STIBAIEC JAKARTASTIBAIEC JAKARTA

JELL (Journal of English Language and Literature) STIBA-IEC JakartaJELL (Journal of English Language and Literature) STIBA-IEC Jakarta

Penelitian ini menganalisis ketepatan terjemahan kata budaya dalam film Indonesia Penyalin Cahaya (The Photocopier) dengan menggunakan teori kategori budaya Newmark, kerangka penilaian akurasi Nababan, dan strategi subtitel Gottlieb. Menggunakan metode kualitatif, studi ini mengidentifikasi dan mengklasifikasikan 40 data kata budaya ke dalam lima kategori: budaya sosial, budaya material, kebiasaan dan ide, ekologi, serta gestur dan kebiasaan. Temuan menunjukkan bahwa kata budaya sosial paling dominan (52,5 %), dan parafrase menjadi strategi subtitel yang paling sering digunakan (40 %). Penilaian akurasi mengungkap bahwa sebagian istilah budaya diterjemahkan secara efektif—misalnya kebaya dan protes mahasiswa—sementara istilah lain seperti Hari Kartini dan rawon mengalami mistranslasi, yang menyebabkan distorsi budaya. Hasil ini menekankan tantangan dalam terjemahan subtitel untuk istilah yang bersifat budaya khusus. Penelitian menyimpulkan bahwa terjemahan yang akurat dan berkesadaran budaya tidak hanya menjaga makna, tetapi juga meningkatkan pemahaman penonton lintas budaya. Kontribusi penelitian ini terletak pada pengembangan studi terjemahan audiovisual, khususnya dalam sinema Indonesia, dengan menekankan pentingnya integrasi strategi terjemahan dan sensitivitas budaya.

Penelitian ini mengkaji terjemahan kata budaya dalam film Penyalin Cahaya dengan menganalisis 40 data menggunakan kategori budaya Newmark, strategi subtitel Gottlieb, dan kerangka akurasi Nababan, yang menunjukkan dominasi kata budaya sosial (52,5 %) serta penggunaan strategi parafrase paling luas (40 %).Hasilnya mengidentifikasi bahwa meskipun beberapa istilah diterjemahkan secara akurat, istilah seperti Rawon dan Hari Kartini masih mengalami mistranslasi yang menghilangkan makna budaya penting.Penelitian menyarankan perlunya optimasi strategi subtitel untuk kategori kata budaya tertentu dan studi tentang penerimaan penonton guna meningkatkan kualitas terjemahan audiovisual.

Penelitian selanjutnya dapat menyelidiki bagaimana strategi subtitel spesifik—seperti parafrase, transfer, atau ekspansi—dapat dioptimalkan untuk masing‑masing kategori kata budaya (sosial, material, ekologi, dan lain‑lain) dalam film Indonesia, sehingga menghasilkan terjemahan yang lebih akurat dan kontekstual. Sebagai langkah lanjutan, studi tentang penerimaan penonton terhadap berbagai strategi subtitel dapat dilakukan dengan menguji persepsi, kepuasan, dan pemahaman penonton pada kelompok demografis yang berbeda, guna mengidentifikasi strategi mana yang paling efektif dalam menyampaikan makna budaya. Selanjutnya, pengembangan model prediktif atau pedoman praktis yang mengintegrasikan faktor linguistik, kultural, dan teknis dapat membantu penerjemah memilih strategi yang paling tepat untuk setiap istilah budaya, sehingga meningkatkan kualitas subtitel secara keseluruhan dan memperluas aksesibilitas film asing bagi audiens global.

  1. Vol. 3 No. 1 (2024): April : Jurnal Sosial Humaniora dan Pendidikan | Jurnal Sosial Humaniora dan Pendidikan.... doi.org/10.56127/jushpen.v3i1Vol 3 No 1 2024 April Jurnal Sosial Humaniora dan Pendidikan Jurnal Sosial Humaniora dan Pendidikan doi 10 56127 jushpen v3i1
Read online
File size317.37 KB
Pages12
DMCAReport

Related /

ads-block-test