

ads-block-test