UM MetroUM Metro

BIOEDUKASI (Jurnal Pendidikan Biologi)BIOEDUKASI (Jurnal Pendidikan Biologi)

Analisis profil logam berat Cd, Cr(VI), dan Pb pada lokasi berbeda di Provinsi Lampung serta bioakumulasinya pada tanaman pangan telah dilaksanakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan akumulasi logam di berbagai area pencemar dan menentukan bagaimana hal tersebut terjadi pada sayuran di sekitarnya, yaitu kangkung dan bayam. Metode penelitian yang digunakan adalah purposive sampling di empat lokasi berbeda di Provinsi Lampung, meliputi 1) dataran tinggi, 2) sawah, 3) pinggir jalan, dan 4) area industri. Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan bahwa konsentrasi logam Cd, Cr(VI), dan Pb tertinggi berada di area industri. Umumnya, nilai BCFo-w (0,12-2,00) lebih tinggi dibandingkan BCFo-s (0,01-0,18), yang menunjukkan rendahnya akumulasi logam Cd, Cr(VI), dan Pb pada kangkung dan bayam. Lebih lanjut, nilai BCF untuk Cd dan Cr(VI) lebih tinggi dibandingkan Pb.

Aktivitas industri terbukti berkontribusi besar terhadap keberadaan logam berat di lingkungan.Secara umum, nilai faktor biokonsentrasi dari air (BCFo-w) lebih tinggi daripada dari sedimen (BCFo-s), menunjukkan akumulasi logam berat yang cenderung rendah pada kangkung dan bayam.BCFo-w Cd dan BCFo-s Cr(VI) seringkali lebih tinggi, namun secara keseluruhan nilai BCF yang rendah mengindikasikan kemampuan bioakumulasi Cd, Cr(VI), dan Pb yang terbatas pada kedua tanaman pangan tersebut.

Penelitian lanjutan dapat menelusuri secara lebih mendalam tentang bagaimana tanaman kangkung dan bayam menyerap logam berat seperti Cd, Cr(VI), dan Pb ketika beberapa jenis logam ini ada bersamaan di tanah atau air. Penting untuk memahami apakah ada persaingan antar logam berat tersebut untuk diserap oleh akar tanaman, dan bagaimana persaingan itu memengaruhi berapa banyak masing-masing logam yang akhirnya masuk ke dalam tanaman. Misalnya, apakah keberadaan satu logam membuat tanaman menyerap logam lain lebih sedikit atau justru lebih banyak? Pemahaman ini bisa membantu kita mengetahui cara terbaik untuk mengurangi risiko logam berat dalam makanan kita. Selain itu, mengingat penelitian ini hanya melihat kondisi pada satu waktu, akan sangat berguna jika ada penelitian yang mengamati bioakumulasi logam berat ini dalam jangka waktu yang lebih lama. Penelitian tersebut dapat melihat bagaimana pola penyerapan logam berubah seiring musim atau jika tanaman ditanam terus-menerus di lahan yang tercemar. Hal ini akan memberikan gambaran yang lebih lengkap tentang risiko jangka panjang dari konsumsi sayuran dari daerah yang terkontaminasi. Terakhir, karena kangkung dan bayam menunjukkan akumulasi logam berat yang rendah, menarik untuk diteliti apakah ada jenis tanaman pangan lokal lain di Lampung yang memiliki kemampuan berbeda dalam menyerap logam berat ini. Dengan begitu, kita bisa menemukan jenis tanaman yang mungkin lebih aman ditanam di lahan yang berpotensi tercemar, atau bahkan menemukan tanaman yang bisa membantu membersihkan tanah dari logam berat (proses yang disebut fitoremediasi).

Read online
File size203.17 KB
Pages10
DMCAReport

Related /

ads-block-test